Tatapan Eliana seketika berubah antara tidak percaya apa yang ia dengar dan senang karena tidak perlu mengatakan keresahan hatinya sejak tadi. Mata yang tadinya menatap ceria hanya untuk menutup kekecewaan, kini terbelalak tak percaya. “Bisa, El?” tanya Devan lagi karena Eliana hanya diam. Mulut Eliana tetap tidak menjawab dan hanya mengedipkan mata beberapa kali karena masih tidak percaya dengan ucapan Devan. Devan tersenyum melihat ekspresi Eliana lalu menyentil lembut keningnya. Eliana langsung tersadar dari tatapan ketidakpercayaannya. “Ah, maaf, Pak, aku melamun,” ucapnya. “Bagaimana? Apa kamu bisa mencarikan wanita yang mau berkencan denganku?" “Kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba Bapak ingin berkencan?” “Aku ingin mendekatkan jodohku dengan caraku, bukan dengan ritual.” El

