Las Vegas, Chinatown, 14 Agustus 2017
Langit sudah gelap saat keduanya sampai di Chinatown, tepatnya di Spring Mountain. Tempat itu cukup ramai dari luar. Beberapa orang baru masuk ke dalam tempat makan itu. Tulisan besar dengan huruf kanji dan juga alfabet tertulis jelas di papan besar. Gedung itu berwarna krem sedikit tua namun karena penerangan dari lampu yang keemasan, warnanya berubah menjadi kecoklatan. Gedung itu bertingkat tiga, dua lantai atas merupakan hunian pemilik.
“Jangan membawa senjata!”
Jea sekali lagi mengingatkan sebelum keduanya turun dari mobil. Sang detektif mengeram kesal namun dia menyelipkan revolver di saku bajunya. Jangan pikir dia akan tunduk dengan polisi wanita itu. Dunia akan melaknatnya jika itu benar-benar terjadi.
“Keh, tidak buruk untuk tempat makan murahan seperti ini,” ucapnya saat memasuki rumah makan milik keluarga Azalea.
“Silakan berkata sesukanya, tapi jika kau sudah mencicipi masakan keluarga kami. Kau boleh membungkam mulutmu itu,” jawabnya sambil lalu. Dia kemudian disambut oleh pelayan yang sudah sangat dikenalnya.
“Nona muda, selamat datang!”
“Hei Nora, bisa kau siapkan satu meja untuk temanku?” tanyanya. Kata-kata terakhirnya itu sungguh sangat berat untuk diucapkan. Kenyataannya mereka sama sekali tidak berteman.
“Baiklah, meja sembilan sedang kosong. Silakan ke sana.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Jea menuju meja sembilan yang berada di pinggir ruangan. Tempat duduk itu bersebelahan dengan jendela yang menghadap jalan. Sang detektif mengikutinya berjalan menuju meja. Ruangan di dalam itu cukup besar dan ramai. Beberapa lukisan khas China terdapat di dinding. Ada juga beberapa ornamen khas lainnya. Di sana banyak orang yang berbicara dalam bahasa Mandarin dan juga Inggris.
“Silakan pesan apa pun yang kau mau. Aku akan menemui orangtuaku dan makan bersama,” ucapnya sambil meninggalkan meja.
“Dasar wanita tidak sopan meninggalkan temannya seorang diri,” jelas kata-kata itu digunakan untuk menyindir Jea. “Duduklah di sini, aku akan memastikan bahwa pemilik rumah makan ini berada di sini supaya mereka tidak meminta bayaran padaku.”
“Aku akan mengatakan pada pelayanku agar kau tidak perlu membayar. Sekarang silakan pesan menunya dan biarkan aku makan malam bersama keluargaku!”
“Bukankah kita teman, sebagai teman, rasanya tidak pantas membiarkanku makan seorang diri di sini.”
“Kita tidak berteman! Ok!”
“Kekeke, dasar penjilat ludah sendiri. Padahal kau duluan yang menyebutku temanmu.”
“Terserah apa katamu!”
Jea segera berlalu dari sana dan berjalan ke belakang lalu menaiki tangga melingkar. Dia menyapa beberapa pelayan yang ditemuinya. Jelas wajahnya terlihat kelelahan ditambah detektif gila itu membuat masalah padanya. Tiba di lantai dua, Jea melihat kakak serta kakak iparnya tengah membantu ibunya membereskan meja.
“Xia Liu, kau baru pulang. Apa di sana hujannya deras sekali?”
“Iya Ma, hujan deras sekali di sana dan taxi hampir semuanya penuh,” jawab Jea sambil mengambil gelas lalu minum. “Aku akan mandi sebentar setelah itu baru makan,” ujarnya sambil berjalan ke kamar.
“Kami akan menunggumu selesai. Jangan mandi terlalu lama, kakak iparmu sudah kelaparan.”
Itu suara Evan, kakak tertuanya. Dia pria yang tampan dengan senyum ramah di wajahnya. Istrinya adalah wanita Brazil yang sangat manis. Dulu kedua orang itu bertemu di acara fashion show, keduanya adalah model dan sekarang mereka memiliki usaha brand fashion yang mereka buka dua tahun yang lalu. Sesekali mereka masih bekerja sebagai model catwalk. Sebenarnya kedua kakaknya itu tinggal tidak jauh dari rumah orangtua mereka, hanya berjarak beberapa blok, namun mereka sering main dan membatu orangtua mereka berjualan dan makan malam bersama seperti sekarang ini.
Lain dengan Azalea yang sekarang tengah membersihkan diri di kamar mandinya, lain pula dengan sang detektif yang kini tengah duduk santai. Ia memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Jelas tujuan utamanya di sini bukan hanya untuk makan. Namun ada yang lebih penting dari itu. Di sana memang lebih banyak orang-orang Asia yang bukan sekedar makan namun juga melakukan pertemuan bisnis. Las Vegas merupakan kota judi jadi tidak mengherankan banyak bisnis di sini, terutama bisnis perjudian. Dan di antara orang-orang yang melakukan bisnis perjudian, ada orang-orang licik di dalamnya. Itulah yang tengah ia selidiki kali ini. Sang detektif sangat menyukai judi. Dia sering bermain judi dan belum pernah kalah.
Baru-baru ini ada kasus yang dikirimkan kepadanya melalui email. Kasus makelar judi yang telah menipu puluhan orang dan dia tengah kabur untuk bersembunyi. Menurut penelusuran sang detektif dan beberapa data yang ia peroleh, makelar itu orang Asia dan tinggal di Hongkong. Dia sering pulang pergi Macau-Las Vegas untuk berjudi dan melakukan penipuan. Sang detektif sudah melacak semuanya termasuk tempat makan yang sering ia kunjungi. Semua bisa ia dapatkan hanya dengan meretas akun sang makelar judi. Mengetahui agenda apa yang akan ia lakukan. Dan hari ini ia tengah mengawasi sang makelar judi yang tengah makan bersama beberepa orang. Ya, restoran yang sering ia datangi itu adalah milik keluarga Azalea. Agar tidak dicurigai tujuannya, sang detektif memaksa Jea untuk mengajaknya makan di sana. Dan dia akan memastikan gadis itu kembali ke meja sesaat lagi.
“Maaf menunggu lama, ini pesanan Anda, Tuan.”
Pelayan-pelayan itu meletakkan pesanan sang detektif di meja makan. Setelah selesai ia kemudian mengambil ponselnya lalu revolver yang ia sembunyikan. Setelahnya ia memfoto revolver itu di atas meja makan dan mengetik beberapa baris kata di ponselnya. “Kekeke, sebentar lagi kau akan datang ke sini.”
Jea baru selesai mandi serta berpakaian saat suara pesan masuk di ponselnya berbunyi. Dari nomor yang tidak dikenal. Dibukanya pesan itu dan matanya langsung melebar seketika.
Kau tentu tidak ingin mendengar suara letusan senjata di tempat sialan ini. Jadi, kemarilah dalam lima menit, kekeke!
“Sialan!”
Jea cepat-cepat menyisir rambutnya yang masih basah dan langsung menuruni tangga. Kakaknya memanggil namun Jea mengabaikannya. Dia tahu detektif itu serius akan melakukan ucapannya. Dengan kekesalan yang mengubun Jea mendekati sang detektif yang tengah makan dalam keseriusannya.
“Kau b******k!” ucapnya dengan kesal, untung orang-orang tidak mendengar ucapannya itu.
“Duduklah dan makan denganku,” jawabnya santai.
“Apa maumu! Aku sudah menuruti permintaanmu! Dan kenapa kau masih membawa senjata. Kau juga berniat mengancam orang!”
“Cih, ingin kuledakkan sekalian pita suara sialanmu itu. Kekeke, pasti menarik sekali melihatnya.”
“Aku tidak sedang bercanda! Apa maumu!” suaranya agak meninggi.
“Kekeke, kau wanita yang tidak sabar. Duduklah, aku ingin bicara.”
“Bicara saja sekarang! Aku akan mendengarnya!”
“Aku sedang makan, aku tidak bisa bicara terburu-buru. Duduklah dan makan.”
“Aku akan makan dengan keluargaku!”
“Keh, katakan pada mereka jika kau makan denganku di sini.”
