Bab 42

1119 Kata

Ronald turun dari kamar, rapi dengan jas kerjanya. Ia melihat dua hidangan di meja: nasi goreng buatan istrinya, dan omelet buatan Widya. “Pagi,” ucapnya singkat. “Pagi, Pa!” Rosalina langsung memeluk ayahnya. “Papa coba ini ya, omelet buatan Mama.” Ronald duduk, mengambil garpu, dan mencicipi omelet itu. Wajahnya langsung berubah senang. “Hmm, ini enak sekali. Pas, tidak terlalu asin. Kamu memang pintar, Widya.” Renata merasakan dadanya diremas. Ia melirik ibunya yang berusaha tetap tersenyum, meski jelas sorot matanya meredup. “Kalau nasi goreng?” tanya Renata dengan nada penuh harap. Ronald mengangguk, mencoba sedikit nasi goreng. Ia mengunyah cepat, lalu meletakkan sendok. “Lumayan. Tapi agak terlalu kering. Lain kali pakai minyak lebih banyak.” Komentar singkat itu terasa seper

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN