Matahari pagi mulai menyelinap masuk lewat celah jendela rumah kontrakan kecil itu. Dindingnya yang sudah mulai mengelupas tampak pucat diterpa cahaya lembut. Renata duduk di kursi reyot di dekat meja makan kecil, memotong-motong adonan gorengan. Bau minyak goreng sisa semalam masih terasa di udara, membuat perutnya mual karena belum makan. Mira duduk di ranjang, batuk pelan sambil menutup mulut dengan tisu. “Renata, kamu udah sarapan?” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Renata menoleh, tersenyum kecil. “Belum, Ma. Nanti aja sekalian sama Mama. Aku mau goreng dulu biar masih hangat kalau dijual.” Mira berusaha berdiri, tapi tubuhnya oleng. Renata cepat-cepat menahan bahunya. “Ma, duduk aja. Aku bisa sendiri.” “Tapi, Nak…” “Udah, istirahat. Mama kan baru aja minum obat.” Renata kem

