Jam menunjukkan pukul 8 malam, namun gadis yang sudah resmi menjadi istrinya belum juga pulang, padahal Zaf yakin Rane sudah pulang sebelum ia pulang jam 3 sore tadi dari kampus.
Saat ini Zaf berada di apartemen Rane untungnya ia masih hafal password pintunya, ia menunggu gadis itu disana karena mana mungkin Rane akan pulang kerumahnya. Satu jam berlalu Zaf mondar mandir menunggu Rane di ruang tamu, sayangnya ia tak punya no ponsel Rane jadi tak bisa menghubungi gadis itu.
Tidak lama kemudian Ceklek pintu terbuka, Rane masuk langsung memakai sandal rumahnya, ia berjalan ke sofa ruang tamu dan kaget melihat ada Zaf yang duduk di sofa sambil memadang kearahnya
"Dari mana? Kenapa baru pulang?"
"Lo ngapain disini Zaf? Dan kenapa lo bisa masuk?" Rane melempar paperbag ke sofa seperti biasa ia habis shopping bersama teman-temannya.
"Ya gue kan suami lo, gue mau ajak lo pindah ke rumah ayah"
Rane tidak menjawab ia berjalan kearah dapur lalu membuka kulkas mengambil air mineral dingin.
Glek glek
"Ahh" rasa hausnya hilang begitu saja setelah meneguk air dingin
"Gue mau disini"
"Lo harus ikut pindah Ella!"
Rane menggeleng ia berjalan masuk ke dalam kamarnya tak sadar masih diikuti Zaf. Rane membuka pakaiannya kebiasaanya yang selalu membuka pakaian langsung dikamar.
"Rane.." tegur Zaf membuat Rane menoleh
"Ehh ngapain sih lu Zaf ikutin gue, keluar sana gue mau mandi"
"Iya tapi ikut gue pulang, ayah pasti khawatir kita belum pulang"
"Zaf kita tuh udah gede, lagi buat apa ayah khawatir, gue mau nginap disini, lo pulang aja sendiri!"
"Oke fix kita nginap di apart lo, besok kita pindahan" ujar Zaf keluar kamar lalu menutup pintu
Rane tak perduli, saat ini yang ia inginkan hanyalah mandi tubuhnya sudah lengket dan gerah.
Setengah jam berlalu setelah berendam dan mandi, Rane keluar kamar mandi dengan handuknya, ia mengambil pakaian tidurnya dan menggantinya.
Ketukan pintu kamar membuat Rane yang sudah ingin berbaring diranjang terpaksa harus bangun dan membuka pintu.
"Lo gak pulang?"
"Gue sudah bilang ayah kita nginap disini"
"Terserah, lo tidur aja disofa"
"Kenapa harus disofa La? Ranjang lo cukup kok buat kita" unjuk Zaf dengan dagunya kearah tempat tidur Rane.
"Lo tidur sama gue? No Zaf, mana ada teman tidur seranjang"
"Kita kan teman tapi sah" Zaf masuk ke kamar lalu ia duduk diranjang, Zaf membuka jaket yang dipakainya dan kemejanyaa meninggalkan kaos abu ditubuhnya.
"Lo pasti belum mandi kan? Jorok tau gak, mandi sana Zaf!" usir Rane karena melihat baju Zaf yang dipakai dari pagi hari.
"Pinjam handuk dan kaos ada Rane?"
"Huh nyusahin aja" cicit Rane yang masih bisa didengar Zaf. Namun gadid itu tetap mengambilkan kaos polos dan handuk bersih miliknya di lemari.
Zaf tersenyum menatap Rane.
Beberapa menit kemudian Zaf keluar kamar mandi dengan badan yang sudah lebih segar, wangi sabun menguar di kamar membuat Rane yang sibuk dengan layar ponselnya menoleh, menatap laki-laki yang kini sedang menggantung handuk.
"Rane ada sajadah?"
"Hah?"
"Sajadah untuk sholat" Rane menggeleng, Zaf menghela nafas ia membuka lemari Rane tanpa seizin yang punya membuat mata Rane melotot
"Heh mau ngapain lo Zaf"
"Cari sesuatu yang bisa dijadikan alas, slyer mungkin" Zaf membuka lemari matanya melotot melihat pakaian Rane
"Ya allah Rane kenapa berantakan semua begini? Kamu perempuan kan?" Zaf tak habis fikir kamar yang berantakan kini lemari pun amburadul pakaian Rane berantakan apalagi dalaman Rane yang begitu banyak dalam keadaan berantakan semua.
"Biarin. Baru tau kan lo gimana gue, masih mau lo punya istri kaya gue Zaf?"
"Mau ga mau lo tetap istri gue Rane." Rane hanya terdiam mendengar penuturan suami barunya.
