Ukraina, Kiev, 1 Oktober 2018
Banyak orang berlalu lalang di sekitaran gedung empat tingkat berwarna merah bata yang keberadaannya tidak terlalu mencolok. Terlihat seperti gedung biasa dan tidak ada yang istimewa tentangnya. Bahkan terlihat beberapa sarang burung menempel di sekitar jendela. Seperti gedung tidak terurus dan berpenghuni.
Lantai satu gedung merupakan sebuah toko baju biasa yang dijaga oleh seorang wanita muda dan pria muda. Baju-baju di sana terlihat tidak terlalu menarik sehingga toko tersebut cukup sepi. Sepertinya sengaja dilakukan seperti itu agar tidak banyak orang yang ingin memasukinya.
Dan yang boleh melakukan akses lebih hanyalah mereka yang diundang atau yang berkepentingan saja yang dapat masuk.
Namun, saat memasuki lebih dalamnya, ada pemeriksaan yang sangat ketat. Dijaga empat orang pria berbadan besar yang wajahnya menyeramkan. Jangan berharap menemukan senyum di sana. Semua senjata, ponsel, jam tangan, dan segala macam barang elektronik disita saat memasuki tempat tersebut. Bila tidak mengikuti aturan mereka maka siap-siaplah untuk dihajar atau bahkan dilenyapkan oleh mereka.
Nikolas Magnar masuk ke tempat tersebut dengan sedikit tergesa-gesa. Pagi yang cukup dingin di musim gugur itu tidak terlalu cerah. Nikolas melewati pemeriksaan untuk masuk meskipun ia telah biasa masuk ke tempat tersebut dan penjaga mengenali wajahnya. Setelah masuk ia membuka pintu kayu yang di depannya dijaga lagi oleh orang bersenjata. Senjata laras panjang tersampir di bahu mereka dan juga pistol di pinggang mereka. Ia melangkah masuk setelah mendapat izin. Saat masuk ke sebuah ruangan lagi, ia melihat ruangan besar dengan akses komputer yang sangat banyak. Beberapa pekerja di sana tengah sibuk mengutak-atik komputer. Ada yang tengah meretas, membuat program, mengawasi gedung dengan kamera sisi televisi, dan masih banyak lagi.
“Apakah Sergey sudah datang?” tanyanya.
“Ada di dalam,” jawab salah seorang pria yang tengah mengawasi sisi televisi.
Nikolas tanpa menunggu lama langsung menemui Sergey. Sergey yang tengah merokok sembari meminum vodka menoleh ke arah Nikolas yang terburu-buru menutup pintu.
“Maaf mengganggumu, ada hal penting yang ingin aku sampaikan,” ucapnya sambil menarik kursi untuk duduk di depan Sergey.
Sergey merupakan pria paruh baya yang penampilannya necis dengan rambut putih dan mata biru. Tubuhnya bertato di bagian kedua lengan hingga pergelangan. Ia juga bertubuh tegap serta atletis. Dia yang mengurus masalah keamanan organisasi mereka.
“Kuharap itu bukan berita mengenai orang kita yang ditangkap polisi,” katanya sambil mengembuskan asap rokok ke udara.
“Lebih dari itu,” jawabnya ikut menuangkan vodka ke gelas kecil. “Ada CIA yang mengawasi kita.”
“Itu bukan hal baru,” jawabnya dengan santai. “Mereka akan selalu mengawasi kita. Mata mereka di mana-mana.”
“Aku tahu, tetapi kudengar mereka tidak menurunkan satu atau dua orang. Ada banyak orang. Bahkan kudengar FBI ikut turun tangan. Kasus kematian Anthony Chen membuat penyelidikan mereka menyebar.”
“FBI? Mereka ikut campur urusan internasional? Bukankah wilayah mereka hanya di Amerika?”
“Itulah sebabnya aku memberitahumu. Kau harus berwaspada dengan musuh yang tidak terduga seperti mereka.”
“CIA jauh lebih berbahaya dibanding FBI. Mereka mengumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk dilaporkan ke pemerintahan mereka dan FBI memiliki wewenang tidak penuh di luar wilayah kekuasaan mereka. Kita punya beberapa CIA yang bekerja untuk kita di sini.”
“Aku hanya ingin menyampaikan hal tersebut kepadamu. Kuharap kau sebagai kepala keamanan organisasi kita bisa bertindak sebaik mungkin.” Sergey mengangguk sambil meminum vodka yang ia minum dalam sekali teguk.
“Ngomong-ngomong kau tahu dari mana kabar tersebut?” tanya Sergey yang kali ini merokok.
“Adikku di Amerika. Dia bercerita padaku mengenai banyak hal. Kematian Anthony Chen membuat dampak yang sangat besar bagi Amerika. Dia dikenal sebagai pria kaya yang cukup berpengaruh di Amerika. Media di sana masih mengusut kasus kematiannya.”
Nikolas menatap mata biru Sergey yang terlihat sayu. Dia mengonsumsi narkoba dan beberapa obat-obatan terlarang lainnya. Tidak heran sinar di matanya redup. Bagi mereka narkoba bukanlah barang yang luar biasa karena hampir setiap hari mereka memakainya.
“Adikku tidak ada hubungannya dengan organisasi kita. Dia hanya pekerja biasa dan bercerita kepadaku selayaknya kakak dan adik.” Nikolas menegaskan bahwa Teressa tidak ada hubungannya sama sekali dengan organisasi.
“Kau menganggapku sangat kejam sampai aku harus melibatkan adikmu padahal dia tidak tahu apa pun.” Sergey tertawa mengejek. “Aku tahu kau akan membunuhku atau menghancurkan organisasi bila aku melakukannya. Kau salah seorang yang tahu seluk beluk organisasi kita dan aku menghormatimu,” katanya penuh dengan nada tidak suka.
“Bisa saja panah itu berbalik kepadaku. Kau bisa membunuhku kapan saja kau mau, Sergey,” ucapnya penuh penekanan.
♚♛♜♝♞
Sudah enam minggu lebih Theo dan Nicholas menjalani pelatihan. Tubuh Theo semakin berisi dengan otot. Dia yang awalnya lebih kurus dari sekarang terlihat lebih meyakinkan sebagai agen dan juga garis wajahnya lebih tegas. Nicholas yang memang suka berolahraga tidak terlalu berubah pada fisiknya. Hanya saja pria itu selalu mengeluh setiap hari selama menjalani pelatihan bagai di neraka. Nicholas memang payah, hanya otaknya saja yang cerdas dan suka mengandalkan senjata saat menggertak orang.
“Aku ingin membunuh mereka semua,” kesalnya sambil melempar handuk ke sembarang arah. Dia juga membanting dirinya di ranjang besi yang kasurnya tidak senikmat di apartemennya.
“Kau akan mati lebih dulu sebelum kau bisa membunuh mereka,” jawab Theo yang menyingkirkan handuk Nicholas dari wajahnya. Theo melemparkan handuk tersebut ke tubuh Nicholas. “Sepertinya aku yang akan lebih dulu membunuhmu,” kesalnya atas sikap semena-mena Nicholas.
“Tidak heran bila wanita yang dari kotamu itu tidak peka pada perasaanmu,” ejeknya sambil melemparkan handuk ke lantai. “Kurasa dia sudah punya kekasih saat kau kembali nanti.”
“Setidaknya itu lebih baik dibanding kau meninggalkan wanita yang mencintaimu entah kau akan pulang dalam keadaan bernyawa atau tidak,” balas Theo sambil berbaring di kasurnya. Kasur mereka terpisah jarak dua meter di dalam ruangan sempit yang hanya punya satu jendela kecil.
“Aku akan hidup, kupastikan itu,” jawab Nicholas sembari menutup wajahnya dengan bantal. Ia sangat bosan tidak memiliki hiburan di tempat pelatihan. Hidup tanpa ponsel dan internet serta tidak tahu mengenai perkembangan dunia luar membuatnya benar-benar mati kutu.
Theo mengikuti Nicholas yang berniat tidur, tetapi matanya tidak bisa berkompromi. Tubuhnya lelah setelah mengikuti latihan, tetapi tidak dengan pikirannya. Justru ia merasa bisa tidur sambil berpikir. Terdengar dengkuran halus milik Nicholas yang menandakan dia telah tertidur lelap. Theo mendudukkan tubuhnya lalu memeluk bantal. Ia tiba-tiba teringat dengan kedua kucing dan anjingnya. Apa kabar mereka sekarang dan apakah mereka masih mengenali Theo ketika pulang nanti. Theo juga rindu dengan paman dan bibinya. Mereka pasti bertanya-tanya mengapa dia tidak menelpon dalam waktu lama.
Theo memutuskan untuk melihat ke luar jendela. Hanya lapangan kosong di malam hari yang sunyi dan suasana gelap. Dia membuka jendela dan disambut udara yang mulai memasuki musim dingin. Theo menghirup udara tersebut perlahan hingga memenuhi paru-parunya yang terasa penuh. Dia melihat langit malam yang bertabur bintang, terlihat jelas dari tempat latihan. Seandainya dia punya kekuatan super, dia akan terbang malam ini ke Indonesia untuk melepas rindu. Sungguh ia merasa sangat dilema, apabila dia gagal menjalankan misi maka dia bisa terbunuh dan dia tidak akan pernah tahu siapa pembunuh kedua orangtuanya. Di tengah kebimbangan ini dia ingin membatalkan misi yang ditugaskan kepadanya, tetapi hati kecilnya melarang menyerah. Bila dia menyerah artinya dia tidak akan bisa membuat kedua orangtua dan neneknya bangga. Bila ia menyerah, dia tidak akan bisa pulang dengan kepala terangkat. Dia akan malu pada dirinya sendiri yang telah bersumpah akan menumpas kejahatan.
“Hei Sialan! Tutup jendelanya!” kesal Nicholas yang merasa kedinginan. Theo tidak peduli pada permintaan Nicholas. “Kau akan mati beku sebelum menyelesaikan misi, Berengsek!” makinya.
“Diam dan tidurlah, aku tidak berniat ribut denganmu malam ini,” sahut Theo sambil terus menatap langit.
Nicholas yang kedinginan mengeratkan selimut lebih keras dan berusaha kembali tidur, tetapi nyatanya tidak bisa. Ia akhirnya bangun dari tempat tidur lalu meminum habis air mineral di atas meja kecil. Punya rekan yang sama keras kepalanya sungguh merepotkan pikir Nicholas.
“Bukan hanya kau yang ingin penyiksaan ini segera berakhir. Aku juga,” ucapnya sambil melihat punggung Theo bergerak sedikit.
“Apa yang akan kaulakukan ketika pelatihan ini selesai?” Theo menghadap ke arah Nicholas dengan tatapan tajamnya. Sinar dari lampu di luar menyinari wajah Theo yang terlihat sangat serius.
“Membunuh Arnold Lewis,” jawabnya tanpa berpikir. Theo tertawa pelan. Dia tahu benar atasannya itu pantas untuk dimaki karena memilih mereka berdua.
“Selain itu?” tanyanya lagi.
“Bila bisa pulang sebentar aku akan mencium wanita sialan itu,” jawabnya lagi tanpa basa-basi. “Lalu kau?” Theo tidak seperti kebanyakan orang yang mudah dibaca oleh dirinya yang seorang detektif. Pria ini berbeda sekali dengan kebanyakan orang.
“Mengunjungi makam kedua orangtua dan nenekku,” jawab Theo. Tidak ada yang lebih ia inginkan sekarang ini selain yang ia ucapkan kepada Nicholas.
“Padahal kita mirip dalam segi kehidupan yang berantakan, tetapi entah mengapa aku tidak ingin mengunjungi mereka. Terlalu sedih melihat makam mereka,” jawab Nicholas seadanya.
Baru kali ini Theo mendengar pengakuan menyedihkan pria itu. Biasanya dia angkuh di setiap jawaban. Dia sama tertutupnya dengan Theo dan sama tidak sukanya menceritakan hal pribadi kepada orang-orang sekitar. Menemukan orang yang sepaham adalah hal paling tersulit di dalam hidup mereka.
“Setidaknya kau berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang. Aku paham apa yang kau rasakan. Kesedihan yang tidak dapat terungkap,” sahut Theo sambil bersandar pada dinding.
“Uang bukan segalanya, tetapi uang bisa mengubah kebenaran.”
“Selembar kertas yang bisa membeli dunia.”
TBC...