"Apa yang terjadi padamu? Apa yang membuatmu sampai begini? Ini semua karena percakapan kita pagi tadi? Aku minta maaf jika memang perkataanku pagi tadi menyinggung perasaanmu. Kumohon kembalilah," pinta Juan.
"Tinggalkan aku sendiri, Juan. Nanti kau juga akan tahu aku ini kenapa." Artur terus berjalan menjauhi Juan.
Juan yang terus mendapatkan penolakan dari Artur. Tak bisa terus-menerus meminta Artur untuk kembali. Ia memutuskan untuk berhenti mengejarnya dan mengajaknya pulang. Diam terpaku melihat Artur berjalan pergi meninggalkannya. Perasaan bersalah dan rasa penasaran menyelimuti Juan. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke bar meski tanpa Artur.
Setibanya di bar, ia langsung disambut oleh teman-temannya. Suasana bar sedang tidak terlalu ramai. Mereka bertiga bisa menggunakan waktu tersebut untuk berbincang.
"Kenapa kau kembali tanpa membawa Artur? Dimana dia, Juan? Kau tidak berhasil menemukannya?" tanya Diego.
"Aku menemukannya tapi tak mampu membawanya kembali. Aku sudah berusaha untuk membujuknya pulang, tapi ia menolak. Sepertinya ia masih tersinggung dengan apa yang kukatakan pagi tadi. Sampai-sampai ia tak menggubris ajakanku. Ia memilih pergi begitu saja ketika bertemu denganku."
"Tenangkan dirimu, Juan. Biarkan Artur sendiri dulu. Ia memang begitu ketika sedang tidak baik-baik saja perasaannya. Aku yakin ada alasannya mengapa ia sampai begitu. Kau tak perlu khawatir. Begitu perasaannya sudah kembali baik, aku yakin dia akan kembali datang ke sini. Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri atas itu," kata Sanchez mencoba menenangkan Juan.
Juan mencoba mengiyakan apa yang dikatakan oleh Sanchez. Sebab, teman terdekatnya lah yang mengetahui sifat dari Artur. Juan hanya bisa berharap Artur segera membaik dan bisa kembali lagi ke tempat tersebut.
***
Hari telah berganti, Juan memulai aktivitasnya pagi ini. Membereskan dan menyiapkan bar miliknya yang sebentar lagi akan segera buka. Ia mengelap tiap meja dan menurunkan beberapa bangku. Sampai semuanya siap, ia baru membalik tulisan tutup di depan barnya menjadi tulisan buka.
Tak berselang lama datanglah kedua temannya, Diego dan Sanchez. Mereka datang dengan wajah yang gembira. Bahkan sambil berlomba untuk tiba lebih dulu di sana. Juan melihat mereka dengan wajah bahagia, membangkitkan kembali rasa semangatnya. Rasa optimis kembali hadir di dalam dirinya.
Matahari kian meninggi hingga tepat berada di atas kepala. Menandakan waktu sudah tengah hari. Juan berjalan keluar bar, menunggu Artur datang. Biasanya jam segini Artur akan datang selepas mengantar paket. Beberapa menit Juan menunggu, tapi tak membuahkan hasil. Ia kemudian kembali masuk ke dalam dengan wajah yang kurang mengenakan.
"Ada apa? Kenapa wajahmu tampak murung begitu?"
"Artur tidak juga datang ke sini. Apa dia masih marah padaku? Apakah ia tak akan pernah datang kembali ke sini? Aku sangat amat merasa bersalah padanya. Pagi tadi kukira ia kembali mengantar paket. Sehingga aku mengira ia akan datang ketika siang. Tapi tetap tidak ada tanda-tanda ia datang."
"Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku pernah berselisih paham dengannya. Ia mendiamkanku hampir satu minggu lamanya. Kau tidak perlu cemas. Dia pasti akan kembali membaik. Kau tenang saja," kata Sanchez kembali mencoba menenangkan Juan.
Juan kembali hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan Sanchez. Meski hatinya sudah merasa cemas. Perkataannya tempo hari mungkin saja membekas di hati Artur. Ia memang tidak pandai menjaga perasaan orang lain.
Hari-hari berganti. Juan tetap menunggu kedatangannya Artur. Ketika pagi hari, ia semangat membuka pintu barnya. Berharap Artur ada di sana. Tapi ia tak ada di sana. Ketika siang hari tiba, Juan bersemangat untuk menunggu di depan bar. Mana tahu Artur akan datang selepas bekerja. Akan tetapi sama saja hasilnya. Artur tak pernah datang sampai sekarang.
Seminggu berlalu sesuai perkataannya Sanchez. Juan tetap sabar menunggu meski hasilnya masih nihil. Ketika keputusasaan mulai menghinggapinya. Tiba-tiba Sanchez berlari masuk ke dalam bar. Juan seketika terkejut melihatnya. Ia mulai menduga jika Artur datang hingga membuat Sanchez berlari ke dalam. Juan segera berlari menghampiri Sanchez dan berniat menyambut Artur.
Ternyata dugaannya salah. Sanchez berlari masuk menghindari sesuatu. Wajahnya berkeringat dan berubah pucat. Ia tampak sangat amat ketakutan. Juan kemudian mencoba menenangkan Sanchez yang ketakutan.
"Ada apa? Kenapa kau berlari masuk seperti itu? Ada siapa? Apa Artur datang?" tanya Juan sambil memegangi Sanchez yang gemetar.
"Tolong aku, Juan! Para mafia itu datang ke sini. Aku harus bersembunyi. Jangan katakan aku ada di sini. Mereka pasti sedang mencariku!" kata Sanchez terengah-engah.
"Apa?! Sudah tenanglah! Kau bersembunyilah di dalam. Biar aku yang hadapi mereka. Bawa Diego turut serta bersamamu. Biar aku yang memberi pelajaran pada mereka jika sampai mereka berbuat macam-macam."
"Kau harus berhati-hati. Mereka selalu membawa senjata api."
"Kau tenang saja! Sudah sana cepat masuk. Bawa Diego bersamamu!" Perintah Juan.
Sanchez segera berlari bersembunyi di balik meja bartender. Ia mengajak serta Diego bersembunyi bersamanya. Diego yang tak tahu apa yang terjadi. Lantas memasang wajah kebingungan dan hendak menanyakan yang terjadi. Sanchez hanya memberika isyarat tutup mulut pada Diego agar ia tak bertanya.
Tepat setelah Sanchez berhasil bersembunyi. Para mafia itu masuk ke dalam bar. Mereka berjumlah lima orang. Perawakan khas mafia mudah dikenali oleh Juan. Mengenakan pakaian yang cukup rapih sambil menyembunyikan senjata di balik stelan jas mereka. Juan mencoba bersikap tenang dan berjalan mendekati mereka. Mencoba menyambut mereka layaknya pelanggan pada umumnya.
"Selamat datang, ada yang bisa dibantu?" ujar Juan.
"Tentu, di mana pemilik tempat ini? Aku ingin bertemu dengannya."
"Pemiliknya sedang tidak ada di sini. Ada pesan yang ingin disampaikan padanya?"
"Oh begitu, ya? Sampaikan pada pemilik tempat ini. Kalian harus membayar pajak atas berdirinya tempat ini. Bayar per bulan dan jangan sampai telat. Sudah beberapa bulan lamanya tempat ini dibuka tapi kami belum meminta upeti dari sini."
"Kalau pemilik tempat ini menolak untuk membayar? Apa yang akan terjadi? Biar aku sampaikan kemungkinan terburuk padanya."
"Jika ia sampai menolak untuk membayar. Maka jangan salahkan kami jika tempat ini akan kami hancurkan! Tidak ada yang berdiri di sini tanpa membayar upeti. Jika tak sanggup maka pergi dari sini! Atau kalian akan menerima resikonya!"
"Baiklah akan kusampaikan pada pemiliknya. Apa ada lagi yang ingin kalian sampaikan padanya?"
"Ku dengar di tempat ini memperkerjakan para remaja? Ada tiga orang jumlahnya. Kebetulan sekali salah satu orang kami menghilang tanpa jejak. Anak itu kurir kami dan sekarang sedang dalam pencarian. Aku punya anggapan kalau mereka ada di sini. Apa itu benar?"
"Tidak benar. Tidak ada anak-anak yang bekerja di sini. Hanya aku yang bekerja di sini. Mungkin kau salah tempat."
"Begitu, ya?! Anggap saja kau benar dan dugaanku salah. Kalau sampai dugaanku benar. Kami akan ambil paksa kurir kami, suka atau tidak suka. Jangan halangi kami atau kau akan, Bem! Menerima hadiahnya," kata mafia itu sambil menodongkan senjata api ke arah Juan.
"Aku mengerti. Ada lagi yang ingin kalian katakan?" tanya Juan dengan sikap tenang. Tak menunjukkan gelagat ketakutan meski moncong senjata di depan kepalanya.
"Tidak ada! Kami akan kembali lagi beberapa minggu ke depan. Kalian harus sudah siapkan upetinya."
"Baik, akan ku sampaikan semuanya pada pemilik tempat ini."
Para mafia itu kemudian berbalik badan dan berjalan keluar. Juan mengantar mereka keluar. Memastikan mereka benar-benar pergi dari tempatnya.
Bersambung