Hujan sudah berhenti, tapi udara masih lembap dan dingin. Di kuburan kecil pinggiran kota itu, tanah merah menempel di ujung sepatu Renata. Bajunya basah, rambutnya menempel di wajah. Ia belum beranjak, meskipun semua orang sudah pulang. Seorang ibu tetangga, Bu Rasti, sempat menepuk bahunya sebelum pergi. “Renata, ikut Ibu, ya. Di rumah Ibu masih ada nasi hangat.” Renata hanya menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Bu. Saya mau di sini dulu.” “Jangan lama-lama, ya, Nak. Udara dingin.” Renata mengangguk tanpa suara. Beberapa menit kemudian, tempat itu sepi. Hanya suara jangkrik dan daun jati yang bergesekan. Renata jongkok, menatap papan kayu bertuliskan Mira Adiningsih – Ibu yang Tegar. Tangannya menyentuh tanah yang masih lembek, menggenggam segenggam kecil. Ia tidak menangis. Matan

