Tak terasa seminggu telah berlalu begitu cepat nya, Ujian Nasional telah berlalu Minggu kemarin, Minggu kemarin adalah minggu minggu yang sangat mendebarkan bagi Rara dkk.
Dua minggu lagi adalah pengumuman kelulusannya, ia berniat untuk belajar berbisnis membuka toko kue dan toko bunga, setelahnya tahun berikutnya baru ia melanjutkan kejenjang perkuliahan.
Hari ini hari yang sangat sibuk di rumahnya, banyak orang beramai ramai membuat dekor untuk acara pernikahan ibunya dengan om Vero, Rara akhirnya menerima om Vero untuk menjadi ayah sambungnya.
Ia juga tidak bisa egoise membiarkan ibunya kesepian ibunya pun memerlukan sandaran tempatnya berkeluh kesah ia mempercayakan ibunya pada om Vero.
Hari ini hari yang paling di tunggu-tunggu yaitu hari dimana ibu dan calon ayahnya menikah, hari itu tak banyak yang diundang, hanya rekan kerja ibu nya dan om Vero dan teman sekelas Rara.
Pernikahan berjalan dengan penuh khidmat ijab qobul yang di ucapkan lantang oleh om Vero membuat Rara terharu, ia sangat yakin mempercayakan ibunya pada om Vero.
" Iiiihhh pengen nikaahh rasanya " celetuk Mey menyaksikan akad didepannya
" Huussstt... Diam bengke acara khidmat gini bisa rusak gara-gara lo " ketus Tiwi kesal
Tiwi mencolek pinggang rara berkali-kali
" Sssttt... Sssttt... Sssttt, raaa... Raaa... " Dengan suara yang amat pelan.
" Heemmm... Kenapa Wii " ucap Rara
" Itu siapa di samping bokap lo " menunjuk pria yang duduk disamping om Vero.
" Itu kak Bima anaknya om Vero " ketus Rara
" Rara mau minta nomer kontak kak Bima dong Ra " ucap Mey lalu menyodorkan ponselnya
" Iiisssh... Lo pada yaa lagi khidmat ini jgan ribut, lo kalok mau nomer kontaknya minta aja sendri " tukasnya lalu meninggalkan kedua sahabatnya.
" Mau kemana Ra..? " Tanya Tiwi
" Mau nyamper mamah dulu " ucapnya singkat
Tiba-tiba Mey menarik-narik lengan baju Tiwi.
" Ih apaan sih Mey " gerutunya namun pandangannya tak terlepas dari Bima
" Ikut Rara yuk wi, mas Bima perfect banget wi " ucap Mey sambil melongo
" Malu gue bangke, mereka lagi intim banget lo malah Dateng ngacau " ketusnya.
" Kan sekalian ngucapin selamat sama Tante Venny, Tiwi " ujarnya dengan wajah sedih
" Terserah ...! " Meninggalkan Mey lalu berbalik
" Mau ikut gak lo ...! " Ucapnya galak
" Kemana " balas Mey lemah
" Nah lo, bilangnya lo mau ngasih selamat sama Tante Venny " gerutu Tiwi
" Aaaahhhhh ikuuttt...." Ucapnya manja
Rara menghampiri ibu dan om Vero lalu mencium tangan keduanya.
" Om Rara percayakan mamah sama om ya, tolong jaga mamah " ucapnya berbisik lalu mencium tangan ayah sambungnya dengan lembut.
" Rara,, Jagan panggil om dong panggil papah kan papah sudah nikah dengan mamah kamu " lalu mencium kening sang istri Rara hanya tersenyum bahagia melihat mamahnya tertawa tanpa beban.
" Tante, hehehe selamatnya tante semoga cepet dapat adenya Rara " Mey menyalami salah satu wanita yang berdiri di samping om Vero.
" Mey apa apaan sih lo, lo nyalamin siapa bege ...? " Teriak Tiwi
" Ehh...! Bukan pengantin nya Tante " ucap Mey gugup
" Bukan saya yang jaga makanan mbak " ucap ibu yang berada di samping om Vero. " Saya tadi mengantarkan minuman untuk pengantin mbak karena kehausan pengantinnya " tambah nya lagi, Rara, Tiwi dkk tertawa melihat kelakuan Mey.
