“Bunda!” Gara keluar dari kelas seni, berlari ke arah Dinan saat melihatnya dari kejauhan. Tampak wanita itu menggendong satu tote bag di satu lengannya. Gara tersentak. Ia meralat saat senyuman sang ibu semakin jelas di hadapannya. “Maksudku... Bu Dinan.” Dinan tertawa. “Kenapa, Gara?” Semenjak remaja itu bersekolah di tempat yang sama di mana sang ibu mengajar, ia selalu bertekad untuk tidak manja padanya. Di sekolah, Gara menganggap Dinan sebagai guru, bukan ibu, meski sejatinya Dinan tak mengajarinya seperti itu. Gara bertekad untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Pun sebagai ibu, Dinan sangat mengharagi keputusan itu dengan tidak memanjakan ataupun mengkhawatirkan putra semata wayangnya. “Lihat ini!” Gara menunjukkan satu mangkok keramik berukuran sedang yang telah diwarna canti

