“Gak ada, kok. Kakakmu gak ada ngomongin hal lain selain pekerjaan,” jawab Deksa sembari tersenyum. Pria itu mengusap kepala Denisha lembut. “Ya udah, aku mau ketemu Kak Arga dulu,” pamit Denisha kepada Deksa. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengintip mereka berdua di balik ruangan itu. Wajah pria itu merah padam. Namun, sebisa mungkin ia tahan. Tak mungkin kalau dirinya membuat keramaian sementara dirinya adalah wakil dari seorang atasan. Ya, pria itu adalah Jordan. Pria itu masih setia berdiri di balik tembok ruangan divisi sekretaris dengan tangan mengepal. Ingin rasanya pria itu menghajar Deksa yang dengan beraninya menyentuh Denisha. Pria itu terbakar amarah yang sepertinya akan sulit dipadamkan. Namun, untuk diungkapkan pun, pria itu tak bisa. “Kakak gak tanya yang aneh-a

