"Kamu jadi 'kan, Dit lanjut kuliah bareng Damar?" Iren, Mama Damar menatap Radit yang tengah menyantap masakannya. Radit dan Damar saling melemparkan pandangan. Damar menaikkan kedua alisnya menunggu apa yang akan lelaki itu katakan. "Sedari kecil kamu sama Damar itu punya cita-cita yang sama, pengen jadi pilot, terbangin pesawat. Kalian berdua apa-apa selalu sama, apalagi kalau bareng Permata." Iren geleng-geleng kepala mengingat masa kecil anaknya. Mendengar nama Permata membuat Damar melirik Radit hingga tatapan mereka bertemu. Radit mendengus menatap Damar, ia tersenyum kepada Iren. "Iya, Tante. Radit juga udah bilang Papa, tapi Papa bilang terserah Radit aja maunya gimana. Radit masih bingung, Tan." Iren mengernyitkan dahinya, mengambil tumis kangkung di depannya. "Lho, bingung kena