Rane menatap suaminya yang kini sedang melaksanakan sholat, laki-laki itu terlihat sangat menganggumkan hati Rane mendadak tentram, ia tak pernah sholat, karena sudah lama juga ia tak pernah dibimbing lagi, terakhir sholat mungkin sekitar sd kelas 1 saat ia sempat sekolah dasar di Indonesia masih bersama nenek dari ibunya.
Setelah sholat Zaf ikut bergabung dengan Rane diranjang, gadis itu masih asik dengan ponselnya, Zaf mengambilnya, membuat Rane kesal hendak berbicara namun ditahan Zaf.
"Dengarin gue Rane, gue mau bicara serius"
"Apa?"
"Pertama gue mau minta ktp lo dan data lainnya, gue mau urus pernikahan kita di KUA besok"
"Wha.."
"Kedua gue mau besok kita pindahan ke rumah ayah, dan kita tinggal bersama disana"
"Za.."
"Diam dan dengarkan dulu Rane. Ketiga gue mau lo jadi istri penurut, mulai besok kita belajar sholat dan mengaji"
"Keempat gue mau mulai besok kita menjalani peran menjadi suami istri beneran dengan diawali jadi teman tapi sah, gue gak akan ngekang lo dan lo masih bisa kuliah seperti biasanya namun masih dengan pengawasan gue"
"Apa? Gila aturan dari mana? Gue gak mau Zaf, dan gue gak mau lo daftarin nikah di KUA" tolak Rane keras, ia tak habis fikir dengan penuturan Zaf
"Gak ada penolakan!"
"Zaf lo ga bisa ngelakuin ini seenak lo Zaf, kita nikah karena terpaksa, dan gak ada cinta dalam pernikahan ini, gue gak kenal lo dan lo gak kenal gue, kita gak bisa jalani pernikahan seperti ini Zaf" ucap Rane dengan nada tinggi ia tak habis fikir dengan Zaf bisa-bisanya ia mengatur seenaknya
"Bisa. Bisa Rane kalau kamu ikhlas menjalani, ini janji aku ke tuhan, bukan perjanjian main-main, aku serius menikahi kamu, aku harap kamu bisa menerima semuanya, ikhlas dan coba menerima aku sebagai suami kamu"
"Gila"
"Tidur Rane" Zaf sudah berbaring sedangkan Rane masih duduk disamping Zaf dengan gerutuannya, gadis itu masih terlihat kesal dan tak terima.
Zaf menarik Rane, hingga gadis itu terlonjak kaget, kini mereka berhadap-hadapan dalam satu ranjang yang sama membuat jantung Rane berdetak begitu kencang secara dadakan, saat menatap wajah Zaf Rane merasakan wajah yang sangat teduh dan enak dipandang.
Zaf tersenyum membuat ketampanan laki-laki itu lebih terpancar, Rane mendadak hanyut dalam pesona Zaf suaminya, mau bagaimanapun ini pertama kalinya Rane satu kamar dengan laki-laki, bahkan berbaring bersama seperti ini, kalau bukan status suami mana mungkin Rane mengizinkan laki-laki tidur bersamanya, senakal-nakalnya Rane ia masih menjaga kehormatannya dengan tak membawa lawan jenis ke kamar.
"Terpesona hem?" seperti tersadar Rane langsung menendang kaki Zaf
"Aduh"
"Pede! cowok ganteng banyak kali"
"Berarti aku termasuk ganteng yang Rane?"
"Dih sok ganteng lo Zaf, awas geseran, siniin gulingnya" ujar Rane menarik guling yang dipeluk Zaf
"Rane"
"Hm"
"Ranella"
"Apa?"
"Kamu cantik"
"Emang, gak usah gombal gak pantes" Rane menarik selimut, Zaf pun ikut bergabung di satu selimut yang sama.
"Selamat malam Ella."
Mereka pun mulai tertidur dengan perasaan yang tanpa di sadari akan tumbuh benih-benih. Cinta datang karena terbiasa. Menyatukan 2 hati yang berbeda. Mereka berdua terpejam namun hati tak bisa dibohongi ada rasa yang mulai menggelitik.
Rane dalam hatinya apakah ia bisa menerima Zaf, laki-laki yang terlihat begitu sederhana yang ditakdirkan datang ke hidupnya.
Sebuah kecupan dan pelukan membuat Rane tersentak namun karena kantuk matanya tak bisa terbuka, membiarkan sebuah lengan besar mulai mendekap tubuhnya, Rane menikmati dekapan suaminya untuk pertama kalinya.Rengkuhan yang mulai memberikan kenyamanan yang tak pernah Rane dapatkan.
"Aku akan menjagamu Ella." bisik Zaf ditelinga istrinya.