Bukan Juan Pelakunya

1028 Kata
"Tentu itu jadi masalah buatku. Karena kalian sudah lancang masuk ke sini tanpa izin dan sudah membuat adikku ketakutan. Apa yang kalian cari? Kalian bisa mengatakan itu baik-baik dan dengan cara yang baik-baik pula. Kalian bisa menunggu aku datang dan membicarakan ini dengan seksama," kata Juan. Ketegangan mulai terjadi dan suasana kian memanas. Juan hampir tak bisa menjaga emosinya. Tangannya sudah mengepal, ingin segera menghajar mereka semua. Tapi beruntungnya ia masih bisa menahan diri. Ada pertimbangan lain yang membuatnya dapat mengendalikan emosi. "Salah satu anak buahku menghilang sejak kemarin. Sampai saat ini ia belum ditemukan. Aku merasa ada hubungan antara hilangnya ia dengan tempat ini. Sebab, ia hilang dan tak pernah muncul kembali setelah ku tugaskan untuk mengintai ke sini." "Sudah kuduga pria tersebut akan membawa petaka. Tahu begitu aku tidak menghabisinya kemarin. Membuat masalah saja," gumam Juan dalam hatinya. "Kenapa kau diam saja? Sepertinya memang benar anggota kami ada hubungannya dengan tempat ini. Ada yang berani menyembunyikannya atau menghilangkan nyawanya. Siapa pun itu yang melakukannya. Aku akui keberanian dari orang tersebut." Juan mulai terpojok dengan pertanyaan yang mereka lontarkan padanya. Semua mata yang ada di sana tertuju padanya. Ia tertuduh dengan mutlak jika tak dapat mengelak. "Bukan dari sini pelakunya. Aku bisa pastikan anggotamu tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang ada di sini. Mungkin saja anggotamu sedang pergi ke suatu tempat dan belum kembali. Kenapa kau tidak menunggunya saja. Ketimbang harus datang dan menuduh hal yang tidak ada buktinya sama sekali." Salah satu dari mereka semakin kesal dibuatnya. Juan terus saja berkelit tak mengakui perbuatannya. Juan memancing kemarahan mereka. Salah satu dari mereka hendak maju menghajar Juan dengan senjata tumpul, tapi berhasil ditahan oleh pria yang menjadi ketua mereka. "Juan sedang dalam masalah, Kak. Apakah kita harus diam saja begini? Juan akan segera dikeroyok oleh mereka. Kita harus melakukan sesuatu," kata Diego yang mengintip bersama sang kakak dari dalam ruangan. "Memangnya kau pikir apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya? Satu-satunya cara terbaik menolong Juan adalah dengan tidak menambah bebannya. Kita lebih baik untuk tetap di sini sampai Juan membereskan semuanya. Sambil berharap dan berdoa agar Juan bisa memenangkan pertarungannya lagi kali ini." "Ta-tapi, Kak." "Diego! Dengarkan aku! Aku pun ingin melakukan sesuatu untuk membantu Juan. Tapi aku tidak bisa melakukannya karena banyak hal. Salah satunya untuk membantu Juan juga. Jangan persulit dia ketika kita tidak bisa membantunya. Bersembunyi di sini dan tidak menambah bebannya adalah cara terbaik. Sudah kau diam saja dan tunggu semuanya aman. Baru kita akan keluar dan menghampiri Juan," kata Sanchez menasehati Diego. Juan tak dapat bantuan dari siapapun. Kedua temannya hanya bisa melihat dari balik sebuah ruangan. Satu-satunya cara terbaik yang dapat mereka lakukan untuk membantu Juan dengna tidak mempersulit dirinya lagi. "Sejak tadi kau selalu berkelit ketika ditanya. Kau sepertinya ingin mencari gara-gara. Kau ingin dihajar sepertinya!" kata pria yang maju hendak memberi Juan beberapa pukulan. "Tenangkan dirimu! Aku yang memutuskan. Kau tidak bisa mengambil tindakan seenaknya. Kendalikan dirimu!" ujar ketua mereka menahan pria tersebut. Pria tersebut tertahan tak bisa maju melangkah lebih dekat. Juan hanya melihat ke arah pria tersebut dengan tatapan seolah tak merasa terancam. "Sangat ironi akan jadi seperti ini. Begini saja. Kau lebih baik katakan siapa pelakunya dan jangan menyembunyikannya. Dengan begitu kami tidak akan melakukan kerusakan di tempat ini dan kau tidak akan dalam masalah. Tapi kalau kau masih berusaha untuk menutupinya. Jangan salah kami untuk membuat perhitungan denganmu." "Tidak ada orang yang kau cari di sini. Mungkin kalian salah orang. Di sini hanya ada penjual minuman dan makanan ringan. Tempat ini hanya bar biasa. Bukan ancaman bagi kalian. Mungkin kalian harus mencari pelakunya di tempat lain." Perkataan Juan sontak membuat mereka semakin kesal. Ketua mereka yang sempat bisa mengendalikan emosinya pada akhirnya tetap terpancing. Ia memutuskan untuk memberikan Juan pelajaran. Ia menyuruh seluruh anggotanya yang ada di sana mengelilingi Juan dan mengurungnya di tengah lingkaran. Masing-masing dari mereka dibekali senjata tumpul. Cukup untuk memberikan pelajaran dan luka di sekujur tubuh Juan jika dirinya gagal untuk menghindar. Juan mencoba tetap tenang meski sekelilingnya sudah ditutupi oleh mereka. Tepat sebelum serangan dilancarkan ke arahnya. Tiba-tiba dari luar teriak seseorang membuat mereka semua teralih perhatiannya. "Tu-tunggu! Aku menemukan pelakunya. Bukan dari sini pelakunya," teriak pria dari luar yang berlari dengan nafas tersengal-sengal. Juan terkejut mendengar hal tersebut. Jelas-jelas ia yang memukuli anggota mereka hingga babak belur. Lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah. "Kau jangan mengada-ngada! Cepat katakan siapa pelakunya!" ujar ketua kelompok itu dengan nada marah. "Pelakunya salah satu gelandangan yang ada di sana. Pria itulah yang menikam anggota kita lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah. Salah seorang saksi mata melihatnya. Kita harus segera ke sana." "Memang sudah seharusnya aku membersihkan kota ini dari para gelandangan itu! Mereka selalu saja membuat masalah dengan kita!" Mereka semua hendak pergi dari tempat tersebut. Sebelum mereka semua pergi. Juan menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam. Ketua mereka menyadari telah melakukan kekeliruan yang membuat mereka malu. Ia lalu menahan langkahnya sebelum pergi. "Untuk kejadian hari ini. Aku meminta maaf. Kau memang tidak bersalah dan pelakunya bukan dari sini. Aku minta maaf," ujarnya merasa malu karena sudah menuduh Juan. "Tak masalah. Semuanya sudah selesai. Kalian bisa pergi mencari pelaku sesungguhnya." Para mafia itu kemudian pergi dari bar tersebut. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa diliputi rasa marah. Juan menghela nafasnya karena berhasil lepas dari masalah. Setelah mereka semua pergi kedua temannya keluar dari persembunyian mereka. "Ada apa, Juan? Kenapa mereka pergi begitu saja? Apa semuanya sudah selesai?" "Entahlah. Sepertinya begitu. Mereka menemukan pelaku sesungguhnya yang menikam anggota mereka." "Syukurlah kalau begitu. Memangnya bukan kau yang menghabisi anggota itu, kan? Kau hanya membereskannya. Memberikannya pelajaran. Yang membunuhnya adalah orang lain." "Iya, aku hanya membereskannya. Ngomong-ngomong, kenapa kalian membiarkan mereka masuk? Aku sudah berpesan pada kalian untuk tidak membukakan pintu pada siapapun sampai aku datang. Kenapa kalian langgar perintahku?" "Sebenarnya, Juan ...." "Mereka semua langsung mendobrak masuk ketika kami sedang membereskan semuanya. Kami tak bisa mengusir mereka. Aku hanya bisa bersembunyi segera sementara Diego tertangkap oleh mereka. Ia diinterogasi sampai kau datang," kata Sanchez memotong perkataan Diego. Ia tak ingin Diego disalahkan karena kecerobohannya. "Oh begitu. Lain kali sepertinya aku harus mengunci tempat ini dengan kunci yang lebih banyak. Agar mereka tak bisa mudah masuk." Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN