Part 04

988 Kata
Bima Atmajaya anak tunggal dari Vero Atmajaya. Bima adalah salah satu pengusaha sukses di usia yang masih terbilang cukup muda, ia memimpin salah satu perusahaan meubel terbesar di Asia. Bima memiliki wajah yang tampan, rahang yang tegas dan tatapan yang tajam, siapa yang tidak mengejar nya. Bima memiliki tinggi 183 cm dengan berat badan 75 kg serta tubuh yang atletis membuat ia terlihat sempurna. Kesempurnaan adalah miliknya. ( Bagi wanita ).  Dia adalah sosok yang ramah, bijak sana, jujur, rendah hati dan tidak sombong pastinya. Tapi kini sikapnya berubah, ia lebih pemarah, dan jarang tersenyum setelah kekasihnya pergi meninggalkan dia tanpa alasan, ia ditinggal kekasihnya 2 bulan menjelang pernikahannya . Oleh sebab itu ia kini sangat membenci cinta baginya cinta hanya akan membuat ia lemah. Jujur saja sampai saat ini Bima belum bisa melupakan kekasihnya, ia akan pergi ke bar lalu minum minum disana untuk menghilangkan ingatannya tentang Renata, walau pun dengan cara itu hanya bersikap sementara namun sangat membantunya. ............ Mobil yang dikendarai Rara dan ibunya telah sampai disebuah rumah yang mewah, rumah yang memiliki tiga lantai itu bernuansakan putih, semua barang-barang tersusun rap . Rara sangat kagum pada rumah ini,  ia berfikir berapa banyak pekerja yang disewa untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah sebesar ini. Saat sedang asik melihat lihat sekeliling ruang tersebut, jujur saja rumahnya kalah mewah dari rumah papa Vero. " Ra, kamar kamu di atas, bersebelahan sama Bima " ucap papa Vero pada Rara " Iya pah, mah kakak ke kamar mau beresin baju, sekalian bersih-bersih badan " ucap Rara Rara pun naik kelantai atas mencari kamarnya. " Nah ini dia kamarnya", membuka pintu, " wooooaaahhhh... Bagus baget pemandangan dari sini"  berjalan menghampiri jendela yang sangat besar, " waaahh ada balkonnya asyiiik " ia lari kegirangan menuju balkon . Rara sangat memperhatikan kebersihan dan kerapian jadi ia dengan teliti membersihkan setiap detail ruangannya, setalah semua beres Rara pergi untuk membersihkan badannya dengan mandi. Ia menggunakan baju tidur, lalu duduk didepan meja rias melakukan rutinitas skincare nya. Tok... Tok... Tok. " Non,, ditunggu tuan dan nyonya di bawah " teriak seorang wanita dari luar bilik kamarnya, yang sudah ia yakini sebagai asisten rumah tangga dirumah ini. " Oke bi, nanti Rara turun " ia berteriak dari dalam kamar. Rara pun turun dari kamar menuju meja makan, ternyata papah, mamah dan Bima telah menunggunya. " Maaf menunggu lama " ucapnya sopan Bima hanya menatap datar kerahnya, ia bingung apa ada yang salah dengan tampilannya. " Kak, kakak mau kuliah dimana nanti ...? " Ibunya membuka pembicaraan . " Mah, kakak rencana mau buka toko kue dulu, baru tahun depannya lanjut kuliah insya Allah " ucap Rara tidak yakin, entah kenapa ia tak yakin akan lanjut kejenjang perkuliahan. " Emang udah dapet lokasinya yang strategis Ra " tanya papa Vero " Udah Rara cek strategis banget mah berada ditengah tengah kota " ujar Rara bersemangat " Kenapa gak kuliah aja, kenapa mau bisnis dulu " tanya papa Vero lagi " Ummm,, pingin aja pah " ucapnya lemah " Memang dananya kakak sudah ada " tanya ibunya dengan lembut " Iya, berapa dananya nanti biar papa yang danai "  ucap Vero " Ih... Kamu mas malah didukung " celetuk Venny lalu mencubit lengan suaminya. " Soal dana mamah sama papah gak perlu khawatir, Rara udah ada dana nya,  tinggal Rara bayarin aja " ucap Rara enteng " Senin Rara ketemuan sama pemiliknya buat pembayaran hehe " Rara menjelaskan dengan cengengesan membuat kedua orang tuanya tak percaya. " Yang beneran kak, kamu dapet uang dari mana " cecar ibunya yang sedikit emosi " Dari mamah, mamah kasih uang jajan Rara kan banyak banget " ucapnya enteng Kedua orang didepannya hanya saling beradu pandang, lain hal nya dengan Bima ia tak memperdulikan orang orang tersebut ia tetap asik makan tanpa merasa sedikitpun terganggu. Ting. Ting. Ting.  Suara notifikasi pesan terdengar beruntun. Pasti dari grup gumam Rara, Rara pun membuka aplikasi w******p nya benar saja obrolan grup ternyata. Mey : Rara minta nomor kontak mas Bima Rara: males, Mey : Rara ☹️ Rara : apa Mey lope ☺️☺️☺️ Mey  : minta nomor kontak mas Bima . Plisss                Rara : Mey lope aku aja gak punya nomor              kontak kak Bima Mey Mey : oke oke Rara : mana Tiwi...            Wooyyy Tiwi....! Tiwi : Napa ...?              Suruh minta sendiri Ra hihihi.. Mey. : Jahat kalian sahabat bangke Tiwi : Rara : ikut yuk hari Senin, pembayaran ruko               gue... Tiwi : waahh mau bisnis lo...? Gak kuliah..? Mey : ikuut...! Sambil makan makan ya Raa,,                  Soalnya lama kita gak makan makan Tiwi : makan Mulu ...! Mey : hidup itu kalo gak makan ya gak afdhol            Wii... Tiwi : tau apa lo Mey tentang afdhol Mey : kakak nya Gita Wii... Rara: itu mah kak Afdhal Mey lop Tiwi : itu Afdhal anjir. Rara : pada mau ikut gak ntar ku kirim            alamatnya kalo mau. Tiwi : oke...! Mey : mauuuuu....!            Rara nomer mas Bima yaa plisss Rara tak lagi membalas pesan sahabatnya itu, bila terus dilanjutkan maka obrolan mereka tak akan ada ujungnya. " Buset dah ya, ni jempol yang ngetik kok tenggorokan yang kering ya "  gumamnya lalu kemudian ia berjalan menuju kedapur untuk mengambil air minum, ia meminum secara perlahan kemudian duduk di kursi dekat meja makan. Ia kembali mengingat Huda entah ancamannya begitu membuat ia ketakutan apa lagi setelah peristiwa disekolah kemarin. Huda adalah tipe laki-laki yang sangat nekat apa yang diinginkan pasti akan didapatkan apapun itu caranya. Rara yang tengah melamun dikaget kan dengan kedatangan Bima. Bima kedapur untuk mengambil air minum dan sebuah obat entah untuk obat  apa Rara pun tak tau . Setelah mengambil obat dan air minum Bima tanpa menyapa Rara, Bima  segera berlalu berbalik kekamarnya. Rara terkejut dan merasa bingung ada apa dengan Bima padahal kemarin sikapnya sangat ramah padanya. Rara tak ambil pusing mungkin Bima sedang dalam masalah jadi seperti itu, Rara pun bergegas kekamarnya untuk merajut mimpi. Terimakasih buat yang udah baca
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN