Las Vegas, 15 September 2018
Nicholas Song sengaja datang ke restoran milik Jea di malam itu. Sang polisi baru saja selesai mandi dan bersiap untuk membantu ibunya di restoran. Namun, ia terpaksa mengurungkan niatnya dikarenakan Detektif Joker hadir di sana. Jea yang kesal setengah mati karena tindakan sang detektif kepadanya tempo hari.
Sebenarnya dia tidak benci kepada sang detektif, boleh dikatakan dia sangat tertarik kepada kepandaiannya. Namun, Nicholas Song membuat semuanya menjadi berantakan. Dia mencium Jea tanpa permisi dan penuh nafsu. Diakui itu salah satu kesalahannya yang paling fatal. Oleh karena itu hari ini dia akan meminta maaf pada wanita tersebut. Dia akan pergi besok ke New York City, dan entah kapan akan kembali ke Las Vegas. Kemungkinan itu antara ada dan tiada. Bisa saja dia setelah menjalani latihan langsung berangkat ke Ukraina dan misi mereka gagal. Dia dan Theo terbunuh. Dia akan sangat menyesal tidak pernah meminta maaf pada wanita itu.
Dia tidak pernah ingin meminta maaf pada siapa pun. Dia selalu merasa dirinya benar karena dia membeberkan bukti serta fakta ketika berbicara. Keangkuhannya sudah mendarah daging dan semua orang tahu hal tersebut. Hari ini untuk pertama kalinya dia ingin mengucap maaf dan perpisahan kepada Jea. Kemungkinan wanita tersebut tidak akan peduli tidak menyurutkan niat awal Nicholas untuk tetap datang.
“Masuk,” ajak sang detektif dari jendela kaca mobilnya. Jea menatapnya kesal dan ia terpaksa masuk.
“Ada apa?” nada suaranya tidak sabaran.
“Sekarang kau pandai untuk tidak berbasa-basi. Keh, kau banyak berubah,” komentarnya.
“Aku tidak punya banyak waktu, bicaralah,” ucapnya tanpa ingin menoleh ke arah Nicholas.
Nicholas mengambil sesuatu di bangku belakang kemudi mobilnya. Ia kemudian memberikannya kepada Jea. Jea menatap bungkusan yang diberikan sang detektif. Tanpa mengucapkan banyak kata Jea menerima lalu membuka isinya. Dia memandangnya sebentar lalu pandangannya beralih ke arah sang detektif gila.
“Itu semua dokumen tentangku. Surat-surat tanah dan bangunan atas namaku. Data bank dan semua uang milikku. Semua dengan nama asliku,” katanya dengan nada yang tidak pernah Jea dengar keluar dari mulut sang detektif. Biasanya dia selalu bicara penuh sindiran dan ketus. “Aku harus menitipkannya denganmu karena hanya kau orang yang kupercayai.” Jea yakin dia tidak salah dengar kali ini.
“Untuk apa semua ini kau titipkan kepadaku?”
“Aku sudah menemui notaris pribadiku dan membuat surat pernyataan di sana mengenai ahli waris. Ada namamu dan nama adikku,” katanya menolak untuk menjawab pertanyaan Jea. “Dan aku ingin minta maaf padamu mengenai banyak kesalahanku padamu.”
“Ada apa denganmu! Kenapa kau seperti ini?” Jea merasa ketakutan dan ia ingin menghubungi 911 untuk meminta pertolongan karena melihat gelagat aneh dari Nicholas. Namun, ponsel Jea sudah lebih dulu diambil oleh Nicholas.
“Dengarkan aku!” katanya sambil membuat Jea menghadap ke arahnya. “Akan aku ceritakan semuanya dan kumohon kau tenang.”
Jea masih mengatur napasnya yang tadi kacau. Dia tidak pernah melihat Detektif Joker seperti itu. Dia takut sang detektif dalam bahaya misalnya saja ada ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Itu sering sekali terjadi di kasus kriminal dan dia tidak ingin ada hal buruk menimpa pria itu.
“Aku baik-baik saja dan aku sadar mengenai apa yang aku lakukan. Tenanglah,” ujarnya menenangkan Jea. “Aku harus pergi besok ke New York untuk menjalani misi penting bersama FBI. Ini bukan misi mudah. Kemungkinan aku mati bisa saja terjadi. Misi ini sangat rahasia. Aku sebenarnya tidak boleh memberitahu siapa pun, tetapi tidak rela rasanya harus meninggalkan dunia tanpa satu orang pun yang tahu tentang cerita ini,” sambungnya.
Jea tidak percaya dengan perkataan Nicholas barusan. Dia tidak tahu kedatangan FBI waktu itu adalah untuk menyampaikan hal tersebut kepada Nicholas. Tiba-tiba dia merasa sesak di dadanya mendengar ucapan yang disampaikan detektif.
“Tidak! Kau tidak akan mati, kau pasti akan kembali!” jawab Jea sambil mengembalikan kumpulan dokumen tersebut kepada Nicholas.
“Aku juga berharap seperti itu, tetapi aku tetap harus berwaspada. Aku ingin kau menjaga semua milikku sampai aku kembali. Bila aku tidak kembali kepadamu dalam beberapa tahun atau berapa bulan maka kau harus menghubungi pengacara dan notarisku. Mereka tahu tentang adikku dan semua dokumenku. Kau paham?” tanyanya lagi. Jea menggeleng keras. Nicholas mengembuskan napasnya kesal. “Kau lama-lama semakin menyebalkan,” komentarnya.
“Aku tidak ingin semua ini! Aku ingin kau kembali! Aku tidak ingin tahu!” kesalnya mulai menangis.
“Dan kau juga sekarang merepotkan,” kesal Nicholas yang pusing melihat Jea menangis di mobilnya. Bukan ini yang ia harapkan akan terjadi. Polisi cantik tersebut memang cukup dekat dengannya dibanding orang lain. Bahkan dia adalah manusia pertama di bumi selain keluarganya yang akan tahu banyak hal tentangnya.
“Aku baru tahu namamu, aku baru tahu sedikit-sedikit tentangmu dan kau sekarang akan pergi begitu saja! Siapa yang tidak kesal!” bentaknya. Baru kali ini ia berani membentak sang detektif dengan suara yang amat keras.
“Bukankah kau senang aku tidak mengganggumu lagi?” tanyanya tanpa ekspresi. “Hari-harimu akan tenang tanpa orang gila sepertiku.”
“Kepolisian akan kehilangan orang hebat sepertimu! Kami akan kesulitan tanpamu dan tidak ada lagi tontonan menarik di ruang interogasi.”
“Jangan berlebihan, terima dokumen ini dan jaga baik-baik. Aku akan pergi besok dan ingatlah pesanku. Sekarang kau keluar dari mobilku,” ujarnya memerintah seperti biasa. Jea lebih suka Nicholas yang seperti itu dibanding berbeda seperti tadi.
“Jam berapa kau pergi besok?” tanyanya tanpa mengindahkan ucapan Nicholas beberapa saat barusan.
“Bukan urusanmu. Sekarang cepat turun dan jaga semua dokumen tersebut dengan baik dan benar. Aku akan menghantuimu bila kau gagal.” Jea tanpa pikir panjang langsung memeluk Nicholas dan menangis di sana.
“Jangan pergi, kumohon,” pintanya dengan pilu. Memang memalukan meminta Nicholas untuk jangan pergi dari hidupnya. Jea yakin dia sudah tidak waras meminta hal seperti itu kepada Nicholas. “Jangan tinggalkan aku, Nick,” pintanya dengan nada lembut dan untuk pertama kalinya Jea berani memanggil nama kecilnya.
“Kenapa kau terdengar sangat memaksaku?” komentarnya sambil menggenggam kedua tangannya dengan erat agar tidak membalas pelukan Jea. Dia bisa saja runtuh bila tidak kuat menahannya.
Jea kembali terisak sambil memeluk erat Nicholas. Ia tidak peduli pria itu tidak membalas pelukannya. Sementara Nicholas berjuang keras untuk menahan segala keinginannya untuk tidak menelepon Arnold Lewis sekarang juga dan membatalkan kerja sama mereka lalu memilih tinggal di Las Vegas seumur hidupnya bersama Jea.
“Karena aku mulai mencintaimu,” aku Jea jujur. Hal tersebut meruntuhkan segala pertahanan Nicholas. Dia rasanya senang luar biasa mendapat pengakuan tersebut, dia dilema untuk melepaskan tanggung jawabnya atau tetap di sini membalas perasaan Jea.
“Jea….” Jea tidak melepaskan pelukannya. “Aku tetap harus pergi, maaf.”
Jea melepaskan pelukannya dan memandang Nicholas dengan tatapan hancur. Dia tidak tahu mengapa bisa jatuh cinta kepada makhluk mengerikan seperti Nicholas. Nicholas mengutuk dirinya sendiri karena dia menjerumuskan diri ke dalam jurang yang sangat besar. Dia mencium Jea habis-habisan karena dia tahu mungkin tidak akan pernah lagi melihat wanita itu di dalam hidupnya. Jea tidak menolak sama sekali. Dia menerimanya sampai akhirnya Nicholas mulai hilang kendali dan Jea menamparnya dengan keras sebagai peringatan untuk tidak menyentuhnya lebih dari itu.
“Sialan, kenapa kau menamparku?” tanya Nicholas sambil memegangi pipinya.
“Itu peringatan untukmu karena tanganmu nakal,” balas Jea kesal.
“Kau membuatku terlihat menyedihkan,” ujarnya sambil memegangi pipinya yang terasa pedas. “Besok aku harus pergi dengan pipi bengkak.”
“Kau benar-benar akan pergi?” tanya Jea memastikan.
“Ini tugasku. Aku harus menjalaninya.”
“Kembalilah dengan selamat. Aku akan menunggumu sampai kapan pun,” kata Jea dengan suara gemetar.
“Kali ini akan kuusahakan karena kau yang meminta.”
TBC...