“Tidak bisa!”
“Kalau seperti itu biarkan aku makan malam bersama keluargamu.”
Azalea hampir tidak mempercayai pendengarannya saat kalimat itu keluar dari mulut sang detektif. Dapat dilihat oleh sang detektif jika wajah polisi wanita itu kesal sekaligus marah. Dia menyeringai sambil melirik ke arah belakang Jea. Dapat dilihatnya target melirik ke arah mereka. Tentu dia memasang wajah seolah dia hanya tidak sengaja bertatapan dengan sang target. Dilihatnya sang target juga berbisik-bisik dengan teman-teman lainnya. Nampaknya mereka tengah membicarakan polisi cantik di depannya ini.
“Tidak akan!” jawab Jea dengan kesal. Ia lalu menyodorkan tangannya ke arah sang detektif. “Berikan senjatamu. Aku tidak akan percaya jika kau yang memegangnya.”
“Kuberikan kau tiga pertanyaan. Jika kau bisa menjawab benar semuanya, kau boleh mengambil senjataku, bagaimana? Kekeke,”
“Aku tidak punya waktu bermain denganmu. Jadi cepat serahkan sebelum kesabaranku habis.”
“Aku lebih memilih melihat kesabaranmu habis,” jawabnya dengan seringai jahat. “Kekeke, duduklah di sini. Ada yang harus aku beritahu padamu,” ujarnya setelah puas membuat sang polisi kesal.
“Detektif....”
“Atau kau lebih memilih mendengar suara tembakan di sini. Duduklah,” ucapnya setelah memotong perkataan Azalea. Dan dengan berat hati sang polisi menuruti permintaan sang detektif. Dengan wajah yang terlihat amat jelas penuh kekesalan. “Kau boleh mulai makan sekarang.”
“Aku akan makan dengan keluargaku, apa kau lupa!” kesalnya lagi.
Ck! Dia mendecih pelan. “Baiklah akan kumulai apa yang akan aku katakan padamu,” ujarnya sambil menyilangkan kaki dan tangan. “Apa kau tahu tempat makanmu ini sering dijadikan tempat pertemuan bisnis?”
Azalea mengernyit heran mendengar pertanyaan itu. Tapi dia ingin mempersingkat waktu agar secepatnya bisa makan malam bersama keluarganya. “Ya aku tahu.”
“Apalagi yang kau ketahui tentang itu?”
Kerutan bertambah satu lagi di dahi Azalea. “Memangnya aku perlu tahu urusan mereka dengan detail? Itu mengganggu privasi.”
“Kusimpulkan kau tidak tahu mendalamnya,” ujarnya dengan seringai yang masih sama. Menyebalkan. “Di sini sering terjadi pertemuan bisnis judi....”
“Aku tahu, Las Vegas surga judi, jadi tidak mengherankan. Aku memakluminya,” potong Jea.
“Oh kau benar,” katanya masih menyeringai. “Kekeke, lalu bagaimana jika kukatakan di sini juga ada makelar judi yang tengah kalian cari. Ingat kasus makelar judi yang telah menipu banyak orang?”
Azalea mengingat-ingat beberapa laporan yang sering masuk ke kantor polisi dan ingatannya terhenti saat ia mendapatkan sesuatu. “Makelar judi yang menipu pengusaha dari Dubai dan dia sulit dilacak karena tengah melarikan diri?” tanya Jea dengan hati-hati.
“Tepat!” jawabnya. Mata Jea membulat dan ia segera memperhatikan sekitar. “Diamlah, kau bisa menimbulkan kecurigaan.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanyanya bersemangat.
“Itu gunanya kau di sini,” ucap sang detektif menyeringai kembali. “Kekeke, bisa kau menyuruh salah satu pelayan sialanmu untuk menyediakan minum gratis. Akan kumasukkan obat bius ini ke minuman b******k itu, kekekek!”
“Tapi kau benar-benar yakin itu pelakunya?” tanya Jea dengan ragu.
“Ingin aku menembak kepalamu karena meragukan kemampuanku, kekeke.”
“Baiklah, bagaimana caranya agar minuman gratis bisa aku berikan kepadanya?”
TBC...