Ronald akhirnya berangkat ke kantor dengan wajah muram, sementara sopir sudah menunggunya di depan. Begitu pintu rumah tertutup, suasana seketika berubah. Rosalina, yang tadi masih duduk dengan wajah murung, langsung mendongakkan kepala dengan senyum penuh kemenangan. Renata yang masih berdiri di dekat meja, menatapnya dengan mata basah. “Kamu tega banget, Ros…” suaranya serak, hampir bergetar. Rosalina berbalik, melipat tangan di d**a. “Apa? Kamu sendiri yang ceroboh, salah siapa sampai tumpahin teh? Jangan nyalahin aku.” “Padahal aku nggak sengaja!” Renata balas dengan nada tinggi. Widya langsung menepuk meja, menatap Renata tajam. “Kamu jangan kurang ajar ya, Renata. Suaramu jangan tinggi-tinggi di rumah ini. Kamu masih tinggal di sini karena Papa-mu baik hati, jangan bikin masalah!

