New York City, Queens, John F. Kennedy International Airport, 3 September 2018
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama,” ucap Theo ketika Zara sudah ada di depan matanya. Dia harus menunggu dua jam lebih di bandara.
“Tidak apa-apa, kebetulan tadi aku menyempatkan diri untuk makan dan istirahat. Kau sudah makan?” tanya Zara sambil mendorong koper besar yang ia bawa. Theo juga membawakan satu lagi koper miliknya dan tas ransel.
“Kebetulan aku belum makan. Rapat di kantorku baru selesai dan aku langsung menuju ke sini.” Theo membukakan pintu yang menuju keluar bandara untuk ke parkiran.
“Kau harus makan! Ayo, aku akan menemanimu makan.”
“Kau harus menuju hotel, kau sudah terlambat jauh. Apakah tidak apa-apa?”
“Kita bisa ke hotel sebentar untuk check in, meletakkan barang-barangku lalu pergi kembali.”
“Baiklah, hotelmu di mana?”
“Sama dengan hotel waktu lalu aku ke sini. Hanya hotel itu yang cukup murah, di tengah kota, dan bagus.” Zara tertawa pelan. “Memang semua bukan aku yang bayar, tetapi aku yang menyarankan tempat tersebut.”
“Kau bisa menginap di apartemenku bila kau tidak punya tempat tinggal. Aku punya dua kamar,” ucapan Theo tidak mengandung makna negatif. Dia menawarkannya tulus karena Zara adalah temannya. “Aku punya dua kucing dan satu anjing. Kau pasti akan suka.”
“Mungkin di perjalanan lain waktu, aku ingin sekali bertemu mereka. Pasti lucu!” Theo tahu Zara juga sangat suka kucing. Dulu ketika sering latihan mereka rajin memberi makan kucing jalanan.
“Maine Coon, Caracal, dan Siberian Husky. Mereka tidak lucu,” kata Theo sambil mengingat semua wajah peliharaannya yang terlihat seram.
“Kukira sejenis Persia atau British,” kata Zara tertawa geli. “Kenapa kau memilih mereka?” Zara menerima ponsel yang diberikan Theo. Di sana ada foto semua peliharaannya.
“Karena aku sebenarnya ingin memelihara singa, harimau, serigala, dan hewan buas lainnya. Sayangnya hal itu tidak bisa terwujud. Jadi hanya mereka yang bisa aku dapatkan.”
Zara melihat-lihat foto hewan peliharaan Theo, dia melihat kucing jenis Maine Coon berwarna keperakan yang bertubuh besar nan gagah. Zara langsung jatuh cinta kepada kucingnya. Lalu Caracal yang berwarna cokelat dan tatapan tajam khas hewan liar. Dia sedikit takut melihatnya. Lalu anjing Siberian Husky yang berwajah tidak kalah menakutkan, tetapi Zara yakin mereka semua hewan peliharaan yang baik.
“Nama mereka Theron, Theia, dan Therby. Theron kucing Caracal, Theia kucing Maine Coon, dan Therby anjing Siberian Husky.”
“Semua nama mereka mirip dengan namamu,” komentar Zara yang mengembalikan ponsel Theo.
“Supaya mereka selalu ingat denganku,” jawab Theo sambil membuka kunci mobilnya. Zara diam beberapa saat melihat mobil Theo. Jelas mobil tersebut masuk ke dalam mobil mewah. Theo tidak memperhatikan perubahan raut wajah Zara. Dia dengan santai memasukkan semua koper ke dalam bagasinya. “Kenapa?” tanyanya yang heran melihat Zara.
“Aku terkejut mobilmu sebagus ini, Theo,” akunya.
“Ini mobil biasa di sini, Zara. Bukan barang mewah,” katanya merendah. Ia membukakan pintu untuk Zara lalu menyuruhnya masuk.
Theo menghidupkan mesin mobil dan melaju keluar dari parkiran. Zara bukanlah jenis orang yang suka memandang materi. Dia merasa terharu Theo memiliki mobil semahal dan semewah ini. Dia sangat tahu kehidupan Theo dulu. Untuk sekadar makan pun dia kadang tidak punya uang. Melihatnya sukses adalah kebahagiaan untuk sahabat sepertinya.
