Hening. "Ingat kan kriteria memilih calon istri?" "Ingat Gus." "Apa?" "Harta, nasab, kecantikan dan agama, Gus. Jika ragu pilihlah nomer empat dan itu agamanya." "Nah, itu tahu." Aku mengulas senyum padanya tetapi rupanya gadis jutekku masih sedih. "Kamu memang tidak mondok dari kecil tapi aku percaya pengetahuan agama kamu bagus, lagian aku bisa ngajari kamu nantinya. Ya kan?" Caca hanya diam. Sehingga aku bertanya lagi kepadanya. "Kamu mau belajar kan?" Dia menarik nafasnya pelan lalu mengangguk. "Kamu cantik, Ca." Blush ... kulihat pipinya memerah dan dia semakin menunduk. Malu-malu meong rupanya. "Bukti kecantikanmu saat kamu bermain di bawah hujan dan saat menatapku dengan mimik muka polos saat itu. Hal itu membuat hasratku sebagai lelaki tergoda." "Gus," sungutnya. "Gus

