
Pagi yang cerah untuk memulai aktivitas seperti biasa sebagai seorang dokter kandungan, ya namaku hana sasmita.
Sudah menjadi cita-cita ku sedari aku kecil ingin menjadi dokter, dan syukurlah saat ini harapanku serta cita-citaku pun terkabulkan semuanya.
Macetnya lalu lintas kota jakarta, membuatku harus pintar mencari jalan tikus agar segera sampai ketempat tujuan.
Ku lajukan motor kesayangan yang selalu menemaniku, kupilih motor dari pada mobil agar lebih cepat sampai ke arah tujuan.
Sampai lah aku dimana tempat aku praktek .
Rumah Sakit Harapan Bunda, itulah nama Rumah Sakit tempat aku praktek. Kulangkahkan kaki menuju pintu yang otomatis terbuka saat seseorang hendak masuk.
" Pagi Dok, lagi bahagia ya dok? " tanya seorang suster yang sedang menunggu di tempat resepsionis
" Pagi, kan harus terlihat bahagia sus agar ibu-ibu yang mau lahiran tidak panik " jawabku sambil ku tersenyum
Kuteruskan perjalanan melewati lorong rumah sakit, agar aku segera sampai di ruangan ku, tapi sebelum kakiku melangkah jauh kudengar seorang pria tengah panik sambil berteriak memanggil suster atau dokter dari depan. Yah dia adalah suami dari seorang pasien yang selama masa kehamilan istrinya selalu konsultasi kepadaku.
" Tolong sus, dok, istriku pendarahan " ucapnya panik sambil mata berlinang
tak butuh waktu lama segera ku hampiri pasien tersebut
" Baik pak, bapak harap tenang kita bawa istri bapak ke ruang observasi mengingat kandungan masih dalam usia berjalan 8 bulan " ucapku agar sang suami tidak panik.
Setelah sampai diruang observasi, karena sudah dalam keadaan darurat, dan memang mengharuskan untuk melakukan operasi agar sang bayi bisa di selamatkan.
" Mohon maaf pak, istri bapak harus melaksanakan operasi karena tidak memungkinkan untuk keselamatan bayi jika masih diteruskan didalam rahim sang ibu" ku mencoba memberi tahu sang suami dengan pelan
" Baik dok tolong selamatkan istri dan anak saya " pinta sang suami kepada ku.
" Bantu dengan Doa ya pak, akan saya usahakan se maximal mungkin " jawabku sambil menyodorkan surat persetujuan untuk operasi.
Satu jam telah berlalu, dengan usaha yang aku lakukan semaximal mungkit, namun takdir berkehendak lain.
Ya itulah takdir tuhan yang tak dapat kita pungkiri. Ku hampiri sang suami dengan tatapan yang lesu, sedih dan bercampur aduk, karena hanya dapat menyelamatkan satu nyawa.
" Mohon maaf pak, istri bapak mengalami komplikasi sesaat setelah selesai operasi, dan kami sudah mengusahakan semaximal mungkin tapi takdir berbicara lain, Ibu zia tidak dapat kami selamatkan "
" Apa dok, lalu bagaimana dengan anak saya ? " air mata sudah membasahi pipi sang suami.
" Alhamdulillah anak bapak lahir dengan selamat, namun kondisinya prematur "
Antara kecewa dan sedih bercampur menjadi satu.
Satu minggu berlalu.
Kulihat bayi laki-laki mungil didalam inkubator. yah dia adalah anak yang dilahirkan oleh ibu zia, saat ini anak tersebut sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang.
" Alhamdulillah sudah bisa dibawa pulang pak bayi lucunya bapak, sabar ya pak somoga bisa jadi penghibur sekaligus teman penghilang kesedihan "
" iya dok terimakasih sudah membantu menjaga serta merawat anak saya " suara lirih terdengar dari suami mendiang ibu zia
" oh iya dok, saya mau tanya sejak kapan istri saya mempunyai penyakit tumor dirahimnya " tanya pak zafrel
" sejak 2 bulan usia kandungan ibu zia, saya sudah menyarankan agar ibu zia bersedia untuk melakukan operasi pengangkatan tumor tersebut, namun bu zia menolak, karena ia ingin merasakan menjadi seorang ibu "
" Ya Allah dok, kenapa saya tidak mengetahui hal tersebut " pipinya kembali basah dari isak tangis beliau
" sabar ya pak, semoga bapak sama keluarga diberi ketabahan dan keikhlasan "
dengan tatapan kosong pak zafrel melangkah, namun terhenti setelah beberapa langkah dan kembali menghampiri ku.
" Apa ini pak " tanyaku penasaran
" Ini titipan dari mendiang istri saya dok, ini amanah yang beliau titipkan kepada adik saya agar diserahkan ke dokter " sambil menyerahkan amplop putih.
" Ku buka amplop tersebut, dan kulihat selembar kertas dengan goresan tinta didalam nya
Pov Bu Zia
" Assalamualaikum dokter hana
Terimakasih karena sudah mau merawat, mendengarkan keluh kesah saya disaat saya hamil, serta memberikan motivasi agar saya semangat menjalani ujian ini. bersama dengan adanya surat ini ditangan dokter, mungkin saya sudah tidak dapat mengucapkan rasa terimakasih secara langsung kepada dokter.
Boleh kah saya meminta satu lagi kepada dokter? Jikalau boleh
Tolong rawat dan jaga anak saya, anggap dia sebagai anak dokter sendiri, karena hanya dokter orang yang bisa saya percaya, dan bisa menyanyangi anak saya dengan tulus
.…...................... "
Bola mataku melingkar bulat apabila ku melihat tulisan yang paling terakhir bu zia, kaget rasanya dan serta bingung
kalau penasaran apa isi terakhir dari surat tersebut, ayo ikutin update ceritanya pada eps selajutnya

