Eidwen sedang menuju ke kelasnya ketika dia bertemu dengan ayahnya. Pria itu mengisyaratkan untuk mengajak bicara, sehingga Eidwen berhenti sebentar di lorong yang sepi. Sebenarnya dia malas sekali untuk bertemu dengan ayahnya saat ini. Karena bagaimana pun, yang menghalangi kehidupannya untuk berjalan normal adalah si pria batu karang itu. Irwantara mengamati Eidwen yang tidak balas menatapnya. Anaknya itu memang mirip sekali dengan ibunya yang saat ini berada di Jepang. Seorang wanita yang telah meninggalkannya tanpa alasan. Seorang wanita yang melahirkan dua anak laki-laki yang diam-diam membencinya. “Siapa gadis tadi? Temanmu?” tanya Irwantara memulai. “Bukan,” balas Eidwen dengan ringan. “Aku tidak punya teman di kampus.” “Hati-hati berteman dengan siapa pun. Nggak semua orang tu

