Thirty Three

1137 Kata
New York City, Tribeca, 23 Juli 2018 “Kau sudah siap?” tanya Agon melalui telepon. “Siap. Target sudah terlihat memasuki kamarnya,” jawab Ren dengan konsentrasi tinggi. “Bagaimana keadaan sekitar?” tanya Agon lagi. “Kecepatan angin normal, kelembaban udara juga baik. Ini posisi yang bagus,” jawab Ren. Ren melihat target dengan teleskop senapannya. “Target sedang bersama seorang wanita di dalam kamar hotel,” sambung Ren. “Lakukanlah dengan baik. Aku mengawasi target dari dekat kamar hotelnya. Hubungi atasan jika pekerjaanmu sudah selesai.” Agon kemudian menutup telponnya. Ren menarik nafasnya secara perlahan. Pekerjaannya memang sangat mengandalkan konsentrasi. Ia seorang penembak jitu (sniper) di organisasi rahasia di bawah pemerintahan luar negeri. Targetnya kali ini adalah Antony Chen. Salah satu pejabat di New York City. Ia mempunyai bisnis gelap penyelundupan obat-obatan terlarang, senjata ilegal, pekerja ilegal dan penjualan bayi. Bisnisnya ini sudah berlangsung selama beberapa tahun. Selain Antony Chen, dia juga mengantongi nama Dexter Wu sebagai target mereka. Ren dan Agon ditugaskan untuk membunuhnya. Rencana mereka memang memanfaatkan Ren sebagai umpan sekaligus sebagai pembunuhnya, tetapi rencana tersebut gagal karena kehadiran Jeff. Rencana mereka kembali ke awal dengan cara menembak Antony Chen dari jarak jauh dan itu adalah keahlian Ren. “Aku akan mengenai kepala kotormu itu,” desis Ren sambil membidik dengan teleskop senapan. Ren membidiknya dan bidikannya tepat di kepala bagian belakang targetnya. Targetnya itu tengah menghadap ke belakang. Ren mengikuti gerakan targetnya dengan pelan. “One shot, one kill,” ucap Ren. Itu adalah prinsip seorang penembak jitu. Satu tembakan membunuh satu nyawa. Tidak akan ada peluru yang terbuang sia-sia. Menjadi penembak jitu sudah digeluti Ren selama lima tahun dan masa pelatihan selama dua tahun. Total sudah tujuh tahun ia memegang senjata mematikan itu. Ren dilatih oleh badan rahasia dan memang dirancang untuk misi rahasia mereka. Pengalamannya sudah banyak meskipun usianya masih sangat muda. Mereka bisa memanipulasi semua hal termasuk pembunuhan kali ini pun bisa mereka arahkan sebagai pembunuhan dari organisasi lain. “Satu…” hitung Ren perlahan. “Dua…” seringai muncul di wajah Ren. “Adiós! (selamat tinggal dalam bahasa Spanyol)” ucap Ren sambil menarik pelatuknya. Ren menggunakan peredam suara tembakan dan ia menembak dari jarak dua kilometer dari atas gedung ke lokasi hotel. “Head shot!!” Ren tersenyum senang karena targetnya berhasil dilumpuhkan. Tembakan yang tepat mengenai kepala targetnya. Setelah menyelesaikan misinya. Ren cepat-cepat memasukan senapannya dan segera meninggalkan gedung tersebut. Ia lalu menghubungi atasannya bahwa misi sukses. Waktunya Ren dan Agon menjadi orang biasa dan tidak menimbulkan kecurigaan. Untuk memasuki gedung tersebut, Ren menyamar menjadi pembersih gedung dengan membawa banyak barang dan ia meletakan senjatanya di antara tumpukan barang agar tidak mencurigakan. ♚♛♜♝♞ Jeff memandangi mayat ayahnya yang masih tergeletak di kamar hotel. Polisi sudah mengamankan lokasi tersebut. Ia masih tidak percaya dengan kematian ayahnya. Wanita yang bersama ayahnya kini menjadi saksi. Ditemukan peluru yang menembus kepala ayahnya di dekat korban dan peluru itu juga hampir menembus dinding kamar hotel. Jeff tiba-tiba teringat dengan sosok Ren. Ia yakin sekali pembunuhan ayahnya ada sangkut pautnya dengan Ren. “Pelakunya seorang penembak jitu yang andal. Bukan orang sembarangan. Kemungkinan peluru ditembakan dari jarak yang cukup jauh.” Jeff mendengar polisi di depannya itu mengatakan kepada temannya. “Senjata yang digunakan juga bukan senjata biasa. Kaliber khusus 408 Cheytac. Salah satu senjata api paling mematikan di dunia. Jelas senjata yang digunakan adalah Cheytac Intervention M200.408,” ujar polisi itu sambil memperhatikan peluru yang telah mereka amankan. “Ada orang berbahaya seperti itu di New York. Mengerikan sekali,” kata polisi yang lain. Jeff segera keluar dari ruang kamar hotel. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Matanya jelas menunjukkan ia sedang sangat marah. Jeff marah dengan orang yang telah membuat ayahnya seperti itu. Meskipun Jeff membenci ayahnya, tetapi tetap saja ia telah membesarkan Jeff selama ini. “Ini pasti ada hubungannya dengan wanita sialan itu,” ucap Jeff sambil menuruni lift hotel dengan tergesa-gesa. “Jika aku tidak pingsan kemarin, aku pasti sudah tahu siapa dia sebenarnya,” sambung Jeff lagi. Ia terus melangkah keluar dari hotel. Ia harus mencari wanita yang dicurigainya kemarin karena firasat Jeff mengatakan bahwa memang wanita itu terlibat di dalam pembunuhan ayahnya. ♚♛♜♝♞ “Seperti biasa, kau selalu hebat melakukannya,” kata Agon sambil memberikan minuman kepada Ren. Ren menerimanya, tetapi tidak meminumnya. “Aku melakukannya karena tugas bukan karena kemauanku,” jawab Ren dengan suara dingin. Agon mengangkat kedua bahunya dan ia perlahan menyentuh wajah Ren. “Kemauanmu harus kau kesampingkan demi tugas,” jawab Agon sambil menyentuh wajah Ren. “Jangan menyentuh wajahku. Jangan pernah lakukan itu lagi,” kata Ren dengan sinis. Ia kemudian menepis tangan Agon. Dia tidak suka orang mana pun menyentuhnya. “Ren, sampai kapan kau bersikap seperti ini kepadaku?” tanya Agon dengan kecewa. “Kau tahu jelas aku menyukaimu. Kenapa kau tidak membukanya sedikit saja untukku?” tanya Agon. “Tidak akan pernah!” jawab Ren dengan ketus. “Tetapi kenapa? Berikan aku alasan!” Agon menuntut Ren. Selama ini ia tidak pernah tahu alasan Ren selalu menolaknya. “Aku tidak punya alasan dan jangan memaksaku untuk menyukaimu!” ketus Ren. Ren kemudian keluar dari bar tempat mereka berdua minum. Pikirannya saat ini sedang tidak baik dan Ren tidak ingin ada orang yang mengganggunya. New York City saat itu sedang musim panas. Ren melewati toko-toko kecil yang ada di pinggiran jalan. Ia butuh sendiri. Tidak ada seorang pun yang boleh mengganggunya saat ini jika perlu. Mengapa Ren butuh sendiri? Jawabannya karena ia sedang merasa sangat frustrasi. Frustrasi karena pekerjaan yang dilakukannya. Membunuh orang-orang yang bahkan Ren tidak kenal. Sudah beberapa tahun pertentangan batinnya itu muncul dan selalu seperti ini setiap kali ia selesai menembak targetnya. Ren, bukanlah nama aslinya. Namanya jauh lebih indah dibanding nama samaran tersebut. “Ren! Kau mau ke mana?!” Agon mengejar Ren yang berjalan cepat. “Bukan urusanmu!” jawab Ren ketus. Ia melanjutkan perjalanannya. “Hei Ren, kita akan kembali malam nanti ke San Francisco. Jangan berjalan terlalu jauh. Kau bisa ketinggalan pesawat.” Agon terus menyamai langkah kakinya dengan Ren. “Pergilah! Jangan ikuti aku!” ketus Ren sambil marah. Ia berhenti berjalan dan menatap tajam Agon yang saat ini menatapnya. “Kau keras kepala,” ucap Agon sambil terus menatap mata Ren. “Aku akan kembali ke hotel nanti. Jangan ganggu aku.” Ren membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan. “Baiklah dan hati-hatilah. Ingat siapa dirimu, mungkin kita sudah ketahuan,” pesan Agon sebelum Ren benar-benar menjauh. Ren tidak peduli seandainya ia tertangkap. Itu bahkan lebih baik karena Ren sendiri ingin berhenti dari pekerjaan kejam tersebut. Dirinya sudah berlumur begitu banyak dosa dan ia sendiri pernah hampir beberapa kali bunuh diri karena merasa terus bersalah dengan apa yang ia lakukan. Ren menghapus air matanya perlahan. Ia merindukan kehidupannya di panti asuhan sebelum ia diadopsi oleh orang-orang organisasi rahasia. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN