Thirty Two

1209 Kata
New York City, Lower Manhattan, 21 Juli 2018 “Tenanglah, jangan menampakan kecurigaan,” bisik seseorang pada Ren. “Apa aku terlihat mencurigakan?” tanya Ren dengan tatapan kosong. “Ya, tersenyumlah. Kau wanita yang cantik,” ia membenarkan rambut Ren. “Jangan sampai ini gagal. Kita susah payah menemukannya,” sambungnya dengan penuh harap. “Menjauhlah dariku. Dia tidak akan mendekatiku atau melihatku jika kau berada di dekatku,” usir Ren dengan sedikit ketus. “Baiklah, aku akan mengawasimu dari jauh,” katanya dengan nada mendikte. “Ingat apa yang harus kaulakukan. Lakukanlah menurut rencana maka kau akan aman,” sambungnya lagi. Ia lalu menyalakan rokoknya dan menjauh dari hadapan Ren. Ren menatap lurus ke depan kepada seseorang yang diincarnya. Pria tampan yang meskipun sudah cukup tua. Ia bersama teman-temannya tengah bermain judi. Asap rokok tidak berhenti mengepul dari mulutnya dan sesekali ia meminum alkohol yang ada di depannya. Banyak anak buah di sana yang menemaninya. Pria itu bermata sipit dengan tubuh yang sedikit subur. Rambutnya sebahu dan berwarna sedikit keputihan. Ketika Ren tengah menatapnya, pria itu menoleh dan pandangan matanya bertemu dengan Ren. Ren langsung tersenyum semanis mungkin. Ia membalasnya dengan seringai nakal. Setelah pria itu membalikan pandangannya lagi, wajah Ren kembali menatapnya dengan tatapan tajam. Seperti tatapan seekor singa yang tidak ingin kehilangan mangsanya. Ia harus melakukannya dengan halus. “Tua bangka, kau menjalankan bisnis sialanmu, tetapi kau menghabiskan uangmu sendiri. Bukankah itu sama saja dengan pekerjaan sia-sia.” Ren menyipitkan matanya ketika tatapan tajamnya pada pria tua tadi terganggu. Seorang pria berdiri di samping tua bangka itu. “Itu adalah pekerjaan pria,” jawabnya sambil menatap pria muda yang tadi berdiri di sampingnya. “Sebaiknya kau simpan semua uang sialanmu itu untuk keperluan istri muda sialanmu dan simpananmu serta anak-anak sialanmu yang lain,” ucapnya dengan datar. Permainan di meja judi itu sempat terhenti karena kalimat dari pria itu. “Apakah itu urusanmu?” tanyanya dengan seringai nakal. Ia lalu mengisap rokoknya lagi kemudian mengembuskannya dengan santai. Semua yang ada di meja judi itu tetap berwaspada. Mereka sedang bermain judi. Mungkin saja akan ada sesuatu yang akan terjadi. “Aku sama sekali tidak tertarik. Aku tidak akan sepertimu, Berengsek,” jawabnya. Tua bangka itu kemudian berseringai lagi dan ia menoleh ke arah Ren. Pria yang tadi berbicara dengannya mengikuti pandangan mata ayahnya. “Dia calon ibu barumu. Aku akan mendapatkannya nanti,” senyumnya kembali kepada anaknya. Pandangan mata Ren dan anak tua bangka itu bertemu. Ren memperhatikannya dan tidak melepaskan pandangannya sekejap saja. Dia awas layaknya elang yang berburu mangsa. “Tidak. Sudah cukup kau memainkan wanita muda,” tentang anaknya. Ayahnya kemudian melanjutkan permainan judinya. Ia hanya tertawa mengejek. “Kau belum tahu rasanya. Cobalah untuk bermain. Mereka sangat segar. Jika kau mau, aku akan memberikan dia untukmu,” ucapnya. Ayahnya kemudian mendorong semua chip poker kepunyaannya ke meja judi. Pria itu menoleh lagi ke arah Ren. Diperhatikannya dandanan Ren. Memakai dress mini berwarna hitam pekat. Dadanya membuat pria yang melihatnya akan tergoda. Rambut bergelombang dan memiliki tubuh yang bagus. Kesimpulan yang didapatnya bahwa wanita itu cantik. Pria itu tahu selerah ayahnya bagus, tetapi ia bosan harus memiliki banyak ibu yang bahkan tidak ia kenal atau wanita simpanan ayahnya yang lain. Dia saja tidak tahu ibu kandungnya siapa. Yang ia tahu ketika ia tumbuh besar ia sudah bersama ayahnya. “Berikan dia kepadaku,” ayahnya langsung tersenyum dan menatap anaknya. “Bagus. Aku akan memberikannya untukmu. Aku tidak akan mengganggumu. Kau sama saja sepertiku,” tawanya kembali terdengar. Permainan judi masih berlangsung. Ren menatap pria yang kini juga tengah menatapnya. Ia tidak tahu mengapa pria itu menatapnya. Namun, ia harus mengabaikannya karena targetnya adalah pria tua bangka yang sedang bermain judi itu. Ia tidak boleh gagal atau ia akan mengalami hukuman. Meskipun Ren sangat membenci hukuman itu. Sebenarnya Ren jijik dengan apa yang ia lakukan. Ia jijik terhadap dirinya sendiri. “Hei wanita sialan, may I know you?” ucap pria tadi. Ia menghampiri Ren. “No,” jawab Ren singkat. “Why?” tanyanya lagi. Ren menatap pria itu dengan tajam. “That’s not your business,” jawab Ren dengan ketus. Mereka berbicara dalam bahasa Inggris karena ia melihat wajah Asia wanita tersebut, tetapi mereka berada di Amerika jadi dia harus menyapanya dengan bahasa Inggris. “Oh sepertinya aku mengganggumu,” ucapnya dengan santai. Ren menatap pria itu dengan tajam. “Minggirlah, aku tidak ada urusan denganmu,” usir Ren lagi. Tatapan Ren kembali tertuju pada pria tua bangka itu. “Kau mempunyai urusan denganku jika itu menyangkut tua bangka sialan itu,” ucapnya. Ren langsung menoleh cepat ke arah pria itu. “Ayahmu?” tanya Ren. Ia tidak tahu informasi itu. “Apakah aku mengatakannya kepadamu kurang jelas?” tanya Jeff Chen. Ren kembali menatapnya tajam. “Dia memberikanmu padaku. Dia tidak akan mengambilmu lagi jadi percuma kau menggodanya,” sambungnya yang lebih terdengar seperti paksaan. Ren mengertakan giginya. Rencana sedikit terganggu dengan kehadiran pria yang merupakan anaknya. Ren tidak pernah tahu jika pria tua bangka itu mempunyai anak yang sudah seumuran dirinya. Informasi yang ia cari dan ia terima tidak pernah mengatakan bahwa targetnya itu mempunyai anak laki-laki dewasa. “Ikutlah denganku. Aku akan membebaskanmu darinya.” Jeff langsung menarik tangan Ren untuk membawanya pergi. Ren berusaha melepaskan tangan Jeff yang begitu kuat menariknya. Ayah Jeff melihat itu dari meja judi dengan seringainya. “Lepaskan aku! Aku tidak mau!” Ren meronta sejadi-jadinya, tetapi Jeff cukup kuat kuat menarik Ren. Jeff membawa Ren keluar dari arena perjudian di hotel berbintang yang cukup tersohor itu. Salah satu casino terpopuler di New York City. “Dia begitu berbahaya untuk wanita muda sialan sepertimu! Aku hanya ingin menyelamatkanmu!” kata Jeff yang terus menarik Ren. Ren tidak bisa tinggal diam. Rencananya benar-benar gagal total. Agon tidak bisa membantunya begitu saja atau mereka akan ketahuan. Ren bisa mengatasi Jeff seorang diri. Ketika keluar dari area perjudian dan di tempat yang cukup sepi Ren langsung membalikan keadaan. Ia langsung menyerang Jeff. Jeff tidak menyangka jika Ren mempunyai ilmu bela diri. Jeff menghindar beberapa kali. Ia tidak cukup siap dengan serangan Ren yang begitu tiba-tiba. “Hei hentikan, Berengsek!” teriak Jeff terus menghindar. Ren tidak bisa tinggal diam, orang yang menggagalkan rencananya harus mendapat balasan darinya. Saat Ren baru akan menendang Jeff. Tiba-tiba ada benda terjatuh di dekat kaki Ren. Jeff langsung melihatnya dan ia menatap Ren dengan penuh tanda tanya. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Jeff pada Ren. Ren membulatkan matanya dan perlahan ia berjalan mundur. Identitasnya tidak boleh ketahuan. Ia harus segera pergi. Jeff langsung menarik tangan untuk menghentikan Ren yang ingin berlari. Bagaimana Jeff tidak mencurigai apa yang dilakukan Ren, wanita itu membawa pistol dan Jeff tahu jenis pistol yang digunakannya. Bukan sembarang orang bisa mendapatkan pistol jenis itu. Terlebih lagi Ren mempunyai keahlian bela diri dan kenyataan ia mendekati ayahnya. “Lepaskan aku! Atau kau akan aku bunuh!” teriak Ren sambil berusaha melepaskan tangan Jeff. “Tidak sebelum kau memberitahuku siapa dirimu. Siapa kau sebenarnya?” tanya Jeff. Ia memojokkan Ren ke dinding. “Sebaiknya kau jangan ikut campur, Sampah,” tepat saat itu Jeff pingsan. Agon memukul kepala Jeff dengan gagang pistol. Jeff langsung terkulai di lantai. “Sekarang cepat pergi. Ganti rencana,” ucap Agon pada Ren. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN