Thirty

1583 Kata
New York City, Markas FBI, 25 September 2018 Theo dan Detektif Joker tengah menyimak rapat besar kedua yang diadakan di ruang pertemuan FBI. Hampir semua pemimpin FBI dalam berbagai divisi hadir di sana dan juga anggota FBI yang akan terlibat dalam misi kali ini. Mereka harus mempersiapkannya dengan matang karena sedikit saja kecerobohan maka akan menimbulkan kekacauan yang besar. Mereka tidak ingin hal tersebut terjadi di misi kali ini. “Dari data yang telah dikumpulkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, mereka sulit untuk dideteksi keberadaannya. Kedua, mereka punya uang untuk bisa menjalankan bisnis. Mereka punya investor-investor besar penyuntik dana dan berpengaruh di dunia. Ketiga, mereka berbasis di luar wilayah Amerika. Ukraina dan sebagian kecil di Turki. Keempat, mereka rata-rata orang cerdas karena mereka merekrut untuk diandalkan kinerja otaknya.” Penjelasan Arnold Lewis terasa seperti pelajaran di waktu sekolah bagi Detektif Joker. Dia malas-malasan menyimak bahkan dengan terang-terangan ia menguap beberapa kali. Dia sudah pernah membahas hal tersebut di rapat pertama, tetapi mengulanginya kembali di rapat kedua sebagai pengingat tentang misi mereka. “Kurasa aku lebih suka tidur dibanding mendengar ocehannya,” keluh Detektif Joker kepada Theo. “Dia memang membosankan dan payah,” ucap Theo setuju mengenai atasannya. Detektif Joker tertawa geli. Semakin mengenal Theo beberapa hari ini ia semakin yakin mereka memang mirip. “Tetapi herannya dia pemimpin divisi kalian dan dia keras kepala terus-terusan memaksaku untuk bergabung.” “Hal tersebut juga terjadi kepadaku beberapa tahun yang lalu. Membuat aku tidak punya pilihan untuk menolak.” “Kabarnya kau direkrut karena tidak sengaja membantu polisi menemukan pembunuh. Dia kemudian mencari tahu tentangmu lalu memaksamu bergabung?” “Tepat, dia tidak memberikan pilihan untuk menolak.” Bagi Nicholas bukan hal sulit menilai Arnold Lewis. Dia tahu persis pria sepertinya cukup tamak untuk meraih jabatan lebih tinggi. Jangan pernah merasa heran bila hal yang menyangkut jabatan selalu ada obsesi tinggi yang harus tercapai bagaimanapun caranya. Manusia tempatnya tidak pernah merasakan puas. Dia sering mengamati orang-orang yang bermain judi bersamanya. Rata-rata dari mereka haus akan kemenangan dan uang. Sering pula ia temui karakter sejenis tersebut pada koruptor yang memakan uang negara. Saat ia memaksa mereka buka mulut, ingin rasanya moncong senjata ia tembakkan ke sana. “Detektif Joker, bisakah Anda memberitahu kita semua hasil analisis Anda mengenai mereka semua?” tanya Arnold dari depan proyektor besar yang menampilkan wajah-wajah target yang kemarin telah mereka ketahui namanya. “Dexter Wu, aku pernah bertemu dengannya di Las Vegas saat bermain judi. Dia bukan orang yang tenang. Emosian akibat mengkonsumsi narkotika dalam jumlah besar perhari. Dia menderita usus buntu dan sempat dioperasi beberapa tahun yang lalu. Dia juga memiliki minus mata nol koma tujuh di sebelah kiri dan minus satu di sebelah kanan serta ditambah silinder. Dari mana aku tahu?” ia bertanya pada semua orang dengan nada sombong. “Kau pernah memancingnya dengan permainan kartumu dan membuatnya seolah akan terlihat. Dari sana kau melihat pergerakan pupil matanya yang perbesarannya berbeda. Dan kau tahu dia menghindari makan-makanan pedas padahal dia orang Tiongkok yang suka masakan pedas. Semua rekam medisnya telah kau pelajari,” jawab Theo tanpa menunggu waktu lama. “Orang awam akan sulit melihat perbedaan minus seseorang secara tepat, kau banyak mengamati dan pasti karena itu kau tahu.” Nicholas bertepuk tangan karena jawaban Theo tepat. Tidak kurang sedikit pun atau meleset dari kejadian sebenarnya. Harus diakui oleh Travis, Bill, Zoey, dan Fabio bahwa keduanya memang luar biasa. Ketepatan jawaban Theo menandakan dia memang bisa cocok bekerja bersama Detektif Joker karena mereka akan banyak mengambil keputusan sulit dengan waktu singkat. Agen FBI tidak ada yang bodoh atau tidak hebat. Mereka memiliki keahlian masing-masing. Fabio dengan keahliannya meretas. Bill yang pandai mencari informasi dan memanipulasi jaringan untuk mempermudah kerja mereka. Travis yang memiliki kelebihan di bidang fisik. Dia pandai di banyak bela diri. Dia juga ahli menggunakan senjata api dan dia pandai membaca situasi. Zoey spesialis mendekati wanita sosialita. Dia pandai mengorek informasi dari mereka. Dia senang berperan menjadi wanita kaya raya dan kadang ia menjadi pelayan kafe. Zoey juga termasuk pintar dalam meretas perangkat. “Jadi apa hubungan usus buntu dan mata minusnya dalam misi kita kali ini?” tanya Arnold penasaran. Nicholas mendecih kesal. Dia ternyata menemukan ada anggota FBI yang cukup bodoh seperti Arnold. “Kau ternyata tidak cukup pintar,” katanya tanpa basa-basi. Semua orang terkejut dengan ucapan Nicholas. “Tentu saja hal tersebut adalah senjata kita. Serang dia dengan makanan pedas hingga membuat perutnya sakit lalu buat dia hilang konsentrasi dengan memanfaatkan titik minus di matanya. Apakah itu sulit untukmu?” tanyanya kesal. “Kau tipikal orang yang lebih suka serangan menyiksa dibanding membuatnya mati sekalian,” komentar Bill ketika ia teringat rekaman gambar sang detektif menyiksa psikologis targetnya untuk memberikan keterangan. “Karena itu menyenangkan,” jawabnya sambil menatap Arnold dengan senyum lebar. “Kita tampung analisis dan rencana Anda barusan,” kata Arnold menyetujui. “Lalu bagaimana dengan yang lainnya. Anda pasti punya informasi penting yang tidak kita semua ketahui tentang mereka.” “Rasanya menjengkelkan harus berbagi informasi bersama kalian,” katanya sambil memain-mainkan bolpoin di tangannya. Theo mendengus pelan. Dia tahu sang detektif tidak akan punya pilihan bila sudah berhadapan dengan Arnold Lewis. ♚♛♜♝♞ Theo baru selesai membuat kopi dan membuka roti yang ia beli di toko kue dekat kantornya. Dia terlalu malas untuk ikut makan siang kali ini. Hanya Theo sendirian di ruangan besar tersebut, wangi kopi dan mentega dari kue yang dibelinya merupakan perpaduan sempurna. Theo ingat wangi ini sering ia hirup pagi-pagi di rumah mereka dulu. Ayahnya yang meminum kopi sebelum pergi bekerja dan neneknya yang selalu membuat kue untuk sarapan. Theo ingat sekali neneknya sering membuat kue resep dari ibunya. Salah satu kue dari Belanda yang tidak pernah ia tahu namanya karena neneknya pun lupa dengan nama kue tersebut. Theo membaca artikel mengenai beberapa hal tentang organisasi radikalisme. Mereka tidak hanya mencuci otak orang-orang untuk bergabung di dalamnya, tetapi juga membunuh target-target yang sekiranya menolak ajakan mereka atau target tersebut sudah tidak berguna di mata mereka. Mereka juga memiliki agen khusus untuk membunuh. Rata-rata mereka dibunuh menggunakan penembak jitu atau racun khusus yang sulit terdeteksi. Ada kasus kematian seorang pebisnis muda di sebuah mansion mewahnya baru-baru ini. Disinyalir dia merupakan salah satu orang yang menolak kerja sama tersebut. Karena ia menolak dan sudah pasti mereka merasa pria itu akan membongkar identitas mereka, akhirnya ia dibunuh. Polisi yang menyelidiki kasus tersebut menemukan adanya kandungan racun dosis tinggi pada minuman yang ia minum. Sayangnya tidak ada bukti bahwa kasus tersebut pembunuhan. Dia dinyatakan bunuh diri, tetapi Nicholas Song meyakini hal tersebut pembunuhan. Dia tahu ketika Theo bertanya padanya mengenai kasus dua bulan lalu dan pria itu melihat foto-foto di lokasi kejadian serta beberapa kejanggalan yang sulit untuk dilihat orang biasa. FBI selama ini memang mengawasi nama-nama pebisnis yang baru memulai karir karena mereka rata-rata mengincar pebisnis yang seperti itu. Banyak kasus juga tentang mereka yang menerima untuk bekerja sama mengalami kenaikan bisnis secara pesat. Hal tersebut tercatat sebagai hal yang mencurigakan mengingat bisnis tersebut sebelumnya tidak begitu populer. Theo juga masuk ke server mereka untuk mencari beberapa kasus yang terlibat dalam organisasi radikalisme ini. Di sana ia menemukan laporan bahwa ada kasus pembunuhan seorang pria kaya raya yang sudah tua ditembak oleh seorang penembak jitu dari jarak yang cukup jauh. Dia ditembak di sebuah hotel menggunakan kaliber khusus 408 Cheytac. Salah satu jenis senjata api paling mematikan di dunia. Keadaan korban mengenaskan dengan peluru menembus kepala dan mengenai dinding. Theo akui untuk penembak jitu dengan jarak hampir dua kilometer hal tersebut luar biasa dan kabarnya penembak tersebut seorang wanita yang identitasnya belum diketahui. Hanya sebatas itu artikel yang ada di server mereka. Sisanya masih diselidiki oleh polisi dan FBI. Cara mereka membunuh kali ini cukup menyita perhatian pasalnya mereka ingin menunjukkan kepada orang-orang yang telah bergabung dan berkhianat bahwa mereka tidak main-main melenyapkan mereka dalam sekali aksi. Dia akan berdiskusi dengan Nicholas Song mengenai kasus ini. Pastilah sang detektif tahu sesuatu yang tersembunyi. “Hei, kenapa kau tidak ikut makan siang?” tanya Zoey sambil mencari sesuatu di laci mejanya. “Aku belum terlalu lapar,” jawab Theo yang masih fokus pada komputernya. “Apa yang kau cari?” tanya Theo yang melihat Zoey masih sibuk mencari sesuatu. “Kabel pengisi daya baterai ponselku. Seingatku aku meletakkannya di laci meja,” ucapnya masih terus mencari. “Bill yang memakainya kemarin. Aku melihat dia mengambilnya,” jawab Theo. Zoey langsung menuju meja Bill dan tanpa perlu mencari ia sudah menemukan kabel pengisi daya baterai ponselnya. “Dia selalu meminjam barang tanpa pernah dikembalikan,” keluh Zoey yang mengisi daya ponselnya. “Kopimu wangi sekali,” kata Zoey tiba-tiba. “Ya, ini kopi buah tangan dari temanku di Indonesia. Ini kopi dari daerah di provinsi tempatku tinggal. Kau mau mencobanya?” Zoey mengangguk antusias. Theo kemudian mengeluarkan toples kecil dari laci mejanya. Dia memang selalu menyimpan beberapa makanan di sana untuk keperluan lembur atau ketika ia malas keluar. Zoey mengambil gelas dan menuangkan gula kemudian kopi lalu air panas dari mesin. Wangi kopi khas tersebut membuat perasaan Zoey lebih baik. Theo juga menawarkan roti, tetapi Zoey menolak karena ia baru saja selesai makan di kantin. Harus Zoey akui kopi pemberian Theo memiliki rasa nikmat yang berbeda. Dia pecinta kopi dan tahu mana kopi kualitas terbaik. “Ini kopi nikmat. Temanmu sangat baik memberikan kau oleh-oleh ini,” komentar Zoey dengan senyum lebar. “Terima kasih, Theo. Kopi ini nikmat sekali!” Theo tersenyum seraya ikut menghirup kopi yang mulai mendingin lalu memakan sisa roti miliknya. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN