Sumatera Selatan, Palembang, 25 Mei 1998
Subuh itu saat adzan baru berkumandang, Theo menangis tiada henti memanggil kedua orangtuanya. Baru kemarin mereka dikubur, tetapi dia sudah rindu. Sang nenek yang melihat Theo menangis dan memanggil kedua orangtuanya merasa pilu. Ia menguatkan diri untuk tidak menangis di depan Theo. Diambilnya sang cucu, didekapnya dalam pelukan sambil mengusap-usap kepalanya lembut.
“Theo, jangan nangis. Nenek ada di sini untuk Theo.”
Namun, hal tersebut tidak membuat Theo berhenti menangis. Ia justru semakin ingin bertemu kedua orangtuanya. Neneknya kemudian menggendong Theo untuk membawanya ke dapur. Tubuh yang sudah rentah dan tidak kuat lagi itu harus tegar membesarkan sang cucu sendirian.
“Nenek akan buatkan s**u untuk Theo, jangan menangis lagi ya,” ucapnya sambil menggendong Theo. “Theo lapar juga? Nenek buatkan sarapan, mau?”
Theo menggeleng sambil terus menangis.
“Mama, Nek. Mama mana? Theo mau Mama!”
Yvette terluka melihat tangisan Theo yang mencari anaknya. Dia juga terluka luar biasa atas kepergian yang sangat tiba-tiba.
“Mamamu sudah di surga, Sayang. Theo jangan nangis lagi ya. Ada Nenek di sini bersama Theo.”
“Ayah, Theo mau main sama Ayah!”
Yvette kembali memeluk Theo sambil menenangkannya. Mereka berada di ruang tengah rumah yang beratap tinggi. Rumah peninggalan Belanda tersebut sangat dingin di pagi hari. Jendela-jendela berdaun kayu dibuka oleh Yvette untuk mengusir perasaan sedihnya pagi ini. Sembari menggendong Theo ia membuka kunci jendela. Pemandangan masih cukup gelap di luar, tetapi udara sejuk khas pedesaan mampu mengisi paru-parunya yang sesak akibat banyak menangis semalam.
Mata biru Yvette memandang jauh ke depan. Ke arah pohon jati besar yang tumbuh di depan rumahnya. Sesekali mobil lewat di jalan raya yang menghadap langsung rumahnya. Ia teringat Iriane selalu suka bermain di bawah pohon jati besar tersebut sewaktu kecil, di bawah pohon itu pula Iriane pernah mengubur kucing kesayangannya yang telah meninggal. Kenangan sang anak semasa kecil membuat Yvette kembali sedih luar biasa. Ia tidak mampu lagi menahan tangisnya. Theo yang sudah mulai tenang di dalam gendongan sang nenek bertanya mengapa neneknya menangis.
“Nenek ingat kucing Nenek pernah di kubur di bawah pohon itu,” jawab neneknya berbohong. Ia tidak ingin Theo tahu kesedihannya. “Kucingnya lucu sekali. Theo mau punya kucing?” tanya neneknya agar Theo tidak kembali menangis.
“Theo ada kucing di sekolah. Dia suka minta makanan Theo,” cerita Theo sambil memainkan rambut neneknya.
“Benarkah? Berapa ekor?”
Theo mengingat-ingat sambil melihat ke atas ruangan. Ia menyebutkan nama-nama kucing yang ada di sekolahnya.
“Ada Pupu, It It, Yen Yen. Tiga, Nek!” ceritanya. “Pupu warnanya putih, It It warnanya hitam, Yen Yen, warnanya kuning.”
“Nanti kita cari kucing lagi untuk di rumah, mau?” Theo mengangguk senang. Ia sudah tidak menangis lagi.
“Mama dan Ayah pasti suka kalau Theo ada kucing!” Yvette mengangguk senang karena sekarang cucunya sudah bisa tersenyum seperti itu.
Dia tahu hal ini akan berat, mengurus cucu yang masih kecil dan butuh sosok orangtua seorang diri. Yvette akan berusaha setengah mati agar Theo tidak kekurangan kasih sayang. Dia akan membesarkan Theo hingga sukses dan mandiri. Yvette pun berdoa kepada Tuhan agar ia diberi umur panjang untuk membesarkan sang cucu. Dia tidak ingin Theo dibesarkan oleh orang lain.
“Sekarang mau sarapan? Nenek akan buatkan makanan untuk Theo, mau apa?”
“Theo mau makan donat!”
“Ayo kita buat,” kata Yvette sambil mengajak Theo ke dapur. Di dinding ruang tengah mereka terpajang foto pernikahan Iriane dan Adri, sayangnya tidak ada foto mereka sekeluarga di sana.
“Hari ini Theo masih belum sekolah, Theo mau menemani Nenek menanam bunga?”
Theo yang duduk di kursi meja makan sambil melihat neneknya meracik adonan donat mengangguk cepat. Neneknya sengaja menyibukan diri agar tidak terpikir dengan anak dan menantunya yang telah tiada. Dia pun ingin menghibur Theo terus-terusan mencari keberadaan sang ibu dan ayah.
“Nenek, kata Mama kemarin Theo boleh main bola sebelum pergi mengaji. Nanti siang Theo mau main bola bersama Usman dan Farhan. Farhan baru dibelikan bola dan sepatu,” ceritanya sambil menyendok gula untuk dimakannya.
“Iya, tetapi jangan sampai lupa mengaji dan salat di masjid.” Yvette memang berbeda keyakinan dengan cucunya. Dia dilahirkan Katolik hingga sekarang pun masih seperti itu. Iriane menikah dengan Adri lalu memeluk Islam dan Theo mengikuti agama kedua orangtuanya. Yvette sama sekali tidak pernah memaksa Theo untuk berpindah keyakinan mengikuti dirinya. Dia ingin anak dan menantunya ada yang mendoakan meskipun mereka telah tiada. Dia tidak ingin amalan mereka terputus begitu saja.
“Nenek, kata guru mengaji Theo, bulan depan Theo bisa mulai membaca doa ayat-ayat pendek.”
“Hebat sekali cucu nenek. Nanti kalau Theo lancar akan Nenek berikan hadiah,” kata Yvette sambil mengambil gula yang tadi Theo pegang. “Jangan terlalu banyak makan gula, tidak baik.”
“Hore! Theo mau sepeda!” katanya sambil berdiri di bangku. Theo masih mengenakan pakaian tidur dengan mata masih sedikit bengkak akibat menangis.
“Iya, nanti kita beli sepeda,” jawab Yvette sambil mengaduk adonan donat. “Theo juga harus mulai belajar bahasa Belanda, mau?” Theo mengangguk meskipun ia tidak terlalu paham.
Yvette selalu mendidik Theo dengan kasih sayang. Tidak pernah sekalipun dia marah kepada Theo bila ia melakukan kesalahan. Didikkan itulah yang Theo pegang sampai ia tumbuh dewasa meskipun dia sempat tinggal di panti asuhan yang kadang terabaikan oleh pengasuh-pengasuh di sana. Theo tumbuh dewasa secara sendiri dan ia selalu menguatkan dirinya sendiri untuk bertahan demi bisa sukses seperti keinginan kedua orangtua dan neneknya.
♚♛♜♝♞
New York City, 6th Avenue, 31 Agustus 2018
Kemarin Theo sudah menyelesaikan semua pekerjaannya di kantor media masa. Hari ini dia akan mengajukan surat pengunduran diri. Arnold sudah memintanya dari bulan lalu, tetapi Theo baru bisa mengabulkannya bulan ini dikarenakan dia harus mengerjakan beberapa pekerjaannya yang belum selesai. Bukan tanpa alasan mengapa Theo harus keluar dari perusahaan tersebut. Itu semua dikarenakan Theo akan menjalani misi yang cukup berat dan panjang. Arnold sudah memberitahu Theo mengenai kabar tersebut, tetapi rincinya ia belum tahu pasti.
Beberapa kali Theo melipat lalu menutup surat yang akan ia serahkan ke atasannya. Mau bagaimanapun juga memang pekerjaan tetapnya adalah seorang agen FBI. Bekerja di kantor media massa hanyalah sebagai tameng untuk menutupi identitasnya. Setelah beberapa saat akhirnya Theo memantapkan diri. Sambil berjalan menuju ruang atasannya, Theo akan mengingat setiap detail tempat yang akan ia rindukan sebentar lagi. Ia ingat tempat duduk temannya satu demi satu. Ia ingat berapa baris meja yang ada di dalam satu ruangan. Ia ingat apa saja kebiasaan teman-temannya di sana. Theo bahkan ingat ada berapa jumlah petak jendela di lantai ruangannya.
“Sayang sekali kau mengundurkan diri,” kata atasannya saat menerima surat pengunduran diri Theo. Dia terkejut luar biasa melihat Theo memberikan surat tersebut kepadanya. “Apakah kau melakukan kesalahan atau kami membuatmu tidak nyaman?” tanyanya yang masih terkejut.
“Tidak, kalian semua tidak mempunyai kesalahan apa pun pada saya dan saya rasa, saya juga tidak membuat kesalahan,” jawab Theo dengan tenang. “Hanya saja saya harus keluar dari sini karena saya akan pergi ke negara tempat orangtua saya berasal,” sambungnya.
“Sayang sekali, pekerjaanmu di sini sangat bagus. Bahkan pemimpin kita beberapa kali memujimu sebagai karyawan terbaik.”
“Terima kasih,” jawab Theo dengan suara pelan. “Saya juga berat meninggalkan tempat ini. Sangat nyaman di sini dan orang-orangnya juga baik. Namun, saya harus memilih jalan ini. Saya harap pengganti saya nanti jauh lebih baik dari saya.”
Atasannya memandang Theo sekali lagi. Dia menghela napas berat sebelum menghubungi pihak kepegawaian untuk memproses permintaan Theo lebih lanjut. Setelah berdiskusi banyak hal mereka akhirnya melepas Theo dengan catatan harus menyelesaikan beberapa pekerjaan tambahan yang butuh keahlian Theo dan juga mengurus beberapa persyaratan yang harus Theo penuhi. Theo menyanggupi hal tersebut dan ia setuju untuk benar-benar keluar di pertengahan bulan.
Theo meminta kepada pihak kepegawaian untuk merahasiakan pengunduran dirinya sementara waktu. Dia ingin mengatakan langsung dari teman-temannya agar tidak terjadi salah paham. Setelah menyepakati hal tersebut, Theo memilih keluar. Ia ke taman yang berada tidak jauh dari kantornya. Di sana sudah menunggu kucing-kucing yang biasa menemani Theo. Tidak lupa Theo membawa makanan untuk mereka.
Saat ia dalam perjalanan menuju taman, ada pesan masuk dari Zara yang mengatakan ia tengah menonton pertandingan Asian Games 2018. Dia mengirimkan pesan gambar kepada Theo. Senyum Theo merekah, dia senang Zara mengabarinya tentang banyak hal. Dia tidak mendekati Zara layaknya pria mendekati wanita dengan tujuan asmara. Theo sebisa mungkin tetap mempertahankan persahabatannya dengan Zara. Dia tidak ingin ada hal yang berubah di antara mereka bila salah satu tidak memiliki perasaan yang sama.
“Hei apa kabar kalian?” sapa Theo kepada kucing-kucing yang semula hanya duduk di taman. Mereka langsung mendekat ketika mendengar suara Theo. “Kalian kelaparan?” tanyanya.
Theo mengeluarkan makanan untuk empat kucing yang tadi ada di taman. Dua kucing yang masih kecil, satu induknya dan satu lagi jantan. Kucing yang dulu pernah ia beri makan. Kucing betina tersebut sudah melahirkan dan memiliki dua anak yang lucu. Sembari menunggu kucing-kucing tersebut makan, Theo memakan es krim yang ia beli di toko pinggir jalan. Padahal musim beranjak ke musim gugur dan cuaca dingin, tetapi Theo tidak terlalu peduli karena dia ingin makan es krim hari ini.
“Hari ini aku membuat surat pengunduran diri di kantor,” ceritanya pada kucing-kucing tersebut. “Tetapi kalian jangan khawatir, aku akan sering mampir ke sini untuk memberikan kalian makan. Jangan melupakanku begitu saja nanti,” sambungnya.
“Sebenarnya berat, tetapi kakek tua bernama Arnold itu membuatku harus mengundurkan diri. Aku juga sepertinya akan dikirim ke medan perang olehnya. Di dalam hidupku, aku tidak pernah menyangka akan menjadi agen FBI seperti ini. Hah, padahal aku dulu berdoa hanya agar banyak uang untuk membuat kepolisian kembali membuka kasus pembunuhan kedua orangtuaku, nyatanya aku berada di sini dan kakek tua bernama Arnold itu diam-diam menyelidiki kasus kematian orangtuaku. Kuakui dia cukup membantu meskipun tidak selesai, sisanya memang harus aku yang menyelesaikan.”
Theo menyendok es krim dengan ukuran besar lalu memakannya dengan sekali suap. Bila di dekat kucing atau hewan dia akan berperilaku layaknya anak kecil. Mulai dari berbicara sendiri, makan dengan sesuka hati, bermain dan bercanda dengan mereka tanpa beban. Sangat berbeda dengan Theo yang orang lain lihat.
“Theron, Theia, dan Therby sepertinya akan aku titipkan kepada temanku bila aku memang benar-benar jadi menuju medan perang,” ceritanya lagi. Theo menambahkan makanan kucing yang telah habis. “Mereka pasti sedih bila aku gugur di medan perang. Aku jadi takut,” akunya.
Theo selalu merasa lebih baik setelah bercerita kepada kucing-kucing yang berada di taman. Bila di rumah, dia akan bercerita kepada ketiga hewan peliharaannya. Hidupnya memang lebih banyak dihabiskan bermonolog bersama hewan-hewan peliharaannya, tetapi Theo tidak pernah mengeluh. Ia justru senang karena mereka tidak akan menghakimi atau membocorkan rahasia Theo.
TBC...