"Sepertinya banyak informasi yang kita dapatkan . Lebih baik kita tetap pura pura tidak tau dan menelusuri siapa pembuat aplikasi itu , oh ya tia apakah kamu sibuk hari ini ?" jawab adit
"Tidak ada , orang tuaku pergi katanya mereka ada urusan" kata santia
"Tepat , bagus sekali ikut aku" jawab adit sambil menarik tangan santia
"Heii apa yang kau lakukan" kata santia
"Aku tidak mungkin bukan berduaan dengan putri pak santana" jawab adit
Mereka pun masuk kedalam rumah pak santana
"Jadi kalian orang yang disuruh ayah untuk menemaniku ?" kata rachel
"Betul , tapi tenang saja . Kami tidak akan mengganggumu , kami hanya memastikan kamu aman hari ini" jawab adit
"Huhh... terserah" kata rachel dengan membuang muka
"Grrrr..." geram adit
"Sabar sabar.. biar aku saja yang bicara kepadanya" kata santia
Santia kemudian menyusul rachel ke dalam kamarnya meninggalkan adit sendirian diruang tamu
"Rachel.. haii" kata santia
Rachel hanya melihat dan tidak menjawab satu kata pun
"Namaku santia , kamu boleh panggil aku tia" kata santia sambil memberikan tangannya
"Namaku rachel" jawab rachel sambil menjabat tangan santia
"Mengapa kau murung ?" kata santia
"Tidak apa apa , pergilah biarkan aku sendirian" jawab rachel
Santia yang bingung dengan sikap rachel memutuskan untuk membiarkan dia sendirian , tepat didepannya sudah ada adit yang menunggu
"Bagaimana ?" kata adit
Santia hanya menggelengkan kepala
"Sudahlah , ayo kita makan dulu . Aku menemukan beberapa makanan disana" kata adit
Santia kemudian mengikuti adit pergi ke dapur , sementara itu
"Hiks... hiks.. ibuu... aku merindukanmu" tangis rachel
"Wah gila sekarang sudah tengah malam" kata adit
"Aku jadi teringat tentang mari jika mendengar kata tengah malam" jawab santia
"Hawa ini..." kata adit dalam hati
"Dit , apakah kau merasakan hal yang sama ?" kata santia
Adit dan santia saling bertatap mata
"Jangan jangan" kata adit dalam hati
Adit dan santia berlari menuju kamar rachel , saat itu rachel tengah menggunakan aplikasi alone dengan berlinang air mata
"Tiddaaakkkk......" teriak adit dan santia secara bersama
"Baiklah kita mulai ceritanya....
Dahulu ketika masih sekolah menengah pertama aku mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa , kegiatan ini dilaksanakan di luar kota untuk kelas 2 dan 3 selama dua malam . Sekolahku menyewa tempat seperti vila , namun setiap kamar berada di tempat berbeda . Sehingga bila ingin berkunjung ke tempat teman , kami harus berjalan kaki sekitar lima menit .
Saat itu aku mendapatkan kamar untuk 5 orang . Kamar yang akan kami tempati sangat besar , seperti Vila mewah dan mahal pada masanya .
Setelah membuka pintu, kami harus melewati jalan setapak , dan jembatan kecil yang menghubungkan dengan kamar . Kamar tersebut didesain berada di tengah-tengah kolam , dengan model open space .
Walau cat sudah mulai pudar dan terlihat tidak terurus , tetapi untuk kami yang paling penting adalah bisa berkumpul bersama teman . Meskipun kami sempat kesal karena cacing di kamar mandi tak kunjung habis . Namun selain itu , rasanya semua berjalan lancar .
Sayang ketika malam tiba , suasana kamar yang sebelumnya terasa seperti vila mewah berubah menjadi sangat mengerikan .
“Jeng ini lampu nggak mau nyala ?” kata rita
“Ha?” Kataku terkejut .
“Beneran nggak mau nyala ?” kata linda
Linda mengangguk .
“Aduh masa kita cuma ngandelin lampu depan ?” tanya rita khawatir.
“Ke kamar mandi kan gelap banget" kata linda
“Mendadak jadi merinding ya” seru aura
“Aku juga merasa gitu” sahut citra
“Udah jangan ngomong aneh-aneh” pintaku yang tiba-tiba merasa suasana menjadi mencekam
“Ya udah coba cari lilin sama korek” pinta linda
Kami berlima pun membongkar tas mencari lilin dan korek yang memang sengaja disiapkan , untuk keadaan darurat . Namun karena tidak membawa HP dan penerangan hanya berasal dari lampu depan , membuat kami kesulitan .
Deg.... Deg.... Deg....
Aku bisa merasakan jantungku terus berdebar kencang , terutama setiap kali melihat pepohonan di sekeliling kami . Entah hanya perasaanku , atau memang dari sana banyak "mereka" yang tak kasat mata memperhatikan kami
“Ketemu....!” teriak aura
Kami pun segera mendekat ke aura dan membantunya menyalakan lilin . Setelah berhasil mengumpulkan semua yang kami miliki , lilin diletakkan disetiap sudut ruangan agar terlihat terangb.
“Hhhah” dengus kami bersamaan karena lega
“Gila , horor banget tadi” seru citra
Aku mengangguk setuju , tapi tidak menceritakan apa yang kurasakan karena tak ingin mereka khawatir .
“Yuk tidur sekarang , biar cepat pagi” ajak linda
Kami baru tertidur setengah jam , ketika angin besar bertiup dan membuat lilin di seluruh ruangan mati . Hal ini membuat jantungku berdebar kencang , karena kembali merasakan tatapan tak kasat mata dari sekeliling .
“Hhah” aku merasa sangat takut , tapi tidak berani bergerak untuk menyalakan lilin .
“Jeng" kata citra
“Hmm kenapa ?” jawabku
“Takut.....!” kata citra
“Sama , lainnya masih tidur?” jawabky
“Gimana ini?” jawab citra sambil menangguk
“Nggak tahu” aku jujur , karena sama sekali tidak ada ide harus berbuat apa di saat ini .
Srak..... Srak..... Srak....
Tiba-tiba kami mendengar suara pintu digaruk dengan sangat kencangb, aku dan citra pun hanya bisa saling bergandengan
“Itu apa ?” bisikku pada citra .
“Nggak tahu , aku takut banget nih Jeng” jawab citra sambil gemetar
“Bangunin yang lain coba” pintaku padanya
“Lind bangun” kata citra sambil menggoyang badan temannya
“Apaan ?” jawab linda setengah sadar
“Ada sesuatu depan pintu ?” kata citra
“Ha ? Ya tinggal dibukain” Jawab Linda masih tidak mengerti kenapa dia dibangunkan
“Kamu aja” sahutku.
“Ada apa sih ?” tanya aura dan rita yang juga terbangun
“Ssts.... diam.... coba kalian dengar baik baik” pintaku pada mereka
Kami semua terdiam , dan suara garukan di pintu terdengar lebih keras dari sebelumnya .
“Apaan tuh ?” pekik rita terkejut
“Nggak tahu.... kita harus gimana ?” jawabku kesal
“Coba buka ?” jawab linda.
“Kamu berani ?” tanya citra
“Nggak Hehehe” jawab linda sambil tertawa
Kami kembali terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing
“Aku pingin pipis” kata aura
“Serius di saat begini ?” jawab linda terkejut dan setengah tak percaya
“Temani dong” kata aura
“Ya udah yuk.... Sebenarnya dari tadi aku juga ingin buang air kecil, tapi terlalu takut untuk bergerak dari tempatku" ajakku
“Ikut juga deh” kata rita
Pada akhirnya kami berlima ke kamar mandi bersamaan . Kamar mandi di sini juga dibuat Open Space , sehingga bisa langsung melihat kolam buatan yang di sampingnya terdapat banyak pepohonan rindang , di malam hari yang gelap tanpa lilin semua tampak mengerikan .
“Lind , besok kamu cuci tuh bathup ya !” kataku padanya
“Ngapain ?” jawab linda
“Kan kamu tadi pipis di sana” kataku
“Ha ?” jawab linda tak mengerti
“Tadi linda sama aku jeng” jawab citra.
“Tapi tadi” kataku sambil terheran
“Emang itu bukan linda ?” potong aura
“Bukan” kataku
“Aku tadi juga lihat..... Tinggi , kurus , rambut panjang , benar-benar mirip sama linda” seru rita
Aku mengangguk setuju dengan rita , bahwa "seseorang" yang kami lihat memang tampak seperti linda . Entah apa maksudnya mengganggu kami , hingga berani menampakkan dirinya . Kami pun tak ingin mencari tahu dan memilih segera berbenah untuk pindah kamar esok paginya
“Udah gitu aja?” kata sasa
“Iya mau sepanjang apa lagi emang ?” Jawabku menjawab protes sasa
Marin tertawa
“Terus kalian akhirnya nggak diganggu lagi memang ?” tanya sasa
“Sepanjang malam kami tidak bisa tidur , karena suara garukan pintu terus terdengar hingga ayam berkokok” jawabku
"Tu.... tubuhkuu.... tubuhku gak bisa digerakkin" kata santia dalam hati
Santia melirik kearah adit dan melihat adit juga sepertinya kesusahan untuk bergerak
"Sssttt.. ssttt.. adittt" bisik santia
"Tiaa... apa yang kau lakukan ?" kata adit
"Jangan berisik... kita harus menolong putri pak santana , kalau tidak kejadian yang sama akan terulang kembali" jawab santia
"Apa yang harus kita lakukan ?" kata adit
"Kau lihat handphone disana , kita bisa pakai itu untuk melempar handphone milik rachel dan menghancurkannya" jawab santia
"Bodohh... kalau semudah itu sudah aku lakukan dari tadi !" kata adit dengan sedikit marah
Tiba tiba terdengar suara gemuruh dan terlihat sosok hitam yang mereka temui saat bersama mari . Sosok itu kemudian merasuki tubuh rachel dan membuatnya menusuk perutnya sendiri berulang kali sambil tertawa
Satu jam berlalu , sosok itu pun menghilang dan meninggalkan tubuh rachel dengan luka perut yang sangat fatal , isi dalam perut rachel keluar dan dia mati dengan cara yang sangat tragis