"Keadaan di luar sana sedang benar-benar kacau. Kita tidak pernah tahu kapan mereka akan datang dan siapa yang benar-benar akan menangkap kalian. Kita harus segera menyusun rencana paling tidak untuk menjaga diri kita masing-masing. Tempat ini harus tetap berjalan agar tetap ada pemasukan untuk kita. Tapi harus ada yang dikorbankan."
"Apa maksudnya dengan harus ada yang dikorbankan Juan? Apakah kau akan mengorbankan kami kepada para mafia?" Diego mulai khawatir Juan tak lagi berada di pihak mereka.
"Bukan begitu yang kumaksud. Kalian harus tetap berada di sini tapi kalian tidak bisa lagi muncul membantuku dalam melayani para pembeli yang datang. Mau tidak mau kalian harus tersembunyi. Jadi, yang dikorbankan adalah aku yang harus seorang diri melayani para pembeli yang datang. Begitu maksudnya apa kau paham?"
"Bukankah kau juga sedang dalam bahaya Juan? Mereka tidak hanya mengincar ku tapi juga dirimu. Bahkan mereka menginginkan sekali untuk mengalahkan mu bagaiamana pun caranya. Mereka pasti sangat bersemangat untuk itu. Tidak ada yang benar-benar aman di antara kita."
"Aku tahu itu. Tapi setidaknya orang-orang biasa tidak akan berani melakukan itu padaku. Mereka akan berpikir dua kali bahkan berkali-kali untuk menangkap dan menyerahkan kepada para mafia. Berapapun hadiah yang para mafia tersebut tawarkan pada mereka. Aku yakin tak seorangpun berani melakukan itu kecuali memang mereka yang bernyali besar dan orang-orang yang pernah kalahkan."
"Kalau begitu sebentar lagi bar ini akan buka Juan, kami hanya bisa membantumu membereskan barang ini ketika hendak buka dan saat sudah tutup. Kami akan memantau dari balik kamarmu."
"Aku tidak masalah dengan hal itu. Selama itu membuat kalian aman maka rencana itulah yang harus kita jalankan. Sekarang rencana itu harus kita mulai. Sudah waktunya buka."
Mereka bertiga sepakat untuk menjalankan rencana. Diego dan Sanchez bersembunyi selama barat tersebut sampai tutup. Sedangkan Juan akan melayani para pembeli yang datang seorang diri. Dengan begitu mereka bisa meminimalisir resiko yang ada ada tapi juga tetap bisa mendapatkan pemasukan dari barang tetap buka.
Beberapa jam setelah bar tersebut buka. Para pengunjung yang datang tak sebanyak seperti biasanya. Bahkan kapasitas yang berada di bar tersebut tidak terisi sepenuhnya. Para pembeli yang datang hanya mengisi setengah dari kapasitas yang tersedia. Penurunan pembeli yang datang mulai terasa. Namun hal tersebut tak segera disadari oleh Juan. Ia masih menganggap hal tersebut merupakan hal yang wajar.
Sampai mereka tutup di hari tersebut. Pengunjung yang datang yang benar-benar hanya mampu mengisi setengah dari kapasitas tempat tersebut. Bahkan mereka bisa tutup lebih awal dari jam biasanya karena sudah tidak ada lagi pembeli yang datang. Mereka yang datang cenderung memesan untuk dibawa pulang ketimbang menikmati pesanan tersebut di sana secara langsung.
Juan masih mengira hal tersebut merupakan hal yang wajar. Hingga keesokan harinya, ia optimis kalau hari ini lebih baik dari yang kemarin. Ia percaya kalau hari ini pembeli yang datang akan ramai seperti biasanya. Semangatnya menggebu-gebu sejak pagi. Seiring berjalannya waktu pada hari tersebut, ekspektasi yang tinggi tak berbuah hasil nyata.
Pengunjung yang datang sama sekali tak banyak. Bahkan cenderung berkurang dari hari kemarin.
Juan mulai menyadari kalau ada penurunan drastis kepada para pengunjung yang datang di tempatnya. Ia mulai memikirkan strategi agar para pengunjung tersebut datang kembali ke tempatnya. Ia masih mengira kalau para pengunjung yang tak datang kembali karena kesalahannya dalam memberikan pelayanan.
Ia mulai mengevaluasi diri dan tempat tersebut. Mencari hal yang membuat para pengunjung ntar lagi datang ke tempat tersebut. Juan mulai memeriksa satu persatu perlengkapan yang ia miliki. Dimulai dari menu yang tersedia mulai ia lakukan inovasi. Dengan harapan inovasi yang baru dari masakan dan minuman yang ia buat dapat kembali menarik pembeli.
Tak hanya itu, ia mendekorasi ulang tempatnya agar terlihat lebih menarik. Tujuannya sama untuk menarik kembali para pelanggan yang telah pergi. Mungkin mereka bosan dan melihat tampilan dari tempat tersebut. Ketika melihat tampilan yang baru bisa saja para pembeli tersebut menjadi kembali tertarik untuk datang.
"Beres! Dengan begini aku yakin para pembeli akan kembali datang bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Penampilan yang baru menu yang baru semoga mereka suka," kata Juan optimis.
"Semoga saja, Juan. Para pembeli akan kembali datang. Kau sudah berusaha melakukan yang terbaik," ujar Diego menyemangati.
Wajah baru dan semangat baru. Juan semangat kembali memulai hari ini. Setelah hampir seminggu penurunan pengunjung yang datang ke tempatnya. Begitu tempatnya dibuka, ia tak langsung dapat pembeli. Ia harus menunggu beberapa jam sampai pembeli pertama datang. Merasa ada yang janggal karena penurunan yang terjadi bersifat drastis. Juan mulai memikirkan penyebabnya.
"Apa mungkin para pengunjung yang datang terpengaruh oleh isu yang beredar?" ujar Sanchez.
"Isu? Apa maksudmu? Isu apa?"
"Isu tentang kita yang dijadikan saymebara oleh para mafia. Bukankah hal tersebut mungkin saja? Menjadi pertimbangan para pembeli untuk datang ke tempat ini? Mereka jadi takut karena akan berurusan dengan para mafia jika berani datang ke sini."
"Kau benar! Bisa saja ada provokasi di luar sana yang tidak kita ketahui. Karena tidak ada seorang pun yang dari kita bisa keluar mencari informasi. Mereka memanfaatkan itu untuk membuat kita tak bisa bertahan lebih lama dalam persembunyian."
"Lalu bagaimana kita bisa memastikan apakah benar para pengunjung yang datang terpengaruh oleh mereka? Bagaiamana kalau dugaan kita salah?"
Mereka bertiga yang saling bertanya satu sama lain. Tiba-tiba datanglah seseorang yang membawa jawaban atas pertanyaan mereka.
"Arthur!" Teriak Diego begitu melihat Arthur datang.
Juan dan Sanchez seketika menoleh. Mereka terkejut melihat Arthur yang tiba-tiba datang ke sana.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apakah aman untukmu datang ke sini? Bagaiamana kalau para mafia itu tahu?" tanya Sanchez cemas.
"Tenanglah! Para mafia tidak akan tahu aku ke sini. Aku hanya sebentar mampir ke sini. Aku ingin menunjukkan ini pada kalian. Mungkin ini akan membantu."
Arthur memperlihatkan sebuah poster pengumuman yang berisikan sebuah informasi. Di dalan poster tersebut tertera sayembara yang para mafia lakukan. Para mafia itu meminta kepada siapapun untuk menangkap Juan dan Diego dalam keadaan hidup atau mati. Barangsiapa yang berhasil melakukan hal tersebut mereka akan memberikannya hadiah untuk yang berhasil.
"Jadi inilah yang menyebabkan para pengunjung tempat ini pada enggan untuk datang. Mereka pasti mengira tempat ini sudah tak lagi aman untuk di datangi."
"Kurang ajar! Mereka benar-benar ingin bermain-main dengan ku sepertinya! Aku tidak akan membiarkannya!" Juan geram setelah membaca poster tersebut. Tangannya mengepal seiring nafasnya yang memburu.
"Untuk itulah aku datang ke sini membawa informasi ini. Aku yakin kalian tidak tahu tentang berita ini. Anggapanku kalau hal ini berpengaruh terhadap tempat ini. Untuk itu aku datang ke sini. Ternyata dugaanku tepat. Kalian sedang merasa kesulitan mendapatkan pembeli."
"Kami tak bisa keluar untuk mencari informasi. Kalau tidak kau datang ke sini memberitahu. Mungkin sekarang kami masih tak tahu informasi apapun," ujar Diego.
"Bagaimana Juan? Apa yang harus kita lakukan jika sudah seperti ini?"
"Aku tidak tahu. Aku juga sedang memikirkannya."
"Aku tak bisa berlama-lama di tempat ini. Hanya bisa menyampaikan informasi ini. Aku harus segera pergi sebelum ada orang yang melihat ku. Semoga kalian bisa melalui ini semua. Aku akan datang lagi membawa informasi selanjutnya jika memang diperlukan. Tetap berhati-hati. Aku pamit." Arthur segera meninggalkan tempat tersebut. Ia sudah selesai menyampaikan informasi yang ia dapat dari luar.
Meninggalkan ketiga temannya untuk memikirkan sendiri jalan keluarnya. Solusi agar mereka bisa tetap bertahan di situasi se sulit ini.
Bersambung