Piring-piring masih tersisa di meja makan. Sop yang tadi dimasak dengan penuh cinta oleh ibu Renata hampir tak tersentuh. Hanya Renata dan ibunya yang memakannya. Ronald cuma mencicipi sedikit, lalu lebih banyak menaruh perhatian pada telur dadar buatan Widya. Renata menunduk, matanya panas menahan tangis. Tangannya mengepal erat di bawah meja. Ibu Renata hanya mengelus lembut punggung putrinya, mencoba memberi kekuatan, meski dirinya sendiri rapuh. Ronald sudah masuk ke ruang kerjanya, pintu tertutup rapat. Suasana meja makan hening, hanya terdengar suara sendok Rosalina yang masih memakan sisa telur dadarnya dengan lahap. Widya menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu dengan suara lembut berkata, “Rosa, sudah ya makannya. Jangan habiskan terlalu banyak, nanti sakit perut.” Rosalina menga