" Hehehe maaf Tante, selamat nya Tante semoga cepet kasih Rara adek ya Tante " ucap Mey bersemangat .
" Om selamat yaa, mas Bima minta kontak nya dong " ucap Mey singkat namun giliran dengan Bima Mey langsung terang terangan meminta nomer kontak Bima. Namun Bima hanya tersenyum tidak mengindahkan permintaan Mey.
" Selamat ya tante, om, semoga menjadi keluarga yang selalu bahagia, Ra aku langsung pulang takut mamah ku nyari'in" ucap Tiwi lalu berpamitan dan pulang bersama Mey.
" Mas Bima jahat wi " ucap Mey sambil terisak
" Lo yang salah bangke mana ada orang yang ngasih nomor nya ke orang yang gak dikenal " gerutu Tiwi panjang lebar.
Mey pun tertawa " hihihi bener juga ya ".
" s***p ni bocah " ujar Tiwi kemudian
Malam ini suasana terasa sangat intim, Rara sangat senang karena pilihannya tepat, kini dilihatnya ibunya sedang bermakna dengan suaminya di sofa karena tak ingin mengganggu akhirnya Rara pergi ketaman belakang duduk sendiri dikirai taman.
Ponsel Rara tiba-tiba berdering melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut wajahnya berubah ketakutan, sekilas bayangan bayangan ia di siksa bahkan hampir dilecehkan kembali tergambar jelas di kepalanya, ia menangis ketakutan, tapi dering ponsel tersebut tak pernah berhenti tapa sadar ia terisak.
" Gak jangan hiks,, aku gak mau lagi hiks..." .
Tiba-tiba tangan kekar merebut ponsel tersebut dari tangan Rara dan mematikan panggilan tersebut, pria itu adalah Bima, setelah telepon di matikan tak lama sebuah pesan masuk yang berisikan.
Huda : Jangan pikir lo bisa kabur dari gue bangsat...!! Gue bakal bikin hidup lo gak tenang anjing, lo udah buat gue sakit dan sekarang gue yang akan buat lo sakit, percuma lo kabur dari gue. Ingat ucapan gue Rara, kalo gue gak bisa miliki ko secara baik baik maka gue miliki lo dengan cara gue...!
Membaca pesan tersebut pria itu mengepalkan tangannya entah apa yang ia rasakan saat ini.
" Huda siapa Ra " tanya Bima dengan datar
Masih sesenggukan belum bisa menjawab, lalu dipeluknya mencoba menenangkan Rara bukannya tenang Rara malah menangis histeris.
" Ssssstttt....! " Bima meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri. " Lo gak perlu takut gue gak bakal jahat sama lo, malah sebaliknya gue harus jaga lo karena lo sekarang adek gue, lo tanggung jawab gue juga sekarang Ra" Bima mencoba menenangkan Rara. Bima bernafas lega akhirnya Rara sedikit-sedikit bisa tenang.
" Diii.....diiaa, aaaa...aannnnu mantan aku " jawabnya lirih dengan air mata yang membasahi pipinya.
" Kalok lo gak siap cerita gak usah cerita Ra " ucap Bima
" Dia kasar kak, dia nyakiti aku di...dia dia hampir hikss..." Rara tak sanggup mengatakan bahwa Huda hampir memperkosa dia.
Lalu Bima merengkuh tubuh mungil Rara, kali ini tak ada penolakan, tapi Bima segerah melepaskan pelukannya ia takut Rara merasa tak nyaman.
" Sorry Ra,, kakak mau tenangin kamu maaf kalo gak nyaman " ucap Bima dengan rasa bersalah.
" Aku masuk deluan ya kak, udah malam " ucap Rara berpamitan untuk tidur.
Hari ini Rara dan ibunya diboyong kerumah om Vero, sebenarnya Rara sangat berat meninggalkan rumahnya karena terlalu banyak kenangan indah di rumah ini, tapi mau tak mau ia harus ikut kerumah papahnya karena ia tak mungkin berani tinggal dirumah ini sendiri.
Mohon dukungannya kakak
Insya Allah up tiap hari .