Bab 49

1584 Kata

Hujan baru saja reda ketika Renata berjalan pulang dari sekolah. Seragamnya sedikit basah, rambutnya menempel di dahi, dan sepatunya penuh lumpur. Ia melangkah pelan menyusuri jalan menuju rumah besar itu — rumah yang dulu ia pikir akan selalu jadi tempat paling aman di dunia, tapi kini terasa seperti jebakan. Begitu sampai di depan gerbang, ia melihat mobil hitam milik Ronald sudah terparkir. Ayahnya sudah pulang lebih cepat dari biasanya. Renata meneguk ludah, hatinya langsung tak tenang. Itu artinya, Rosalina punya kesempatan lagi untuk berakting. Ia masuk perlahan, meletakkan sepatu di depan pintu. Suara tawa lembut terdengar dari ruang tamu — suara Widya dan Rosalina. Ia menahan napas, berjalan pelan ke arah sumber suara itu. Dari balik pintu, ia bisa melihat jelas: Rosalina sedang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN