Suara alarm menyeruak ke seluruh ruangan, memekikkan telinga. Tampak Kala sedang menggeliat dari balik selimutnya. Ia sedang meregangkan tubuh sekaligus mengembalikan nyawanya yang entah pergi ke mana selagi tidur setelah semalaman ronda. Bahkan di pagi yang cerah ini, kamar tampak gelap gulita. Gordyn masih tertutup rapat. Membatasi cahaya matahari. “Akhh!” Kala bangkit dari tidurnya. Meski tampak kusut, ketampanan Kala masih terlihat sempurna. Rambutnya tampak berantakan, seperti baru saja tersetrum. Pun matanya juga masih sulit sekali untuk terbuka sempurna. Daya magnetnya masih sangat kuat. Namun sebuah deringan dari ponselnya menjadi pemicu kesadaran Kala meningkat. Ia meraih ponsel di atas nakas. “Halo?” sapanya dengan nada serak. “Apa ini? Anak ibu baru bangun?” “Ey! Aku ada

