Nani mengedarkan pandangan untuk mencari Sita—wanita yang merasa paling cantik dan merasa hanya dia yang bisa menggaet bos-bos yang sering datang ke pemukiman ini untuk mencari pelampiasan hasrat, meskipun itu hanya sekelas bos angkot atau bos pabrik tahu. “Ke mana wanita sombong itu? Harusnya dia melihat aku dan si bule ini,” batin Nani. “Tante, bisa tolong lepaskan pelukannya?” pinta Devan yang sudah tidak tahan lagi dengan pelukan Nani. Nani memang melepaskan pelukannya, tapi malah mengaitkan tangan ke lengan Devan karena ia masih ingin terlihat mesra dan berharap musuh sekaligus teman seprofesinya bisa melihat tamunya hari ini. “Ibu!” teriak Eliana dari dalam rumah begitu melihat pria yang ia pikir masih sendirian di dalam rumah, ternyata sudah diriungi wanita-wanita yang tadi ia h

