Pagi datang dengan udara dingin yang masih menyelimuti rumah besar itu. Aroma roti panggang dan kopi hitam tercium dari ruang makan. Widya sudah bangun sejak subuh, menata meja dengan rapi. Rosalina duduk manis di kursi, rambutnya sudah disisir rapi, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Dari luar, ia tampak seperti anak yang sopan dan penurut. Renata muncul beberapa menit kemudian, masih dengan wajah mengantuk. Ia baru saja membantu ibunya yang kondisinya semakin lemah. Rambutnya sedikit berantakan, dan ia belum sempat merapikan baju rumahnya. Saat ia duduk, Rosalina langsung menoleh dengan senyum tipis. “Pagi, Kak Renata,” sapanya manis, tapi matanya menatap tajam. Renata hanya mengangguk tanpa menjawab. Widya, yang duduk di sisi Ronald, pura-pura memberi teguran halus. “Rena

