Hujan belum juga reda ketika Mira membuka gerbang rumah besar itu dengan tangan gemetar. Payung kecil yang ia bawa nyaris tak berguna menahan derasnya air. Renata masih setengah tertidur di gendongannya, tubuh mungilnya menggigil karena dingin. “Ma… dingin,” gumam Renata pelan, wajahnya menempel di bahu ibunya. “Iya, Nak… sebentar lagi ya,” jawab Mira, suaranya serak menahan tangis. Mobil tak lewat satu pun di jalan malam itu. Lampu jalan berpendar samar, menyoroti bayangan mereka yang berjalan pelan di tengah hujan. Sepatu Mira sudah penuh lumpur, bajunya basah kuyup. Tapi ia terus berjalan, memeluk anaknya makin erat. Dari jendela rumah besar itu, Widya berdiri memandangi punggung mereka. Di sampingnya, Rosalina yang masih mengenakan piyama warna pink tersenyum tipis. “Mereka benar-

