Pagi itu, aroma masakan sederhana tercium dari dapur. Ibunya Renata sudah lebih dulu bangun, menyiapkan sarapan seadanya. Telur dadar tipis, sayur bening, dan sambal kesukaan Ronald. Sementara itu, Renata duduk di meja makan, masih dengan wajah murung setelah malam panjang penuh tangisan. Ia memainkan sendoknya pelan, seakan tak selera makan. “Renata, ayo makan dulu. Jangan cuma diaduk-aduk,” ucap ibunya, berusaha terdengar lembut. Renata menatap ibunya sebentar, lalu menunduk lagi. “Aku nggak lapar, Ma.” Ibunya menghela napas. “Kamu nggak boleh gitu. Kalau kamu sakit, siapa yang nanti belain Mama?” Sebelum Renata sempat menjawab, langkah kaki terdengar mendekat. Rosalina masuk bersama Widya. Mereka tampak rapi, seperti biasa—Widya dengan gaun tidur mewah yang tetap terlihat elegan, d

