Bab 55

875 Kata

Tahun-tahun berlalu. Waktu berjalan lambat bagi Renata, tapi luka tidak pernah benar-benar sembuh. Ia kini duduk di bangku SMP, tubuhnya lebih tinggi, wajahnya mulai menampakkan kecantikan yang tegas. Tapi mata itu—mata hitam pekat yang dulu lembut—kini berubah dingin, seolah menyimpan rahasia gelap yang tidak ingin dibuka siapa pun. Setiap pagi, ia masih membantu ibunya di warung kecil depan rumah. Tapi malam hari, ketika kebanyakan anak-anak tidur, Renata belajar keras. Ia membaca buku bekas dari perpustakaan, menyalin catatan sampai jarinya kaku. Bukan karena ambisi sederhana untuk jadi pintar, tapi karena dalam kepalanya, hanya satu suara yang terus bergema: “Kalau kamu ingin melawan mereka, kamu harus lebih kuat dari mereka.” Suara itu adalah bayangan dari ibunya, dari semua air

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN