Thirty Four

1481 Kata
New York City, Markas FBI 26 September 2018 Theo masih mengawasi beberapa dokumen terkait peristiwa penembakan yang ia baca kemarin. Memang berita tersebut sudah dari satu setengah bulan yang lalu, tetapi ada hal mengganjal yang ia rasakan dari kasus tersebut. Theo tahu instingnya tidak salah mengatakan bahwa kasus ini sangat berkaitan erat dengan organisasi lain yang mereka belum tahu apa. Kasus masih terbuka, tetapi belum ditemukan bukti baru. “Theo, kau dari kemarin selalu sibuk dengan dokumen-dokumen itu,” kata Fabio dari mejanya. “Ya, ada hal menarik yang perlu aku pikirkan. Ada banyak hal yang mengganjal di kasus ini. Aku yakin ini masih berhubungan dengan organisasi rahasia. Aku curiga ini bukanlah ulah organisasi radikalisme dalam cara mereka melenyapkan orang. Ini terlihat tidak masuk akal atau aku yang terlalu banyak berhipotesa,” kata Theo sambil merapikan dokumen yang berantakan di mejanya. “Kau tidak meminta tolong detektif itu?” tanya Fabio penasaran. “Dia akan besar kepala bila aku memintanya. Lagi pula dia sepertinya tengah sibuk belajar bahasa Rusia. Aku tidak mau mengganggunya. Dia harus bisa belajar,” jawab Theo yang kali ini memasukkan semua dokumen ke dalam satu map. “Kau tahu, bahasa Rusianya bahkan lebih baik dariku sekarang.” “Tidak heran, dia punya ingatan kuat sepertiku. Belajar sebentar sudah bisa membuatnya mengalahkan orang pada umumnya.” “Aku penasaran sekali bagaimana kinerja otak kalian. Kalian sungguh luar biasa. Bolehkan kau memberikan sedikit otakmu padaku? Aku kadang membutuhkannya untuk berpikir.” Theo tertawa kecil. Fabio lebih suka bercanda dibanding teman-temannya yang lain. “Nanti akan aku wariskan bila aku sudah pusing dengan isi otakku.” Theo bangkit dari bangkunya. “Ayo kita makan siang di luar. Aku tiba-tiba ingin makan masakan Indonesia,” ujarnya mengajak Fabio setuju selama Theo menanggung makannya hari ini. ♚♛♜♝♞ “Sial! Siapa wanita sialan itu sebenarnya!” Jeff memukul setir mobilnya dengan kesal. Ia tidak memiliki informasi apa pun mengenai Ren. Jalanan macau cukup ramai menjelang malam. Pusat kota memang tidak pernah sepi dan itu membuat Jeff semakin frustasi. Ia tidak terlalu sedih kehilangan ayahnya karena memang Jeff tidak terlalu memiliki ikatan batin dengan ayahnya. Ia hanya marah, marah karena ia bisa melewatkan siapa yang telah membunuh ayahnya padahal pembunuh itu sudah berada di genggamannya. Saat Jeff sedang bersandar di setir mobilnya dan memperhatikan jalanan di depannya, ia melihat sosok Ren yang berjalan sendirian di pinggiran jalan. Ren mengenakan mantel coklat tua yang terlihat hangat dan sepatu boots hitam. Jeff tahu wajah itu, wajah yang ia lihat tadi malam. Cepat-cepat Jeff keluar dari mobilnya dan dengan terburu-buru ia mendekati Ren yang nampaknya sedang dalam pikiran kosong. “Aku tidak akan melepaskanmu kali ini,” ucap Jeff sambil menyeberangi jalanan yang ramai. Saat itu Ren memang ingin kembali ke hotel karena ia harus bersiap-siap untuk kembali ke negaranya. Sudah cukup hari ini Ren menenangkan dirinya. Agon sudah menghubungi Ren beberapa kali dan akhirnya Ren memutuskan untuk kembali. Tadi sewaktu di tempat makan Ren sempat menonton berita yang menyatakan telah ditemukannya warga negara asing yang tewas akibat pembunuhan dengan senjata api dari jarak ribuan meter. Polisi sedang mencari keberadaannya. Ren berusaha tenang dan seolah bukan dirinyalah pelaku penembakan itu. “Ikut denganku dan kau harus menjelaskan semuanya padaku!” Jeff langsung menarik tangan Ren dengan cepat. Ren langsung membulatkan matanya namun ia tidak ingin melawan karena melawan sama saja ia membongkar identitasnya di tempat umum itu. Jeff membawa Ren masuk ke dalam mobilnya. Jeff lalu melajukan mobilnya dengan kencang menuju suatu tempat. Ren diam tidak memberikan perlawanan. Ia ingin tahu apa yang akan Jeff lakukan kepadanya dan bicarakan kepadanya. Meskipun bagi Ren sangat mudah untuk mengalahkan Jeff, namun ia tidak ingin Jeff semakin mencurigainya. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Jeff pada Ren setelah ia menyetopkan mobilnya di pinggiran pantai. Mereka cukup jauh dari pusat kota. Jeff masih berbicara dalam bahasa Inggris kepada Ren. “Aku Ren Anezaki,” jawab Ren dalam bahasa Jepang. Jeff mengernyit heran. “Kau orang Jepang?” tanya Jeff kali ini dalam bahasa Jepang. “Siapa kau sebenarnya dan apa yang kau incar dari tua bangka itu?” tanya Jeff. Dilihatnya Ren diam sambil menatap lurus ke depan. “Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya wanita penghibur,” jawab Ren. Ia terus menatap lurus ke depan. “Baiklah kau wanita penghibur sialan, tetapi aku tidak mempercayainya. Wanita penghibur biasa tidak mungkin memiliki pistol seperti itu,” ucap Jeff. Ia terus melihat Ren yang tidak menatapnya. “Kecuali kau wanita penghibur yang dibayar untuk membunuh tua bangka itu,” sambung Jeff. Ren langsung menoleh dan perlahan tersenyum dengan tenang. “Apakah aku memiliki wajah pembunuh?” tanya Ren. “Wajah bisa menipu,” jawab Jeff. “Kau benar. Wajah memang bisa menipu,” jawab Ren dengan senyum liciknya. “Jadi kau adalah pembunuh tua bangka sialan itu?” tanya Jeff sambil terus menatap Ren tajam. “Jika aku memang membunuhnya, apa yang akan kau lakukan kepadaku?” tanya Ren. Ia membalas tatapan Jeff. “Tergantung dari tujuanmu mengapa kau membunuhnya,” jawab Jeff. Senyum Ren kembali tersungging. Ia lelah jika harus sembunyi terus menerus seperti ini. Memang ada kesenangan saat Ren menembak sasarannya. Namun hanya sesaat. Setelahnya ia merasa dirinya begitu kotor dan berdosa. Rasanya Ren ingin menangis dan membunuh dirinya sendiri. Pertentangan batinnya terus bergejolak, ia tidak pantas hidup seperti ini. Dirinya penuh dosa. “Kalau jawabanmu seperti itu, artinya aku tidak akan mengaku. Aku bukan pelakunya dan aku hanya membawa pistol sebagai pelindungku,” jawab Ren. Ia mengalihkan lagi tatapannya dari mata Jeff. “Kau pintar ilmu bela diri, kurasa itu cukup untuk melindungi dirimu sendiri. Mengapa harus memakai pistol. Kau bukanlah orang biasa, siapa kau sebenarnya?” tanya Jeff lagi. Ren kembali menatap Jeff. “Aku orang biasa,” jawab Ren lagi. Cukup berbahaya jika Ren mengatakan siapa dia yang sebenarnya. Terutama mengatakan siapa dirinya kepada anak orang yang telah dibunuhnya. “Mengapa kau membunuh tua bangka sialan itu?” tanya Jeff. Ia tidak percaya dengan pengakuan Ren. “Membunuh ayahmu? Bagaimana mungkin,” jawab Ren dengan tenang. “Pembunuhnya menggunakan senapan dan dilakukan dengan jarak jauh. Bagaimana aku bisa melakukannya. Aku bukanlah penembak jitu. Jangan mengada-ngada,” sambung Ren dengan tenang. “Dari mana kau tahu jika pembunuhnya adalah seorang penembak jitu?” tanya Jeff semakin curiga. “Beritanya sudah tersebar di telvisi. Bagaimana mungkin aku tidak tahu. Dia adalah orang yang menggodaku semalam,” jawab Ren dengan seringainya. Di dalam batin Ren ia ingin berteriak mengakui semuanya kepada Jeff. Ia ingin jujur, ia lelah melakukan semua ini. Tetapi rasa takut Ren terhadap organisasi itu juga memicuhnya untuk tetap diam. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain diam dan bersembunyi saat ini. “Sekarang antar aku ke hotel tempatku menginap. Aku harus segera pergi dari Macau,” ucap Ren yang menyadarkan Jeff. “Tidak, kau tidak akan pergi dari negara sialan ini,” Jeff melajukan mobilnya dengan kencang. Ren tersentak kaget. “Aku tahu kau ingin menghilangkan jejakmu. Itu tidak akan terjadi, b******k!” ucap Jeff yang terus melajukan mobilnya dengan kencang. Ren tidak ada pilihan lain. “Hentikan mobilmu sekarang juga atau aku akan menembakmu,” Ren menodongkan pistolnya di pelipis kepala Jeff. Jeff berseringai. Sudah ia duga Ren akan mengeluarkan pistolnya. “Silahkan bunuh saja aku. Kau juga akan mati bila membunuhku,” kali ini Jeff yang berkata dengan santai. Laju mobilnya terus melaju kencang. Mereka sudah hampir keluar dari Macau. “Kita akan tertabrak bersama-sama,” sambung Jeff. “Aku tidak akan ragu untuk membunuhmu. Jangan kau pikir aku akan takut,” ucap Ren sambil terus menodongkan pistolnya pada Jeff. Ren menekan mulut pistolnya di pelipis Jeff. “Jadi benar memang kaulah pembunuhnya. Kau sama sekali tidak ragu untuk membunuh dan takut. Artinya kau sudah terbiasa,” Jeff masih berusaha tenang. Ren semakin menekan mulut pistol di pelipis Jeff. “Berhenti berbicara. Ucapkan kalimat terakhirmu,” suara Ren sangat dingin. Jeff kembali berseringai. “Aku punya negosiasi denganmu,” ucap Jeff. Ren tidak mengendurkan pertahanannya. “Kau ceritakan siapa kau sebenarnya dan aku akan membebaskanmu atau kita berdua mati di sini,” sambung Jeff. Ren menatap Jeff dengan tatapan tajam. “Tidak akan. Aku lebih memilih mati!” ketus Ren. “Baik jika itu pilihanmu,” Jeff semakin menaikan kecepatan mobilnya. Di depan mereka saat ini ada mobil lain yang sedang berlawanan arah. Pegangan pelatuk pada pistol Ren mulai mengendur. Ia melihat Jeff yang tanpa ragu untuk menabrakan mobilnya pada mobil di depannya. Ren memejamkan matanya dan saat itu ia teringat dengan semua yang telah ia lakukan. Ia yang meninggalkan panti asuhan,teman-temannya yang berada di panti asuhan, bertemu dengan pimpinan organisasi rahasia itu, masa pelatihan yang keras, mendapatkan tugas pertamanya untuk menembak orang, rasa bersalahnya dan rasa frustasinya. Semua itu melintas dibayangan Ren. “Hentikan!!!” teriak Ren. Ren langsung melemparkan pistolnya dan ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jeff dengan cepat menurunkan kecepatannya dan berjalan di jalur yang benar. Ia melihat Ren yang kini menangis. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN