Thirty Seven

1470 Kata
New York City, Civic Center, 1 Oktober 2018 Hari ini Theo dan Nicholas akan memulai latihan militer pertama mereka. Bagi Theo hal tersebut merupakan hal yang cukup biasa. Sewaktu pertama kali masuk FBI dia juga melakukan serangkaian latihan berat. Termasuk harus tahu bagaimana cara menjinakkan bom, menerbangkan pesawat, dan banyak hal lain yang bahkan tidak pernah Theo bayangkan akan ia lakukan di dalam hidup. Bagi Nicholas hal ini luar biasa, pasalnya dia benar-benar payah bila harus melakukan serangkaian latihan bela diri. Dia sangat payah dalam hal tersebut. Dia lebih suka menembak musuhnya dibanding hanya mematahkan tulang mereka. Bukan hanya hal tersebut yang merepotkan, keduanya harus memulai kelas peran yang amat sangat menyebalkan. Kedua orang yang memiliki sifat keras serta tidak suka diatur tersebut harus melakukan rangkaian latihan peran yang akan mendukung mereka. Ini hal yang paling tidak Theo sukai. Namun, dia melakukannya juga meskipun terpaksa. “Aku ingin sekali membawa senjataku ini. Sayang sekali orang-orang sialan itu tidak mengizinkannya,” keluh Nicholas sambil mengelus-elus senjatanya yang harus ditinggal di markas FBI. “Kenapa kau lebih memilih senjata laras panjang?” tanya Theo yang telah siap dengan tas latihan yang akan mereka bawa ke pusat latihan FBI. “Karena menyenangkan melihat orang-orang ketakutan,” jawabnya tanpa pikir panjang. “Kau krisis percaya diri sampai harus membawa senjata tersebut untuk membuat orang takut padamu dengan benda sialan itu,” komentar Theo jujur. “Setidaknya benda sialan ini pun bisa membunuhmu meskipun krisis percaya diri itu selalu mengejek di belakang,” jawabnya tidak kalah jujur. “Kau cukup membunuh mereka dengan kata-katamu yang sama tajamnya dengan benda itu,” kata Theo lagi-lagi memancing keributan. “Hal tersebut sepertinya juga berlaku untukmu,” jawabnya sambil mengelus kembali senjata kesayangannya yang harus ia tinggal untuk beberapa saat. Travis masuk datang sendirian kemudian Bill menyusul lima menit kemudian. Ia melihat kedua rekannya tengah duduk santai sembari bermain ponsel. Entah Theo sibuk dengan apa dan begitu pula Nicholas. Sepertinya mereka tengah mengetik banyak pesan perpisahan. “Ayo bersiaplah, kalian berdua sudah dijemput.” Theo van Kuiken dan Nicholas Song mau tidak mau memang harus menghadapi hari ini. Keduanya menyerahkan ponsel untuk ditahan. Mereka tidak boleh membawa ponsel selama pelatihan. Memang merepotkan, tetapi mereka akan terbiasa. “Ingatlah janjimu,” kata Theo kepada Bill sambil menepuk pelan punggungnya. Bill mengangguk kecil. Arnold Lewis sudah menunggunya di depan bersama beberapa petinggi. “Menyebalkannya aku belum pernah mencoba menembak kepala orang di sini. Sepertinya aku harus menunggu setelah tiga bulan lagi,” keluh Nicholas sembari menutup jendela mobil tanpa mengindahkan lambaian tangan rekan-rekannya. Theo menatap mereka satu demi satu. “Setelah latihan selesai kau bisa menembak banyak kepala manusia sepuasmu,” jawab Theo sambil memejamkan matanya. “Kepala Arnold sialan itu akan menjadi yang pertama,” jawabnya ikut memejamkan mata. Saat keduanya memejamkan mata, banyak yang mereka pikirkan. Sama-sama memiliki pemikiran yang rumit, keduanya bergelut dengan isi otak mereka sendiri. Saling bercakap antara berdiskusi dan kadang saling bertentangan dengan pemikiran mereka sendiri yang kadang tidak sejalan. Theo memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa melewati hari-harinya yang berat tanpa kedua kucing dan anjingnya. Lalu dia memikirkan bagaimana Güliz akan kebingungan karena tidak dapat menghubunginya. Kedua kucing dan anjingnya ia percayakan kepada pengurus binatang yang sudah kompeten untuk mengurus mereka. Ia menitipkan mereka untuk sementara waktu. Sepulang dari misi berbahaya ini mungkin jika dia selamat, dia akan menceritakan semuanya kepada Güliz dan Zara siapa dia sebenarnya. Rasanya tidak adil membuat mereka bertanya-tanya ke mana dirinya hilang selama ini. Bila dia tidak selamat, Bill yang akan mengambil alih cerita tersebut untuk disampaikan kepada mereka. Dia juga memikirkan tentang bagaimana mereka akan menjalani peran yang sangat menjijikkan. Tidak terbayang di benak Theo akan sekacau apa mereka menjalani peran tersebut. Dia benci harus membuat ikatan batin kepada Nicholas yang lebih sering tiba-tiba membongkar rahasia yang ia simpan selama ini. Tidak heran mengapa pria itu tahu, dia detektif yang memiliki insting kuat untuk mencari semua cela di kehidupan manusia. Berbeda dengan Theo yang lebih memikirkan kehidupan yang sedikit manusiawi, Nicholas justru memikirkan bagaimana cara membunuh orang jahat sebanyak-banyaknya. Dia memikirkan strategi untuk membunuh mereka semua dengan cara serapi dan sesenyap mungkin. Dikorek-koreknya beberapa ingatan tentang kasus yang ia tangani. Hanya ada satu kasus yang tidak bisa ia pecahkan dan membuatnya bingung. Kasus itu memakan penyelidikan selama berbulan-bulan dan berakhir buntu. Dia merasa dia sangat payah waktu itu. Dia juga menghafal setiap jalanan yang ia lalui. Di tengah perjalanan ia membuka mata dan melihat Theo masih memejamkan matanya. Dia tahu Theo tidak tidur karena pernapasannya berbeda. Dia juga melihat bola mata Theo bergerak dalam kelopak matanya. “Apakah menurutmu organisasi radikal ini tahu kita tengah menyelidiki mereka?” tanya Nicholas tiba-tiba. Theo tidak membuka matanya, tetapi napasnya ia embuskan perlahan. “Kurasa belum, jika pun tahu maka tugas kita membuat mereka untuk tidak terbaca terlalu jelas.” Theo membuka matanya lalu melirik Nicholas yang juga tengah meliriknya. “Kenapa kau bertanya tentang pendapatku? Bukankah kau bisa tahu apakah mereka tahu mengenai misi kita. Kau detektif,” ejeknya. Nicholas tertawa dengan tidak tulus. “Aku hanya ingin tahu pendapat orang sepertimu yang katanya sangat cerdas. Apakah aku salah?” ejeknya. “Aku sedang malas berbicara padamu,” jawab Theo mematakan obrolan mereka. “Hei, boleh aku pinjam pistolmu? Aku ingin menembak kepalanya!” kata Nicholas kepada pengawal yang mengantar mereka. Sang pengawal menggeleng tegas. “Kupastikan kau akan mendapat balasannya.” Theo tidak peduli dengan apa yang dikatakan Nicholas. ♚♛♜♝♞ Ren baru selesai mandi ketika ia merasa ada yang tidak beres di dalam apartemen kecilnya. Ia sigap mengambil pistol di bawah bantal dan pisau di dalam laci mejanya. Ia masih mengenakan handuk ketika mengendap perlahan untuk mengetahui ada apa di balik pintu kamarnya. Ren melihat ada bayangan seseorang yang terlihat dari celah bawah pintunya. Bagaimanapun Ren harus menghadapi orang tersebut dan sialnya dia belum sempat memakai pakaian. Dia memutuskan untuk menuju lemari pakaian, mengambil seadanya tanpa sempat mengenakan pakaian dalam. Persetan dengan hal tersebut, nyawanya sedang terancam. Ren bersembunyi di belakang pintu dan bersiap menyerang, tetapi kejadian berikutnya membuat ia melonggarkan pertahanannya karena suara Agon terdengar memanggil namanya dengan berbisik dari balik pintu. Ren membuka pintu dengan raut wajah kesal bukan kepalang. Bagaimana tidak kesal karena pria itu masuk ke apartemennya dengan mengendap-endap. “Aku baru saja berniat membunuhmu, sialan!” umpat Ren yang kini menyimpan kembali pistol serta pisaunya. “Hei, dengarkan aku! Kau harus segera pergi dari sini. Aku mendapat laporan FBI sudah berhasil mendapatkan identitas kita dan tahu mengenai kita!” ucapnya dengan tergesa-gesa. “Maaf soal masuk tempatmu secara mengendap-endap. Aku melihat mereka di sekitar apartemenmu.” Ren mengembuskan napasnya lalu mulai mengambil tas kecil yang ia isi dengan berbagai perlengkapan. Tidak banyak barang yang ia bawa. Hanya beberapa paspor dengan berbagai identitas dan juga negara. Lalu beberapa peluru dan juga senjata cadangan. Tidak lupa ia ke kamar mandinya untuk memakai pakaian dalam. Ren tidak lupa menyemprotkan berbagai parfum di seluruh ruangan agar aroma tubuhnya tersamarkan. Dia tahu FBI mungkin akan menggunakan anjing pelacak untuk mencari identitasnya. “Bisakah sedikit lebih cepat?” tanya Agon dengan tidak sabaran sambil melihat ke jendela untuk mengawasi. “Aku sudah siap!” ucapnya yang kini memakai jaket lalu menggendong tasnya. “Keluarlah lewat belakang, mobilku ada di belakang. Ini kuncinya, aku akan menyusulmu lima menit kemudian. Kau menyetir,” ujarnya sambil terus mengawasi pejalan kaki yang bisa saja mencurigakan. “Baik,” jawabnya menurut. Meskipun ia tidak menyukai Agon, tetapi bukan berarti ia tidak menuruti perintahnya untuk menyelamatkan diri. Ren menuruni tangga apartemennya dengan hati-hati dan ia melihat penjaga yang tengah mengobrol di depan bersama temannya. Ren dengan perlahan membuka pintu belakang apartemen yang memang terkunci. Ia membukanya dengan bantuan dua kawat kecil. Hanya butuh hitungan detik untuknya membuka pintu tersebut. Ren menutupnya dengan pelan kemudian berjalan beberapa meter untuk mencari mobil Agon. Setelah menemukannya, Ren masuk lalu melihat keadaan sekitar. Ia melihat ada seorang pria yang berjalan mendekat dengan keadaan mabuk. Ren bersembunyi di bawah setir mobil. Ia menunggu selama beberapa saat sampai pria itu melewati mobil Agon. Beberapa menit kemudian, Agon datang dan langsung masuk ke mobil. Ren menjalankan mobil dengan perasaan was-was. “Mereka kemungkinan tidak tahu kita pergi,” kata Agon sambil memasang sabuk pengaman. “Kita menuju Tarrytown. Kita akan lewat darat menuju New Jersey. Memutar jauh untuk memastikan kita aman,” sambungnya sambil mengambil senjata yang ia simpan lalu meletakkannya di dalam dashboard mobil. “Bagaimana kalau mereka tahu? FBI tidak sebodoh dugaan kita. Pasti mereka akan tahu,” kata Ren sembari membelokkan mobil ke tikungan. “Maka kita akan membunuh mata-mata yang mengawasi kita.” Ren terdiam. Ia menatap jalanan New York City yang cukup sepi di daerah pinggiran. Dia memang menghindari daerah keramaian karena meminimalisir kemungkinan mereka ditemukan. Di dalam pikirannya mungkin saja Jeff Chen memberitahu identitasnya kepada FBI karena bagaimanapun dia adalah pembunuh dari ayah pria tersebut. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN