Serena mematung menatap sosok pria yang dulu ia sebut ayah itu. Wajah pria itu tidak berubah sama sekali, hanya kerutan di wajah dan rambut yang sedikit memutih menyadarkan Serena jika pria itu sudah menua. “Siapa wanita ini? Berani sekali kau membentakku!” tanya Ronald tidak terima akan perlakuan Serena. Matanya menajam menaruh curiga, terlebih dengan ucapan Rosalina yang memberitahu jika suaminya telah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri. “Saya Serena, sekretaris Presdir Devan. Anda sendiri ... siapa? Sampai mengganggu ketenangan di sini?” tanya Serena balik. Ia menggenggam kedua tangannya erat, mencoba menahan gemetar. Semua luka lama yang telah ia kubur dalam-dalam kini mencuat. Ingatan tentang sakit hati terhadap Ronald hampir membuatnya kehilangan kendali. Sementara Ronald t