“Theo, aku menyesal dulu tidak ada di masa-masa sulitmu. Sekarang kita bertemu lagi di kehidupan yang sudah berbeda. Kau sudah sukses, aku sebagai sahabat sangat senang melihat kesuksesanmu, tetapi juga sedih karena aku jahat meninggalkanmu waktu terpuruk,” aku Zara dengan nada yang sangat sedih.
“Apa yang kaubicarakan? Aku tidak pernah menganggapmu meninggalkanku. Kita memang harus mengejar mimpi masing-masing dan caranya pun berbeda. Ada yang harus kita korbankan, entah itu keluarga, persahabatan, atau percintaan. Bila sudah melalui masa sulit tersebut dan kita bertemu lagi, artinya kita benar-benar berteman saling tulus bukan karena hal lain.”
Zara menghapus air matanya yang tidak tahan untuk keluar. Dia merasa benar-benar terharu sekaligus sedih. Dia ingat setiap kali akan membayar uang iuran latihan Theo harus bekerja sampingan dulu. Entah itu menjaga warnet atau membantu bibinya berjualan. Dia bahkan pernah menjadi model di mall saat ada kontes modeling. Dodo dan Zara yang memaksa Theo ikut waktu itu. Dia juara tiga karena bukan model sungguhan dan Theo sangat kaku. Hal yang disyukuri bahwa dia masih bisa menang. Setelah saat itu Theo tidak berminat sama sekali menjadi model karena dia tidak pandai berada di keramaian.
“Kau pun sudah semakin pintar bicara sekarang,” kata Zara yang mulai bisa tertawa. Dia memang tidak pernah sungkan menangis di depan Theo. Dulu Zara pernah menangis di depan Theo saat ribut dengan kekasihnya. Pernah juga karena dimarahi oleh orangtuanya, dan masih banyak lagi. Persahabatan mereka memang sedekat itu.
“Sudah jangan menangis, aku punya cokelat untukmu,” kata Theo sambil mengeluarkan cokelat dengan bungkus kecil-kecil dari tempat makanan yang ada di samping tubuhnya. “Kau pasti suka.”
Zara menerimanya dengan hati riang. Dia suka sekali cokelat dan dulu sampai sakit gigi karena sering makan cokelat. Zara menikmati pemandangan di sekitarnya. Queens jauh lebih lenggang dibanding Manhattan dan daerah lainnya di pusat New York City. Hal yang paling Zara suka dari New York City adalah banyaknya pilihan tempat wisata. Dia suka taman-taman di New York City yang bersih dan juga pandangan orang-orang yang tidak mengintimidasi dirinya.
Dedaunan mulai berubah warna karena memasuki awal musim gugur. Udara juga jauh lebih bersahabat. Memang waktu terbaik mengunjungi New York City adalah di musim semi dan gugur. Setelah selesai mengantar koper milik Zara ke hotel, keduanya memutuskan untuk makan di Bryant Park Grill. Theo sudah memesan meja di sana. Ini pertama kalinya bagi Zara makan di tempat tersebut. Dia sangat tidak sabar karena Theo mengatakan tempatnya menarik.
Mereka tiba di Bryant Park Grill menjelang sore hari. Tidak terlalu ramai dan hal itu membuat mereka bisa menikmati makanan lebih lama dan santai. Zara sangat suka dengan tempat makan tersebut. Banyak dedaunan merambat dan jendela-jendela super besar yang berhadapan langsung ke taman. Theo memang benar, tempat tersebut sangat indah.
“Kamu sering ke sini?” tanya Zara setelah mereka memesan menu.
“Jarang, hanya beberapa kali ketika menemani Güliz makan di sini,” jawab Theo seadanya.
“Güliz orangnya seperti apa?” tanya Zara tiba-tiba. Theo berpikir sesaat karena dia sulit mendeskripsikan Güliz.
“Dia orang yang sangat ramah dan perhatian. Kadang juga bertindak bodoh. Dia pintar dan suka memasak,” jawab Theo jujur.
“Cantik?” Zara semakin penasaran akan jawaban Theo.
“Matanya sangat indah,” hal yang pertama kali ia ingat tentang Güliz memang selalu tertuju kepada warna matanya yang hijau kekuningan.
“Kau tidak cinta padanya?” pertanyaan Zara kali ini benar-benar membuat Theo menatapnya lekat.
“Aku menganggapnya seperti saudara. Aku tidak pernah membayangkan akan ada hal lebih di antara kami.”
“Aku jadi ingin berkenalan dengannya. Dia pasti orang yang menyenangkan karena dia berteman denganmu!”
“Aku akan menghubunginya, kantor Güliz tidak jauh dari sini. Dia akan datang bila tidak sibuk,” kata Theo sambil mencari nomor Güliz di ponselnya. Zara memperhatikan Theo yang fokus pada ponselnya. Rambut Theo lebih panjang dibanding model rambutnya dulu. Dia pun lebih berisi dibanding beberapa bulan lalu saat mereka bertemu. Hal yang tidak berubah dari Theo dulu dan sekarang adalah dia selalu wangi. Dulu pakaiannya selalu wangi pelembut pakaian, sekarang ia memakai parfum yang wanginya sangat Zara sukai.
“Dia akan datang setengah jam lagi. Kau tidak keberatan menunggu?” tanya Theo setelah selesai menelepon Güliz. Zara menggeleng dengan diiringi senyum.
“Kita bisa bersantai di sini. Teman-temanku juga saat ini masih berjalan-jalan mengelilingi New York,” jawabnya.
Sesaat kemudian minuman dan makanan pembuka mereka datang. Theo tanpa pikir panjang langsung melahapnya sementara Zara makan dengan perlahan. Dia baru makan beberapa jam yang lalu jadi tidak terlalu lapar. Sementara Theo, dia memang kelaparan karena tidak sempat makan siang. Zara mengeluarkan ponselnya lalu memfoto Theo yang tengah makan. Ia sengaja mengirimkan kepada ibunya. Ibunya tidak akan khawatir bila Zara bersama Theo di New York karena Theo tahu semua sudut jadi tidak akan membuat putrinya tersesat.
“Kata Mama kamu tambah ganteng.” Zara tertawa geli membaca pesan balasan ibunya.
“Hah?” tanya Theo yang tidak mengerti.
“Aku kirim fotomu ke Mama. Kata Mama, kamu tambah ganteng.”
Theo hanya tersenyum kecil menanggapinya. Dia tidak ingin besar kepala mendapat pujian seperti itu dari Zara. Saat Theo tengah menikmati makanannya, telepon masuk dari Travis. Theo memilih untuk tidak menjawabnya. Dia tidak ingin mendapat panggilan tugas atau apa pun itu sekarang.
Telepon tidak diangkat justru pesan berantai masuk ke ponselnya dari Travis. Dia menanyakan tentang orang baru yang akan menjadi rekan Theo dalam misi mereka mendatang. Rupanya kabar tersebut telah disampaikan Arnold kepada rekannya. Travis juga mengatakan bahwa dia dan Bill ditugaskan oleh Arnold untuk berangkat ke Las Vegas besok guna menyerahkan beberapa dokumen perjanjian dan hal lainnya kepada pihak kepolisian dan FBI di sana.
“Zara, aku permisi ke toilet sebentar,” kata Theo sambil berdiri dan membawa ponselnya. Ia harus menelepon Travis dan menceritakan kepadanya.
“Jam berapa besok kalian berangkat?” tanya Theo langsung sesaat setelah Travis mengangkat teleponnya.
“Pesawat pertama. Pagi buta sepertinya,” jawab Travis dengan suara lelah. “Bagaimana mungkin dia memberikan kau rekan yang akan melaksanakan misi bersama sementara selama ini kau selalu melakukannya sendirian. Bahkan kau menolak kami yang bisa menjadi rekanmu,” kata Travis di seberang telepon.
“Kakek tua itu selalu suka memutuskan sendiri. Dia membuatku tidak punya pilihan.” Travis tertawa di seberang sana. Dia tahu pastilah itu yang akan terjadi.
“Kau sudah tahu mengenai rekanmu ini?”
“Datanya banyak kosong. Dia pintar menyembunyikan sesuatu. Kurasa dia juga bukan orang biasa sampai Arnold tertarik,” jawab Theo yang memutuskan untuk bicara di luar.
“Memang, aku dan Bill mencari tahu tentangnya. Dia memiliki banyak kemiripan dengan dirimu. Kudengar dia punya eidetic memory sepertimu.”
Hal tersebut membuat Theo amat tertarik pasalnya tidak banyak orang yang memiliki ingatan jangka panjang serta detail sepertinya. Dia harus minta data lengkapnya kepada Travis mengenai calon rekannya kali ini. Setelah dirasa mengobrol cukup lama, Theo mengakhiri panggilan dan kembali ke tempat makannya. Zara tengah bermain ponsel saat ia datang.
TBC...