Pagi harinya Annisa mendapat panggilan dari Rheina. Awalnya gadis itu ragu untuk menjawab panggilan dari wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu keduanya itu. Namun, karena rasa rindu dan penasaran akan kabar wanita itu, Annisa akhirnya menjawab panggilan Rheina. “Apa kabar, Annisa Sayang,” sapa Rheina di seberang panggilan. “Annisa baik, Ma. Mama Rheina gimana kabarnya?” suara Annisa terdengar sedikit bergetar. Annisa mengatur pernapasannya agar tak terbawa emosi hingga menunjukkan pada Rheina kalau dirinya sedang bersedih. Gadis itu tak menyangka kalau wanita itu masih menyapanya dengan begitu lembut. Kalau boleh jujur, Annisa begitu merindukan Rheina. Dia merindukan wanita yang begitu penyabar itu. Annisa merasakan curahan kasih sayang yang begitu besar dari Rheina kepadanya. Anni

