"Kak Galih?" Gumam Alessa yang masih berada di pelukannya sambil memandang lekat wajah pria yang dulu pernah sangat dekat dengannya.
Lalu Alessa beserta para sahabatnya pergi membawa Galih ke rumah sakit tanpa peduli lagi dengan Ricky dan Amanda.
Ricky terlihat sangat tidak suka melihat Alessa yang membopong Galih yang sedang terluka, namun karena tidak ingin memperumit keadaan Ricky lebih memilih pergi bersama Ratna yang menariknya pulang.
Galih sedang diobati oleh dokter. Alessa terus menerus meminta maaf karena sudah membuat Galih terluka. Tante Dewi, orang yang sudah seperti ibu Galih, yang merawat Galih sejak kecil sampai sekarang pun mengatakan tidak apa-apa, itu hanya kecelakaan dan menyuruh Alessa berhenti meminta maaf.
Karena penasaran bagaimana Alessa bisa sangat dekat dengan Tante Dewi, Indri pun bertanya pada Maya yang paling lama mengenal Alessa daripada Indri dan Citra.
Maya pun menjawab kalau Tante Dewi memiliki kebun teh di Bandung yang bersebelahan dengan kebun teh milik keluarga Alessa.
Indri pun bertanya lagi "Hmm berarti dia itu teman masa kecil Ale?". Maya pun menjawab "Mereka bukan teman tapi... Hmmm. Panjang ceritanya, lain kali akan kuceritakan." Indri dan Citra pun kecewa dengan jawaban Maya. Maya langsung menarik mereka berdua untuk menyusul Alessa dan Tante Dewi.
"Syukurlah lukanya tidak parah." Ujar Tante Dewi pada Galih yang sudah diobati.
Dengan canggung, Alessa berkata "Terima kasih sudah menyelamatkanku. Kalau tidak aku akan menjadi....."
"Tersangka penyerangan. Sama seperti dulu." Potong Galih.
"Aku juga tidak ingin menjadi seperti itu." Ujar Alessa merasa tidak enak pada Galih karena sudah membuat nya terluka.
"Karena Ale tidak berpikir jernih. Iya kan?" Tanya Galih sambil menahan sakit di perutnya.
"Sudah kubilang bukan teman." Ujar Maya pada Indri dan Citra melihat pertengkaran mereka.
"Aku juga tau kalau aku salah. Tapi kakak tidak tau alasannya."
"Aku tau atau tidak, itu tidaklah penting. Yang penting Ale harus tetap berpikir jernih dan mengontrol emosimu. Harus bijaksana dan berpikir kedepan. Kalau Ale melukai orang lain, Ale akan menjadi tersangka pelaku penyerangan dan masuk penjara. Namun dari yang kakak lihat, Ale tidak melakukan keduanya. Tidak berpikir jernih dan tidak bisa mengontrol emosi."
"Kakak..."
"Dari yang Tante lihat, kalian berdua tidak melakukannya. Galih, kalau kamu sanggup membuat Ale tidak menikam orang lain, kenapa tidak sanggup menghindar?" Ujar Tante Dewi membela Alessa.
"Karena aku tidak sempat menghindar Tan." Jawab Galih.
"Jadi kamu juga kurang berpikir jernih." Ujar Tante Dewi lagi membela Alessa.
Alessa yang tersenyum mendapat pembelaan dari Tante Dewi berkata "Ahhh.. kirain kakak pintar."
"Kalau saja ada yang salah denganmu, bisa tamat garis keturunan kita. Kenapa kamu tidak memikirkan nya?" Ujar Dewi bercanda pada keponakan tersayang.
"Bukannya ini yang dinamakan bodoh, Tan?" Ujar Alessa sambil tersenyum ikut bergabung dengan Tante Dewi.
"Kalau kakak bodoh, sudah kakak biarkan kalian saling menjambak. Dan Ale akan terluka karenanya." Ujar Galih membela dirinya.
Dewi pun kembali bercanda "Oh jadi kamu membantu Ale karena khawatir Ale akan terluka makanya rela terluka demi Ale. Ciee romantis banget."
Galih yang tidak tau harus bagaimana menanggapi perkataan Tantenya membuat Galih jadi salah tingkah.
"Keren sekali Kak Galih. Ganteng, pintar, rela terluka demi orang lain. Benar-benar tipe suami idaman." Puji Citra sambil menatap Galih dengan penuh kekaguman.
"Kalau mengkhawatirkan Ale maka bicaralah baik-baik." Ujar Tante Dewi lagi tak berhenti menggoda Galih.
"Aku? Khawatir dengan Ale? Yang Galih khawatirkan itu adik kelasku. Restoran itu punya adik kelasku, Tan. Kalau ada orang yang tidak berpikir jernih berulah disana sampai ada korban jiwa maka adik kelasku akan susah." Sangkal Galih atas tuduhan Tante Dewi yang mengatakan kalau Galih mengkhawatirkan Alessa walaupun sebenarnya memang iya.
Alessa yang tidak tahan dengan Galih yang mengejeknya saja sedari tadi memilih pergi setelah pamit pada Tante Dewi, yang langsung diikuti oleh Maya, Citra dan Indri.
"Kenapa pergi begitu saja?" Tanya Maya pada Alessa.
"Kau tidak mendengar dia mengejekku saja dari tadi? Sebel kali. Setelah menghilang selama ini, tidak tahu kenapa kembali lagi." Ujar Alessa sambil menatap Galih yang jaraknya lumayan jauh darinya sekarang.
