Thirty Five

1381 Kata
“Jadi kau akan mengakui semuanya padaku?” tanya Jeff sambil berkacak pinggang. Mereka sudah berada di perbatasan antara negara Macau dan China. Keduanya keluar dari mobil dan memilih untuk duduk di pinggir jalan. “Apa yang perlu aku akui kepadamu?” tanya Ren sambil memanjangkan kakinya. Jeff berdiri di depannya. “Siapa dirimu?” tanya Jeff. “Apakah begitu penting?” tanya Ren pada Jeff. Tepat saat itu ponsel Ren berbunyi. Ia melihat Agon memanggilnya. “Aku tidak akan membiarkanmu kemana pun sebelum kau mengatakan siapa kau sebenarnya,” Jeff menggambil ponsel Ren dan mematikannya. Ren menatapnya tidak suka. “Kembalikan ponselku! Jangan bersikap kurang ajar kepadaku! Aku bisa saja melukaimu!” ancam Ren. “Hanya akui siapa dirimu sebenarnya! Apa tujuanmu membunuh tua bangka sialan itu dan terlibat organisasi apa kau sebenarnya!” Jeff membentak Ren. Urat-urat di wajah Ren menegang. Jeff tidak mudah percaya dengan pengakuannya. Ia memang masih mencurigai Ren. Jeff menatap Ren dengan marah. Wajahnya memerah dan urat-urat lehernya mengencang. Ia marah karena tidak berhasil juga mengetahui siapa Ren. Ia marah karena ia mencurigai Ren namun tidak bisa membuktikan apa pun jika Ren adalah pembunuh ayahnya. Namun ia sangat meyakini jika Ren terlibat dalam kasus ini, itulah mengapa Jeff sangat marah. Dingin terus menusuk. Januari adalah saat musim dingin sedang mengalami peningkatan. Hembusan angin semakin membekukan kulit tubuh mereka. Jalanan dilalui oleh beberapa mobil yang berlalu lalang menuju antar negara. Uap putih keluar dari mulut Ren. Rasa dingin yang ia tahan. Di depannya saat ini Jeff masih terus menatapnya dengan tatapan marah. Hatinya cukup sakit menerima bentakan dari Jeff namun Ren rasa ia pantas mendapatkannya karena apa yang disebutkan Jeff memang benar. Siapa dirinya yang sebenarnya, batin Ren. “Segeralah pergi dari sini dan tinggalkan aku. Mereka bisa melacak keberadaanku dan menemukanku. Pergilah, jangan sampai kau terlibat dan menjadi target mereka,” pinta Ren dengan memohon kepada Jeff. Benar dugaan Jeff, Ren memang bukanlah orang biasa. Dia pasti terlibat dalam satu organisasi karena dilihat dari cara bela diri Ren dan juga senjatanya. Namun yang sekarang menjadi pertanyaan Jeff adalah, apakah benar Ren yang telah membunuh ayahnya? “Tidak sebelum kau mengakui semuanya,” ucap Jeff bersih keras. Ren menarik nafasnya lalu menghembuskannya. Uap putih kembali keluar dari mulutnya. Tekanan batinnya benar-benar sudah tidak terbendung. Apakah ia harus mengakui semuanya kepada Jeff, kepada anak orang yang telah menjadi targetnya? “Bawa aku pergi dari sini dan aku akan menceritakan semuanya. Tetap matikan ponselku,” Ren akhirnya memutuskan. Jeff segera membuka mobilnya dan menyuruh Ren masuk. “Kemana kau ingin aku membawamu?” tanya Jeff pada Ren. “Ke tempat yang paling aman,” jawab Ren. Ia menatap jalanan yang sudah mulai gelap. Jeff akhirnya membawa Ren ke rumahnya. Sebenarnya itu bukan rumah Jeff, itu rumah ayahnya. Di daerah yang cukup jauh dari pusat kota. Jeff memberikan minuman kepada Ren. Ren sudah duduk di sofa depan televisi rumah Jeff, ia melihat Jeff kini menatapnya lagi. Rumah Jeff adalah yang paling aman karena pasti organisasi itu tidak terpikirkan jika Ren berada di rumah target mereka. ❄❄❄ “Jadi siapa kau sebenarnya?” tanya Jeff. Dilihat Jeff jika Ren menarik nafasnya dalam-dalam. “Kau pernah mendengar agen rahasia yang sering menyamar dan memasuki suatu negara untuk menyelidiki atau untuk menangkap target?” tanya Ren. Jeff mengangguk. “Ya, aku sering menontonnya di banyak film,” jawab Jeff. “Jadi kau agen rahasia?” tanya Jeff. Ia menyimpulkan dari perkataan Ren. “Benar, aku memang agen rahasia. Kami dibawah perintah intelegen luar negeri. Ayahmu termasuk dalam daftar orang yang sangat berbahaya. Kau jelas tahu apa yang dilakukan oleh ayahmu selama ini. Menyelundupkan senjata ilegal, penjualan bayi ilegal, obat-obatan terlarang dan sebagainya, bisnis prostitusi, pencucian dana. Dia sudah menjadi target kami selama hampir tiga tahun ini. Aku dan rekanku diutuskan untuk membunuhnya. Karena pihak kepolisian Jepang sudah bergerak untuk memburunya namun mereka gagal karena banyaknya sekutu ayahmu yang membantu. Pemerintah Jepang memutuskan untuk meminta bantuan kepada kami. Jadilah kami yang mendapat tugas itu,” ucap Ren panjang lebar. Jeff nampak terpekur menatap lantai marmer rumahnya. Pantulan wajahnya di lantai menunjukkan raut yang sulit untuk Ren deskripsikan. Ren menghela nafasnya perlahan. Ia siap menghadapi apa yang akan Jeff lakukan kepadanya jika saja terjadi hal buruk. Tapi sampai beberapa saat Jeff hanya diam. “Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan, sialan?” tanya Jeff. Ren sedikit menatap Jeff heran. Kenapa Jeff bertanya seperti itu. Tidak ada perkataan lain yang ingin dikatakannya? “Aku tidak tahu,” jawab Ren. Ren memang tidak tahu. Di satu sisi ia ingin berhenti dari dunia gelapnya itu, namun di sisi lain ia tahu akan banyak resiko yang mengejarnya karena keputusannya itu. Apalagi ia sekarang terlibat bersama Jeff, anak dari targetnya. “Bagaimana denganmu? Apakah kau akan melanjutkan bisnis ayahmu?” tanya Ren langsung. Ia tidak suka berbasa basi. “Kau sudah tahu jawabannya. Kau bisa membaca raut wajah orang,” jawab Jeff berseringai. Ren mengangguk. Pekerjaan Ren juga dilengkapi dengan pengetahuan psikologi. Ia akan tahu dari raut wajah seseorang tanpa menunggu jawabannya. “Aku tidak ingin kembali ke sana. Aku ingin bebas seperti manusia biasa,” ucapan itu tiba-tiba meluncur dari bibir Ren. Jeff menatap Ren yang kini juga sedang menatapnya. Di dalam mata Ren seperti ada begitu banyak perasaan yang tidak pernah terungkap. Mata itu menunjukan kesedihan, kesepian, kehilangan, kekecewaan, penderitaan dan hal buruk yang lain. “Maksudmu?” tanya Jeff. “Tidak, aku tidak mengatakan apa pun,” Ren langsung mengalihkan pertanyaan Jeff. “Berikan ponselku. Aku seharusnya sudah di bandara saat ini,” sambung Ren. Jeff mengernyit heran. Ren ingin pergi begitu saja setelah apa yang ia lakukan kepada ayahnya. Tidak ada cerita yang lebih mendetail mengenai mengapa Ren melakukan semua ini. Mengapa ia mau menjalankan tugas berbahaya seperti ini. Jeff tidak rela jika Ren pergi karena ia merasakan ada sesuatu di diri Ren yang terpendam. Membunuh bukan kemauan Ren. Jeff tahu itu. Ia masih ingin menuntut banyak pertanyaan pada Ren. “Hei urusanmu denganku belum selesai. Kau tidak bisa pergi begitu saja. Jangan kau pikir karena kau adalah seorang agen rahasia dan ditugaskan untuk membunuh tua bangka sialan itu, kau bisa bebas begitu saja!” Jeff berkata dengan tajam. “Ini tugas dan perintah. Aku harus pergi dari sini sekarang juga,” jawab Ren. Ia menatap Jeff yang berdiri di depannya. “Tidak! Kau tidak bisa pergi begitu saja!” balas Jeff. “Jangan menguji kesabaranku. Aku bisa saja membunuhmu sekarang. Lepaskan aku, ini juga untuk kebaikanmu. Kau tentu akan menjadi target mereka berikutnya jika kau berurusan denganku!” ucap Ren. “Aku tidak perduli. Bagaimana pun mereka pasti akan tahu siapa aku!” jawab Jeff. “Tidak! Jangan membahayakan dirimu. Aku yakin mereka tidak tahu siapa kau. Mereka tidak tahu jika kau anaknya. Sekarang lepaskan aku, kita tidak akan pernah bertemu lagi setelah ini. Aku akan merahasiakan tentang dirimu dan kau rahasiakan tentang diriku!” Jeff masih menatap Ren dengan tajam. “Kau akan membunuh lagi?” tanya Jeff dengan raut wajah yang sulit Ren terjemahkan. “Itu adalah tugas. Aku harus melaksanakannya,” jawab Ren. Suara Ren sedikit bergetar ketika mengucapkan perkataan itu. “Kau lucu! Aku tahu apa yang kau rasakan. Itu bukan kemauanmu! Kau ingin meninggalkan duniamu itu!” Jeff menahan Ren yang berdiri di depannya. Ia mencengkram erat lengan tangan Ren. Jeff mengucapkan dengan tepat apa yang Ren rasakan. Meninggalkan dunia yang dirasa Ren sangat gelap tersebut. Benar, memang sangat ingin ia meninggalkannya. Bagaimana Jeff bisa tahu hal tersebut. Apakah aktingnya sama sekali buruk dalam menyembunyikan perasaannya itu kepada orang-orang sampai ada yang bisa mengetahuinya tanpa Ren memberitahukannya. “Sudah kukatakan, jangan menguji kesabaranku! Lepaskan aku sekarang!” Ren langsung memukul Jeff. Ia harus cepat-cepat pergi dari rumah Jeff. Jeff langsung pingsan dalam sekali pukulan Ren. Ren memukul Jeff tepat di belakang kepalanya. Titik vital yang sangat berbahaya. Ren dalam keadaan panik. Di satu sisi ia tidak ingin menyakiti Jeff dan di sisi lain ia harus menyakiti Jeff. Ren tidak ingin menyakiti Jeff karena Ren tahu, Jeff adalah orang baik dan Ren tidak ingin Jeff menjadi target seperti ayahnya. Lebih baik Ren segera pergi dari sana dan Jeff tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Cukup ia yang tahu siapa Jeff dan cukup Jeff yang tahu siapa dia. Karena seharusnya hati orang baik tidak perlu ikut kotor. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN