Pagi itu, dapur rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Renata sedang membantu ibunya menyiapkan sarapan sederhana, seperti biasanya mereka lakukan sejak dulu. Meja sudah ditata dengan piring, nasi goreng buatan ibunya, dan segelas s**u. Renata mengaduk s**u hangat sambil berkata pelan, “Ma, nanti Papa pasti senang kalau lihat sarapan udah siap duluan.” Ibunya tersenyum kecil, meski wajahnya terlihat lelah. “Iya, Nak. Kita lakukan yang terbaik aja. Biar Papa tahu kalau kita tetap peduli.” Belum sempat Renata meletakkan gelas, terdengar suara tawa riang dari arah pintu dapur. Rosalina masuk dengan langkah ringan, diikuti Widya yang menenteng nampan besar berisi roti panggang, selai, dan buah segar yang ditata cantik. “Papa pasti suka ini, Ma! Aku sengaja bangun pagi biar bisa bantu Mama

