Matahari pagi akhirnya menembus jendela kecil di dapur rumah kontrakan itu. Cahaya hangatnya jatuh di wajah Renata yang sedang memotong tahu dan tempe di atas talenan kayu. Tangannya cekatan, tapi matanya terlihat sayu. Di meja kecil, Mira duduk dengan selimut di bahu, memegangi d**a sambil sesekali batuk pelan. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap lembut ketika menatap anak semata wayangnya itu. “Renata, udah… nanti tangan kamu kepotong,” ucapnya lirih. Renata menoleh, tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Ma. Aku udah biasa. Lagian, jualannya harus siap sebelum jam tujuh. Anak-anak sekolah suka beli gorengan pagi-pagi.” Mira mencoba berdiri, tapi tubuhnya oleng. Renata cepat menahan, menuntun ibunya kembali duduk. “Udah, Mama istirahat aja. Aku yang urus semuanya. Kalau Mama maksa, nanti m

