setibanya di mention Reyna masih memikirkan keadaan ayahnya. dia semakin hawatir dan melamun mengingat perkataan Lidya yang seolah - olah secara tidak langsung mengancamnya dia pasti akan berbuat yang lebih gila lagi untuk menyakiti ayahnya " na,..Reyna.!" seru suara yang terdengar berat namun lembut dia tersentak kaget saat tangan pria itu menyentuh pundaknya " apa yang kau pikirkan,aku dari tadi memanggilmu. tapi sepertinya kau tidak mendengarnya" serunya " ah maafkan saya, saya tadi sedikit melamun" seru Reyna " apa yang membuat mu gelisah, aku dengar kau baru saja tiba dari kediaman keluargamu" kata Jeremy sambil duduk di sofa dan membuka dasinya yang masih mengikat dilehernya
"ah iya, aku baru saja dari sana, aku membicarakan soal akuisis perusahaan ibu, tapi sepertinya ayah masih berat untuk melepaskannya,tapi bukan itu masalahnya, aku menghawatirkan keadaan ayahku sekarang" seru Reina dengan suara lirih
"ada apa, memang ayahmu kenapa" Jeremy bertanya
sambil berusaha melepaskan dasi nya belum juga terlepas melihat Jeremy yang begitu kesulitan untuk membuka dasi itu tanpa sadar Reyna mengulurkan tangan ke bagian leher pria itu dengan sentuhan lembutnya dia membatu melepaskan dasi yang ada di leher suaminya, jeremy spontan kaget dengan tiba - tiba karena gadis yg di hadapannya itu berani bertindak duluan sebaliknya dirinya jadi bereaksi yang berlebihan di hadapan Reina tapi Jeremy mencoba untuk mengendalikan diri, dia seperti itu karena merasakan sentuhan lembut dari jari - jarinya dan tidak lama dasi itupun terlepas juga, kemudian Reyna meletakkannya di meja, saat itu dia baru menyadari tindakan spontannya itu saat dia melihat wajah Jeremy yang tersenyum lembut
" ahhh! ma.. maaf tanpa sadar saya melakukannya" kata Reyna yang tiba - tiba terkejut
Reyna terlihat panik dan Jeremy sangat menikmati melihat tingkahnya yang sedang panik itu, dia akan seperti itu hanya karena berurusan dengan dirinya kemudian Jeremy menyentuh tangan gadis itu dengan lembut lalu dia berkata sambil mendekatkan wajahnya ke reyna" tidak perlu minta maaf, justru aku malah senang,kamu boleh melakukannya lagi untukku karena kita sudah menikah bukannya ini hal yang wajar yang biasa dilakukan pasutri" kata Jeremy dengan suara yang lembut Reyna mulai terpaku kembali di buatnya, wajahnya semakin merah seperti kepiting rebus "ini sama sekali tidak baik, wajahnya terlalu dekat,"jeritnya dalam hati yang semakin gelisah di permainkan oleh Jeremy, mendengar perkataan pria itu membuatnya semakin kasmaran Jeremy sangat tau perasaan gadis itu hanya saja dia tidak bisa jujur oleh perasaannya sendiri semakin dia menyembunyikannya maka semakin ingin Jeremy menggodanya.
"baiklah aku sudah menyiapkan semuanya untuk rencana bulan madu kita jadi mari kita berangkat Reyna"
serunya lagi
Reyna hampir saja melupkan soal bulan madu itu lalu kemudian jeremy pergi meninggalkan Reyna yg masih duduk terpaku di sofa, " pria itu menggodaku lagi, hampir saja aku sesak nafas di buatnya" serunya dalam hati