"Tapi dia ganteng kak. Manis lagi." Ujar Citra sambil tersenyum seperti orang bodoh yang langsung mendapat pelototan tajam dari Alessa, Maya dan Indri.
"Kalian berdua benar-benar lucu." Ujar Dewi sambil menghentikan langkahnya. Galih yang tidak tau Dewi berhenti karena sibuk melihat lukanya malah menabrak Dewi.
"Aduhh Tan sakit. Kenapa gak bilang mau berhenti?" Protes Galih.
"Gal, kenapa terus mengganggu Alessa?" Introgasi Dewi pada keponakan nya.
"Karena emosi nya yang buruk. Sejak kecil sampai sekarang, masih saja terus berbuat onar." Jelas Galih pada sang Tante.
Dewi pun menatap tajam wajah tampan keponakannya itu. Galih yang menyadari tatapan tajam Dewi langsung bertanya "Kenapa menatapku seperti itu Tan?"
"Kamu hanya berpura-pura keren. Jelas-jelas ingin membantu Ale supaya tidak terkena masalah tapi tidak ingin mengatakan, malah mencari gara-gara dengannya." Ujar Dewi yang tau jelas maksud Galih.
"Galih hanya ingin membantunya Tan dan mencari gara-gara agar dia tidak berhutang budi dan merasa bersalah. Melihat nya masih bisa marah-marah setelah apa yang dialaminya berarti dia baik-baik saja, Galih juga jadi tenang Tan." Ujar Galih lembut yang membuat Dewi merasa kasihan dengan keponakannya yang masih mencintai wanita yang sama selama lebih dari 10 tahun terakhir.
"Tapi selingkuhan suaminya, cukup keji juga ya Gal. Menurut Tante Alessa tidak hidup bahagia seperti yang selama ini kamu pikirkan." Ujar Dewi yang membuat Galih khawatir dengan Alessa.
Dewi pun mengajak Galih menembus obatnya lalu pulang, namun Galih tidak bisa berhenti khawatir dengan Alessa.
Sementara itu ditempat lain, Hanif sedang menyeret Amanda pergi dari restoran. Setelah tadi Alessa bersama Indri, dan Citra pergi mengantar Galih ke Rumah Sakit. Ratna langsung menarik Ricky pulang kerumah.
"Lepaskan aku, nif. Jangan sentuh aku." Teriak Amanda marah.
"Keluar, pergi sekarang juga. Aku juga tidak Sudi menyentuhmu. Kotor. Jangan mencari gara-gara lagi dengan bosku." Peringatkan Hanif sebelum pergi meninggalkan Amanda yang berteriak-teriak memanggil namanya.
Amanda pun menoleh kebelakang, Tania sudah berdiri dengan angkuhnya.
Amanda pun bertanya pada Tania, mengapa Tania masih disini? Apa Tania masih ingin merasakan tamparannya lagi?
Dengan mengejek, Amanda pun berkata "Kakakmu tidak bisa berbuat apa-apa kepadaku. Hanya mengandalkan mu, apa yang bisa kau perbuat kepadaku?" Ujar Amanda meremehkan Tania.
Sambil tersenyum sinis, Tania pun berjalan mendekati Amanda. "Justru karena kau begitu busuk. Kau bukan tandingan kakakku. Hanya mengandalkan tubuhmu untuk memikat laki-laki. Wanita kotor sepertimu tidak pantas hidup di masyarakat. Karena jika bersamamu, pandangan mata bukan menatap wajahmu tapi menatap barang kepunyaanmu yang ada dibawah." Hina Tania pada Amanda.
"Derajat Kak Alessa jauh lebih tinggi darimu. Bagaimana pun juga, pada akhirnya Kak Ricky akan tetap memilih Kak Alessa. Dasar wanita bodoh." Ujar Tania lagi sambil tersenyum sinis menatap Amanda yang terlihat marah mendengar perkataan nya.
"Aku yang akan menang. Kak Ricky akan memilihku." Teriak Amanda marah.
Sambil tersenyum sinis Tania bertanya "Memangnya Kak Ricky sedang bersamamu sekarang? w************n sepertimu tidak akan bisa mengalahkan kakakku." Ujar Tania sambil mendorong dagu Amanda dengan jari telunjuknya.
Amanda pun marah dan mencoba untuk menampar wajah Tania, namun Tania menangkap tangan Amanda yang hendak memukulnya dengan tangan kirinya. Saat tangan kiri Tania sedang menahan tangan Amanda, tangan kanan Tania menampar wajah Amanda.
Plaakkkkk sekali, plaakkkkk dua kali, plaakkkkk tiga kali, plaakkkkk empat kali, plaakkkkk lima kali. Mendapat tamparan keras yang bertubi-tubi dari Tania membuat Amanda jatuh tersungkur sambil menahan sakit di kedua pipinya.
Setelah puas membalas tamparan Amanda di Restoran tadi. Tania berjalan pergi meninggalkan Amanda yang tidak bisa berbuat apa-apa sambil tersenyum penuh kemenangan.
Tak lama setelah Tania meninggalkan Amanda, Alessa menghubungi Tania karena khawatir tadi Amanda yang menampar wajah Tania berkali-kali tanpa Alessa tahu bahwa Tania baru saja membalas perbuatan Amanda padanya.