Rumah sore itu terasa tegang. Ronald baru saja pulang kerja, masih mengenakan kemeja kantor dengan dasi longgar di leher. Ia duduk di ruang tamu sambil membuka ponselnya, namun suasana berubah ketika Rosalina tiba-tiba menghampiri sambil memeluk lengannya. “Papa…” suara Rosalina dibuat lirih, matanya berkaca-kaca. Ronald menoleh, terkejut. “Kenapa, sayang? Kamu kenapa nangis?” Widya muncul dari arah dapur, pura-pura kaget. “Astaga, Rosa! Ada apa, Nak? Kok nangis?” Rosalina menunduk, pura-pura menyeka air matanya. “Tadi di sekolah… Kak Renata marahin aku, Pa. Di depan teman-teman semua…” suaranya serak. Ronald langsung mengernyit. “Apa? Renata marahin kamu? Untuk apa?” Rosalina menggigit bibir, ragu-ragu seolah tak ingin bercerita. Ia melirik Widya cepat, lalu kembali menunduk. “Aku c

