Hujan turun deras sore itu. Langit seolah ikut menangisi sesuatu yang tak bisa dikatakan. Di rumah besar keluarga Mahendra, jendela-jendela tertutup rapat. Lampu-lampu menyala hangat, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengilap. Di ruang tamu, Widya sedang duduk santai di sofa sambil membaca majalah fashion. Di meja kecil di depannya ada secangkir teh melati yang mengepul lembut, dan setangkai mawar putih dalam vas kaca tinggi. Rosalina berlari kecil ke arah ibunya, membawa buku gambar yang baru ia warnai. “Ma, lihat! Aku gambar keluarga kita,” katanya dengan semangat. Widya menoleh dan tersenyum. Di kertas itu tergambar tiga sosok: seorang ayah, seorang ibu, dan seorang anak perempuan dengan rambut panjang dikepang dua. Tidak ada yang lain. Tidak ada Mira. Tidak ada Renata. “Bag

