Pagi tiba aku masih dengan tidur nyenyakku dan tiba-tiba mereka berdua membangunkanku.
Tok
Tok
"Han,kamu libur ayok ikut kami mengantarkan Rian untuk pergi, nanti ketinggalan kita ucap Bg Devan."
"Cepat Bg tunggu 10 menit gak turun ,uang saku kami potong ucap Bg Angga."
Aku terbangun dan langsung cepat-cepat mandi dan berdandan seperti militer aja.
Sesampainya di bawah aku menggunakan jeans kaos longgar dan tas selempang .
"Uda ayok, sarapan di mobil aja ucap Bg Devan dengan memberi Tupperware makanan dan minuman."
Mobil melaju kencang sampai disebuah lapangan dengan keramaian orang,mereka menghantarkan, anak,suami , saudara,pacar yang mau bersekolah.
Aku mengikuti langkah Abgku sampai berjumpa teman-temannya, disitu juga ada Bg Rian, Riko dan Bg Irawan. Bg Rian dengan seragamnya, cukup gagah dan terlihat berwibawa serta tegas.
Ternyata ada orang tua bang Rian juga disana. Kami seperti gelar tikar, Mama Bg Rian ngajak kami buat makan bersama-sama dan berbincang-bincang.
"Anak cantik siapa namanya? Ucap Tante Neli."
"Ia tan, om nama saya Hana ucapku sembari bersalaman."
"Sini dekat Tante kita makan bersama-sama ucap Tante Neli."
Kami menikmati hidangan tersebut, tidak dengan Bg Rian yang bolak balik pergi kesana kemari, makan di dulangin Mamanya.
Selesai makan kami ngobrol-ngobrol bersama sampai nunggu Bg Rian balik kembali ketempat kami.
Gak berapa lama ada kumpulan tentara sepertinya mau menampilkan yel-yel mereka, aku dengan Tante Neli pun ikut melihat di keruman orang-orang tersebut.
Dengan semangat mereka menyanyikan yel-yel mereka, setelah itu kembali berbaris kembali.
Kami kembali ketempat kami kumpul, disana sudah ada Bg Rian yang mulai berpamitan karena bus yang membawa mereka telah datang.
Mereka pada bersalaman, berpelukan juga sedangkan aku sedang bersalaman saja. Kami bersama-sama mengantarkan Hinggan Bg Rian menaiki busnya, Tante Neli menangis, terharu meski cuma beberapa bulan saja, aku juga ikut menitihkan air mata terbawa oleh suasana disana, aku hanya bisa memeluk Tante Neli.
Bus sudah meninggalkan kami dengan melaju perjalan, hanya terlihat lambaian tangan penumpangnya.
Tempat duduk kami sudah di beresin ma Abgku dan temannya ,telah di kembalikan ke dalam mobil. Tante dan Om berpamita untuk pulang. Aku sedari tadi haus jadi pergi ke warung dekat lokasi tersebut.
Aku membeli beberapa air mineral, kemungkinan mereka haus juga, apalagi cuacanya panas terik seperti ini.
Beberapa pria melihatku, berkata:
"Izin Bu, ibu calon danton Rian ya Bu ucap Satu pemuda berseragam TNI."
Aku tidak bisa menjawabnya jadi aku hanya tersenyum dan segera membayar belanjaanku.
"Pasti neng sedih ya di tinggal suami tugas, sabar neng, tapi bapak itu orangnya baik kok neng gak neko-neko ucap ibu pedagang."
Aku disituasi yang membingungkan, gak bisa menjawab apapun lagi.
"Permisi ya Bu, Bapak-bapak saya mau balik ucapku sambil meninggalkan mereka."
Aku menggaruk kepalaku, sebenarnya tidak gatal, akibat ulang Abgku mengajak kemari,dan cuma aku wanita bersama ibunya Bg Rian dikira aku calon istrinya.
Aku langsung masuk mobil, karena Abgku sudah menunggu dari tadi di dalamnya.
Sesampainya dirumah aku langsung masuk kedalam, pingin tidur, kantuk yang kurasakan dari tadi.
Bg Devan dan Angga masih ngobrol di ruang TV yang sebelah kamarku.
"Bg aku rencanakan mau jodohin mereka, kita kecolongan beberapa langkah Ucap Angga ke Devan."
"Itulah, terkejut pas Rian bilang ajak Hana juga, aneh dan mencurigakan ucap Devan."
"Gak usah lagi kita comblangkan, ternyata mereka Uda berkembang sendri ucap Angga."
"Berkembang palamu, kau kira mereka apaan? Kita harus pupuk nih, kita kenal banget Rian itu gimana? Paslah pilihan kita ucap Devan."
Dua pria ini bisanya jodohin adiknya selama ini, tapi sangkah Rian Uda suka duluan.
***
Didalam bus Rian hanya memandang foto-foto tadi, meskipun ramai-ramai ada foto Hana disampingnya.
"Ehm... Siapa itu ucap Juan teman letting Rian yang ikut bersekolah juga."
"Ih, loh ngintipin aku main ponsel ucap Rian."
"Bukan ngintip, tapi aku mau duduk ,kamu gak mendengar fokus dengan layar ponselmu, malah senyum-senyum lagi ucap Juan."
"Ya sudah masuk,kepo amat! ucap Rian memiringkan kakinya agar Juan masuk."
"Manis sih cewek tadi, kalau kamu gak mau aku mau ucap Juan menggoda."
Tanpa aba-aba Rian memukulnya dengan bantal lehernya. Sepanjang perjalanan Rian hanya berfokus dengan foto, terlebih dia sudah punya no ponsel Hana, masih sedikit ragu apakah gadis itu menjawabnya atau menolaknya nantinya. Melihat kelakuan nakalnya, Rian tau dia pura-pura tidur pas aku ganti baju.
Rian tidak sengaja ke pinjit tombol panggilan, dan ponsel tersebut telah terhubung.
"Halo, Assalamualaikum ucap Hana dengan suara kantuknya."
"Waalaikumsalam, ini Bg Rian, orang Hana dan Abg Uda sampai rumah ucap Rian gugup."
"Ia bg sudah barusan, ada apa ya Bg? ucap Hana."
"Tidak ada apa-apa,cuma mau bertanya itu saja Assalamualaikum ucap Rian dan mematikan ponsel nya."
Astagfirullah,ini orang kenapa belum juga ku jawab salamnya sudah main matikan aja panggilannya ucap Hana dalam hati dan tidur kembali.
Rian yang masih salting bingung kenapa jadi begini, melihat Juan disampingnya ternyata telah tidur pulas ,memutuskan ikut tidur juga, untuk menyembunyikan rasa itu.
Juan melirik dengan tersebut, teman letingnya lagi Pdkt lucu, seperti belum pernah pacaran saja, ada rasa sedih juga gimana dia tau temanya gagal nikah karena pasangannya berkhianat.
***
Gak terasa sudah mau magrib saja, Bg Angga juga baru pulang bermain voli, aku tertidur sangat pulas. Aku masih berpikir beneran tidak aku telponan dengan Bg Rian apa cuma mimpi.
Aku segera ambil ponsel dek cek panggilan masuk, ternyata beneran aku telponan denganya 6 menit.
Aku turun ke bawah mau tanya bibi apakah paket aku sudah sampai. Sesampai di bawah ternyata paketnya sudah ada di meja makan segara ku unboxing saja dan jangan lupa untuk vidio dan di fotoin.
Aku membeli sebuah gantungan kunci, beberapa accesoris untuk di berikan ke teman-teman dirumah sakit untuk perpisahan nantinya, bentar lagi magangku berakhir disana. Aku langsung mengkremasi semuanya nanti aku bakal kotakin, ada yang untuk cewek dan cowok.
Buat Snack box aku uda nempah ma Kak Indah, untungnya punya kakak ipar pengusaha roti dan kue. Aku naik ke atas kembali, ku lihat Bg Angga masih santai sambil merokok menikmati senja. Aku masuk kamar dan meletakan barang yang ku beli di kontener biar nanti minta bantuan pasukannku untuk mengbungkusnya. Sehabis shalat magrib rencana mau keluar cari makanan dekat kompleks lagi pingin makan yang pedas-pedas. Selesai sholat aku turun dan Bg Angga sudah pergi juga sepertinya mau ngapel tu orang.
Aku ambil kunci motor ternyata tidak ada, tinggal kunci motor gede tapi bakal kenak marah kalau naikinya. Aku cari makanan yang dekat dengan berjalan kaki saja.