Dekap hangat kehidupan desa tak pernah lekang oleh masa. Kabut pegunungan masih tipis menyelimuti atmosfer walau di siang hari. Gunung-gunung hijau meneduhkan pandangan, terik masih sanggup ditahan. Tawa matahari merengkuh jiwa-jiwa yang lemah. Warung kelontong selalu ramai di berbagai waktu. Ting! Seorang wanita berumur menekan bel di sisi warung yang ditinggalkan penjajanya saat siang. Mungkin sedang istirahat. “Nggih!” Bu Sri keluar dari dalam rumah berdindingkan oranye itu dengan tergesa. “Saya mau beli, Bu.” “Oh, ya. Mau beli apa?” “Beras dua kilo.” Warung kelontong Bu Sri termasuk bagian dari Desa Semanggi, namun posisinya berada di perbatasan antara tiga desa yang ada di Kapanewon Semanggi. Jadi, banyak warga luar desa yang berbelanja di sana. Bahkan wisatawan juga kerap bel

