Malam itu rumah besar itu terasa sepi. Ronald masih di ruang kerjanya, sementara Widya dan Rosalina sudah masuk ke kamar mereka. Hanya ada Renata dan ibunya di kamar kecil di lantai dua. Lampu redup menyinari ruangan sederhana itu—berbeda jauh dengan kamar Rosalina yang serba mewah. Renata duduk di tepi ranjang, wajahnya murung. Ia memeluk lutut, dagunya bersandar di atasnya. Ibunya duduk di kursi kecil, melipat baju-baju yang baru kering. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak lemah. “Bu…” suara Renata lirih, nyaris berbisik. Ibunya menoleh, tersenyum tipis. “Kenapa, Nak?” Renata menggigit bibirnya, menahan perasaan yang sudah sejak tadi ingin keluar. “Kenapa Papa nggak pernah percaya sama aku? Dari tadi pagi sampai sore, semua yang aku lakukan selalu salah. Sementara mereka… mereka selalu b

