Juan hendak bertindak ketika temannya dalam bahaya. Ia hendak maju dan memberikan pelajaran kepada si oknum polisi tersebut karena sudah berbuat kasar kepada temannya. Tapi polisi tersebut berhasil menahan nya dengan ancaman.
"Jangan mendekat! Kau tidak ingin melihat temanmu dalam masalah kan? Jika kau ingin semuanya tetap baik-baik saja maka pertimbangkan untuk maju dan melangkah. Tapi jika kau ingin memberiku pelajaran silakan saja tapi temanmu akan menerima akibatnya!" Ujar si oknum polisi mengancam Juan.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya dia mempermainkanku. Aku tidak punya pilihan selain mengikuti permainannya," gumam Juan dalam hatinya.
"Tenanglah Juan! Aku tidak apa-apa disini pikirkan matang-matang jangan sampai gegabah dalam mengambil tindakan," kata Sanchez mencoba menenangkan Juan.
Diego yang sejak tadi melihat kakaknya dalam ancaman ingin sekali Ia melakukan tindakan. Ia ingin sekali meminta Juan untuk memberikan pelajaran pada si oknum polisi tersebut. Akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena sang kakak meminta agar Juan tetap tenang. Si oknum polisi tersebut juga tak berhenti mengancam jika mereka melakukan tindakan dan yang tidak dipikirkan sebelumnya.
"Bagaimana? Kita bisa menghabiskan waktu seharian untuk ini. Orang-orang akan segera datang dan melihat keributan yang sedang terjadi saat ini. Kau tak punya banyak waktu untuk menentukan pilihan. Bekerja sama denganku aku atau tidak? Pilihan ada di tanganmu."
"Kerjasama apa yang kamu tawarkan? Aku akan menerimanya jika itu memungkinkan. Tapi jika kerjasama yang kau tawarkan merugikan aku tidak segan-segan untuk menolaknya."
"Aku hanya menawarkan kerjasama seperti yang dulu aku tawarkan. Bedanya aku tidak memberikan jaminan perlindungan apapun karena kau bisa melindungi tempat ini sendiri tanpa bantuan ku. Aku hanya meminta bagian setiap bulan dari hasil penjualan mu. Anggap saja itu uang tutup mulut untuk rahasia ini. Bagaimana? Apa kamu menyetujuinya?"
"Berani kau memeras ku! Aku tidak akan pernah memberikan uang sepeserpun kepada pengecut sepertimu! Mengiming-imingi tawaran perlindungan dan perizinan. Tapi nyatanya kau tidak melakukan apapun."
"Tapi kau bisa melakukan itu sendiri. Anggap saja yang aku pinta hari ini adalah uang tutup mulut. Seandainya kau tahu, aku berpapasan dengan para mafia tersebut ketika mereka keluar dari tempat ini. Kau pasti ingin tahu apa yang aku bicarakan dengan mereka kan tanda tanya yang jelas ada hubungannya dengan anak ini. Kau pasti tahu apa yang aku bicarakan,"
"Benar-benar licik! Kau tidak bisa menggunakan kakakku untuk kepentingan mu! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kau sudah benar-benar kelewatan!" Diego murka begitu tahu sangka dijadikan alat oleh oknum polisi tersebut untuk memeras. Ia lantas mengambil kursi dan hendak melemparkannya.
"Diego! Jangan lakukan itu. Jangan terpancing dengan apa yang ia katakan. Kau harus tetap tenang," ujar Sanchez menahan sang adik melakukan tindakan nya.
Oknum polisi tersebut mundur beberapa langkah. Sambil membawa Sanchez dalam dekapan tangannya. Ia mengeluarkan senjata tajam dan meletakkannya begitu dekat dengan leher Sanchez. Membuat Sanchez tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku senang dengan perpanjangan ini! Tapi sepertinya kita harus mengambil keputusan segera. Aku tidak punya banyak waktu untuk negosiasi yang berjalan alot dengan kalian. Jika aku tidak juga mendapatkan jawaban. Maka anak ini akan aku serahkan pada para mafia."
"Jangan turuti kemauan dia, Juan. Pikirkan semuanya matang-matang," kata Sanchez dalam keadaan terdesak tetap meminta Juan untuk tenang.
"Juan! Kumohon selamatkan kakakku. Aku tidak ingin melihat dia terluka. Kumohon lakukan sesuatu," pinta Diego.
Suasana yang semakin kacau membuat Juan terpojok. Tekanan datang kepadanya agar segera membuat keputusan. Desakan terus dari banyak pihak membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih. Ditambah provokasi yang tak berhenti dilakukan oleh oknum polisi agar Juan mau mengikuti permintaannya.
"Baiklah! Aku akan menuruti permintaanmu. Tapi lepaskan temanku! Jangan kau sakiti dia!" Juan terdesak akhirnya membuat keputusan.
"Pilihan yang bagus." Oknum polisi tersebut kemudian melepaskan Sanchez dari cengkramannya.
Keputusan yang diambil Juan sangat disayangkan oleh Sanchez. Juan tak bisa tenang sedikit lebih lama agar bisa membuat keputusan dengan pemikiran yang matang. Sanchez yang terbebas dari cengkraman itu menatap Juan dengan tatapan penuh tanya.
"Sekarang kau bisa pergi tinggalkan tempat ini!"
"Pergi? Apa kau lupa? Kau harus memberikan uang tutup mulutnya dulu kepadaku. Aku akan pergi setelah kau memberikannya. Kau harus menepati janjimu. Karena aku sudah membebaskan temanmu."
"Tapi aku sudah menyetujui keinginanmu? Apa lagi?!"
"Kau memang menyetujui keinginanku, Juan! Tapi kau belum memberikannya. Aku tidak mengatakan kau harus memberikannya lusa. Aku memintanya saat ini sebagai bukti kau akan menepati janjimu. Kalau kau menyelisihi ucapanmu, aku tak segan-segan untuk melaporkan semuanya kepada para mafia itu."
"Beraninya kau mengancamku!"
"Apa yang hendak kau lakukan padaku? Memberiku pelajaran? Pikirkan baik-baik! Berikan uangnya dan aku akan pergi tanpa membuka mulut atau kau ingin menghajarku dan masalah semakin bertambah besar."
Juan menatap oknum tersebut dengan tatapan penuh amarah. Tangannya mengepal, tapi tak bisa ia ayunkan. Pada akhirnya ia hanya bisa menahan amarahnya. Ia kemudian berjalan menuju tempat penyimpanan uang. Mengambilnya lalu memberikannya kepada oknum tersebut.
"Jangan kau berikan uang itu padanya, Juan. Kau tidak harus melakukannya. Dia hanya mempermainkanmu," kata Sanchez mencoba mencegah Juan.
Juan tak menggubris perkataan Sanchez. Ia tetap menyerahkan uang tersebut kepada si oknum. Oknum tersebut dengan wajah riang gembira penuh kelicikan menerima uangnya. Ia bahkan menghitung langsung uang tersebut begitu menerimanya.
"Semuanya sudah kulakukan. Sekarang pergilah! Tinggalkan tempat ini! Sebelum aku berubah pikiran dan mengirimmu ke neraka!" Ancam Juan.
"Tenanglah, teman. Aku akan pergi. Kau harus menjaga anak tersebut baik-baik. Senang berbisnis denganmu," kata si oknum lalu pergi dari bar tersebut.
"Kenapa kau lakukan itu, Juan? Kenapa kau menyetujui permintaannya? Dia hanya mempermainkanmu. Kau tidak seharusnya melakukan itu. Itu hanya ancaman, oknum itu tidak akan benar-benar melakukannya. Dia takut bertemu dengan para mafia," ujar Sanchez.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Kau pikir aku bisa berpikir jika semuanya mendesakku untuk membuat keputusan?! Apa kau kira aku ingin melakukan ini?! Aku melakukannya untuk menyelamatkanmu. Kau hanya menyalahkanku setelah yang kulakukan! Aku sudah berusaha sebisaku! Kau bisa tanyakan padanya kenapa aku melakukan ini!" Juan menujuk ke arah Diego.
"Aku yang mendesaknya untuk melakukan sesuatu, Kak. Kau tak bisa menyalahkan Juan atas ini. Aku juga mengambil peran ketika Juan membuat keputusan. Semua ini kami lakukan untukmu. Aku tak mau kau terluka," ujar Diego
.
Juan yang kepalang emosi meninggalkan mereka berdua. Ia berjalan masuk ke kamarnya untuk menenangkan diri. Suasana sedang tak bersahabat untuk mereka bertiga. Sementara itu, oknum polisi tadi masih mengintip dari luar. Melihat situasi yang terjadi selepas ia keluar dari bar.
"Binggo! Permainan dimulai," kata si oknum
.
Bersambung