Bab 58

1037 Kata

Hujan turun lagi malam itu, kali ini lebih deras. Angin meniup tirai lusuh di jendela rumah kontrakan mereka, menimbulkan suara berdecit yang membuat suasana semakin sendu. Renata duduk di dekat tungku, berusaha menyalakan api kecil dengan kayu basah yang ia kumpulkan sore tadi. Api sulit menyala, tapi gadis kecil itu tidak menyerah. Ia tahu ibunya butuh air hangat untuk diminum malam ini. Tangan mungilnya gemetar, bukan hanya karena dingin, tapi juga karena lelah. Hari itu ia pulang lebih larut dari biasanya—membantu Bu Sari di warung sampai malam demi mendapat beberapa ribu rupiah. Bajunya masih basah oleh hujan, rambutnya menempel di pipi, tapi ia tidak mengeluh sedikit pun. “Renata...” suara lemah ibunya terdengar dari dalam kamar. Renata segera menoleh. Ia berlari kecil, menuruni l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN